Cari Blog Ini

Jumat, 09 November 2018

M JASIN, JEJAK BHAYANGKARA DALAM PERTEMPURAN SURABAYA (Refleksi 73 Tahun Semangat Hari Pahlawan 10 November 1945)



Saoedara-saoedara,
didalam pertempoeran-pertempoeran jang lampaoe, kita sekalian telah menundjukkan bahwa
ra’jat Indonesia di Soerabaja,
pemoeda-pemoeda jang berasal dari Maloekoe,
pemoeda-pemoeda jang berasal dari Soelawesi,
pemoeda-pemoeda jang berasal dari Poelaoe Bali,
pemoeda-pemoeda jang berasal dari Kalimantan,
pemoeda-pemoeda dari seloeroeh Soematera,
pemoeda Atjeh, pemoeda Tapanoeli & seloeroeh pemoeda Indonesia jang ada di Soerabaja ini,
didalam pasoekan-pasoekan mereka masing-masing dengan pasoekan-pasoekan ra’jat jang dibentuk di kampoeng-kampoeng,
telah menoenjoekkan satoe pertahanan jang tidak bisa didjebol,
telah menoenjoekkan satoe kekoeatan sehingga mereka itoe terdjepit di mana-mana…

(salah satu petikan Pidato Bung Tomo, 10 November 1945 di Surabaya)

Peristiwa 10 November 1945 di Kota Surabaya adalah salah satu wujud persatuan dan puncak kegigihan perjuangan bangsa Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan. Berbagai elemen bangsa mulai dari tentara, polisi, ulama, santri, nelayan, petani, tukang becak, buruh dan pedagang bersatu dalam satu barisan melawan tentara Belanda yang membonceng sekutu di Kota Pelabuhan Surabaya. Semua perbedaan latar belakang, dari suku, agama, ras, profesi, kelas sosial dan golongan lebur jadi satu untuk mempertahankan kedaulatan dan martabat bangsa.

Pertempuran Suabaya 1945 merupakan perang terhebat dan terberat dengan ribuan korban pasca bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaan 17 Agustus 1945. Pertempuran yang kemudian dibuat film dengan judul “Battle of Surabaya” berlangsung hampir sebulan, mulai 27 Oktober hingga 20 November 1945. Puncak pertempuran yang terjadi pada tanggal 10 November kemudian ditetapkan menjadi Hari Pahlawan yang diperingati setiap tahun oleh bangsa Indonesia.

Secara kalkulasi militer, Pertempuran Surabaya memang sangat tidak berimbang. Tentara Britania Raya yang tergabung dalam AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies) dibonceng tentara NICA (Netherlands Indies Civil Administration) Belanda. Tentara Sekutu dari Brigade 49 begitu tinggi semangat dan percaya dirinya mendarat di Surabayapada 25 Oktober 1945. “Mereka baru saja mengalahkan pasukan Jepang, dari pertempuran Birma sampai Semenanjung Malaya,” tulis Des Alwi dalam Pertempuran Surabaya November 1945 (2012).

Pasukan pimpinan Brigadir Mallaby yang tiba di Surabaya terdiri dari Batalyon Infanteri Maratha yang terlatih dalam perang kota dan Batalyon Rajputna yang mampu menjadi pasukan penghancur dengan senapan mesinnya. Brigade ini dilengkapi kendaraan lapis baja, angkutan militer juga kesehatan militer. Anggota brigade ini kebanyakan orang-orang India yang berdinas dalam militer Inggris. Mereka yang bersorban biasanya orang Sikh, meski sering dikira Gurkha yang biasanya bermata sipit dan tak bersorban.

Sementara pejuang dari Republik Indonesia sebagian besar adalah tentara rakyat, para pejuang, gerilyawan dan para santri yang tidak terlatih perang. “Orang-orang yang hanya bersenjatakan pisau-pisau belati menyerang tank-tank Sherman.” Dari takaran militer profesional, apa yang dilakukan pasukan para pejuang Surabaya bukan lagi berani tapi nekad. Hingga korban banyak jatuh. Hanya sebagian saja dari mereka yang pernah mendapat latihan militer, baik dari Jepang maupun Belanda, pada masa sebelum perang. (David Wehl dalam Birth of Indonesia (1949) seperti di kutip Ben Anderson dalam Revoloesi Pemoeda).

Sejak pukul 06.00 tanggal 10 November 1045, Inggris memperlihatkan cara perang modernnya pada Indonesia. Kapal-kapal perang Kerajaan Inggis dan juga pesawat armada udara Inggris memuntahkan peluru-pelurunya ke daratan Surabaya. Hingga senja, sepertiga Surabaya sudah diduduki militer Inggris. Tembakan-tembakan itu memudahkan gerakan pasukan Divisi Kelima Inggris untuk menguasai Surabaya yang hampir tiap sudutnya berusaha dipertahankan mati-matian oleh pihak Republik.

“Di pusat kota, pertempuran lebih dasyat, jalan-jalan harus diduduki satu persatu, dari satu pintu ke pintu lainya. Mayat dari manusia, kuda-kuda, dan kucing-kucing serta anjing-anjing bergelimpangan di selokan; gelas-gelas berpecahan, perabot rumah tangga, kawat-kawat telepon bergelantungana di jalan-jalan dan suara pertempuran menggema di tengah-tengah gedung-gedung kantor yang kosong,” tulis David Wehl.

Menurut Merle Calvin Ricklefs, dalam A History of Modern Indonesia Since c.1300, tercatat setidaknya 6.000-16.000 pejuang dari pihak Indonesia tewas dan 200.000 rakyat sipil mengungsi dari Surabaya sebagai imbas dari pertempuran tersebut. Sementara itu, taksiran Woodburn Kirby dalam The War Against Japan (1965), korban dari pihak sekutu sejumlah 600-2.000 tentara.

Meletusnya Pertempuran Surabaya dan Peristiwa 10 November 1945 menggambarkan kegigihan, jiwa kepahlawanan dan semangat persatuan bangsa Indonesia. Berbagai elemen rakyat turut andil dan berkontribusi dalam pertempuran tersebut. Tokoh Ulama dari Jombang yang juga Pendiri Nahdhatul Ulama, KH Hasyim Asy’ari, mengeluarkan Resolusi Jihad 22 Oktober dan memobilisasi para santri untuk turut berjuang mempertahankan kemerdekaan.

Elemen berikutnya dalam kubu pejuang kemerdekaan adalah militer. Jumlah militer Indonesia di Surabaya secara pasti sulit ditemukan di buku-buku sejarah maupun biografi para pelakunya. Ada pihak yang menaksir terdapat sekitar 20 ribu anggota Badan Keamanan Rakyat (BKR). Meski di Yogyakarta sudah diresmikan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) nama BKR masih digunakan di Surabaya. Anggota BKR biasanya bekas PETA, Heiho, KNIL dan pemuda yang tak pernah mendapat latihan militer sama sekali. Sementara jumlah pemuda pejuang di luar BKR diperkirakan mencapai 100 ribu orang. Jadi diperkirakan kekuatan pihak Indonesia mencapai 120 ribu dengan persenjataan tak lebih 50 ribu.

Kemudian yang tidak kalah pentingnya namun jarang terekspose dalam pembicaraan Pertempuran Surabaya adalah keterlibatan Polisi Istimewa yang kemudia menjadi cikal bakal lahirnya Kesatuan Brimob Polri. Polisi Istimewa (PI) yang sekarang bernama Brigade Mobil (Brimob) adalah jelmaan dari CSP (Central Special Police). Apalagi, pada Agustus 1945 itu, hanya Polisi yang masih memegang senjata. Karena, setelah Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu, penguasa Jepang di Indonesia membubarkan tentara PETA dan Heiho, sedangkan senjata mereka dilucuti. Soetamo (Bung Tomo), pemimpin Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia (BPRI) yang juga salah satu pejuang terkemuka dalam peristiwa 10 November 1945 di Surabaya, menyatakan :

“PETA diharapkan dapat mendukung perjuangan di Surabaya tahun 1945 , tetapi PETA membiarkan senjatanya dilucuti oleh Jepang, untung ada Pemuda M. Jasin dengan pasukan-pasukan Polisi Istimewanya yang berbobot tempur mendukung dan mempelopori perjuangan di Surabaya.”- Soetomo (Bung Tomo).

Jenderal TNI Muhammad Wahyu Sudarto – Pelaku 10 November 1945, menyatakan, “Saya hanyalah bagian dari sejarah perjuangan tanah air. Itu pun Cuma di Jawa Timur, khususnya di Surabaya. Sebetulnya pada “Peristiwa Surabaya” ada tokoh yang lebih hebat tetapi di mana kini tidak banyak yang kenal. Namanya Moehammad Jasin, orang Sulawesi Selatan. Jika beliau tidak ada, Surabaya tidak mungkin seperti sekarang. Beliau adalah Komandan Pasukan Polisi Istimewa. Kalau tugas Bung Tomo adalah “memanas-manasi rakyat”, Pak Jasin ini memimpin pasukan tempur”.

Kesatuannya boleh dibilang kecil, cuma beberapa ratus orang saja. Itu sebabnya mereka bergabung dengan rakyat. Kalau rakyat sedang bergerak, di tengah-tengah selalu ada truk atau panser milik Pasukan Polisi Istimewa lengkap dengan senjata mesin. Melihat Rakyat bak gelombang yang tak henti-henti itu, Jepang yang waktu itu sudah kalah dari Pasukan Sekutu menyerah kepada RI dan intinya adalah Pak Jasin.

Pada masa itu hanya Polisi yang memiliki persenjataan sedangkan kesatuan lain tidak ada. Hal ini ditegaskan oleh Jenderal TNI AD SUDARTO ex. TRIP dan pelaku 10 Nop 194, “Omong kosong kalau ada yang mengaku di bulan Agustus 1945 memiliki kesatuan bersenjata. Yang ada pada waktu itu hanya pasukan-pasukan Polisi Istimewa pimpinan M. JASIN, bahkan ia menyatakan bahwa tanpa peran pasukan Polisi Istimewa dibawah pimpinan M. JASIN tidak akan ada peristiwa 10 Nopember 1945.”

Pernyataan itu menunjukkan bahwa jika pertempuran itu berlangsung tanpa dukungan dan kepeloporan Pasukan Polisi Istimewa, niscaya patriotisme perjuangan rakyat di Surabaya tidak akan seheroik apa yang tercatat dalam sejarah. Hal itu juga dikuatkan dalam pidato peresmian Monumen Perjuangan Polisi Republik Indonesia di Surabaya yang disampaikan oleh Pangab RI, Jenderal (TNI) Tri Surtrisno pada 2 Oktober 1988 : “Kekuatan Pasukan Polisi Istimewa pimpinan M. Jasin harus dikaji oleh seluruh bangsa Indonesia.”

Lebih lanjut Jendral (TNI) Tri Sutrisno mengatakan, “Tindakan Inspektur I Moehammad Jasin untuk mempersenjatai Rakyat Pejuang telah memberikan andil yang cukup besar dalam gerak maju para pejuang kemerdekaan di Surabaya, yang kemudian mencapai puncaknya dalam pertempuran heroik di Surabaya tanggal 10 Nopember 1945”.

Hari ini bangsa Indonesia sedang diuji semangat persatuan dan kepahlawanannya untuk meletakkan kepentingan pribadi dan golongan demi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Di era milineal ini musuh bangsa Indonesia bukan lagi penjajah Belanda atau pasukan Sekutu, namun yang menjadi ancaman terbesar adalah maraknya politik identitas, sentiment kelompok, berita-berita hoax, ujaran kebencian dan radikalisme. Di tahun olitik menjelang gelaran Pemilu dan Pilpres 2019 hendaknya seluruh elemen bangsa dapat mengambil pelajaran dan meneladani semangat para pejuang yang mengobarkan Pertempuran Surabaya November 1945.

Selamat Hari Pahlawan 10 November 2018

Arief Luqman El Hakiem
Kepala Brand Image Polri & Partnership pada BINs

Tidak ada komentar:

Posting Komentar