Risalah Ceramah Bapak Kapolri kepada peserta Sespimti polri dikreg Ke 25 T.A. 2016 dan Pasis Sespimmen Polri Dikreg ke 56 T.A. 2016
------------------
1. Pada saat saya menjabat ada serangkaian kebijakan yang dibuat, ada tim yang dibuat untuk bagaimana menguidence membuat arah tujuan polri kedepan paling tidak 5 tahun ke depan siapapun pemimpinnya dan kebetulan saya diberikan amanah saat ini untuk memimpin kapal besar yang bernama polri.
2. Pak riko juga ikut tim, bahkan beliau yang membuat slogannya Promoter, kemudian Ada comander wish dalam paket kebijakan itu, ada comander wish yaitu harapan sekaligus comander instruction, instruksi dari pimpinan yang kemudian diterjemahkan ke dalam 10 aksi prioritas dan 1 quick wins yang terdiri dari 8 item plus 61 program.
3. Promoter ini kalau kita belajar dari ilmu hukum teori bangunan bertingkat ada tingkatan2 aturan hukum dari atas sampai dgn tingkatan ke bawah, Pancasila ada pada posisi puncak kemudian dibawahnya ada UUD 1945 dibawahnya lagi ada UU setelah itu ada PP dst sampai ke Perda. Ini teori sistem bangunan bertingkat pada sistem hukum kita.
4. Kemudian analogi dengan teori bangunan bertingkat itu, kebijakan yang kami buat dengan tim utk menajdi guidence arah kebijakan polri, pembangunan polri kedepan, Pancasilanya itulah yang disebut dengan Promoter. kemudian UUD 45nya yang merupakan bagian inti dari UUD 45 adalah pembukaan analogi dari itu adalah comander wish.
5. Dan kemudian pembukaan dijabarkan lagi dalam pasal pasal saya analogikan dengan 10 aksi prioritas dan 1 quick wins yang terdiri dari 8 item.
6. Kemudian UUD 45 yang berisi pasal pasal itu diterjemahkan lagi menjadi UU yang dalam hal ini saya analogikan dengan 61 program prioritas.
7. Saat ini kita memasuki era demokrasi, saya ingin bertanya pada saat orde baru kita memasuki masa demokrasi atau tidak?
8. Public trust is the matter nowadays, kepercayaan menjadi kunci saat ini. Semua unsur TNI Polri harus melayani masyarakat karena kekuasan berada di tangan rakyat.
9. Kenapa demokrasi terjadi di indonesia tahun 1998?
10. Pers kita lebih berani saat ini, tidak dapat pers dibredel saat ini apabila media resmi dibredel maka akan kena UU Pers.
11. Demokrasi terjadi di indonesia bukan hanya sekedar faktor ekonomi, ekonomi hanya sebagai trigger.
12. Ada hal yg sangat penting yang menyebabkan terjadinya perubahan transisi politik yaitu selesainya perang dingin antara blok barat dan blok timur.
13. Di satu sisi blok timur dipimpin oleh rusia dan china dengan ideologi komunisnya menjadi tumbang dan kalah dengan prcahnya soviet menjadi negara negara kecil.
14. Apa bedanya demokrasi liberal dengan komunis. Point sangat penting sekali utk membuka wawasan kita dimana kita sekarang.
15. Hak kepentinan individual lebih penting daripada hak kepentingan publik.
16. Ideologi komunis berasal dari komun yang berarti komunal atau kumpulan jadi kepentingan komun kepentingan bersama menjadi lebih penting dibanding kepentingan individu.
17. Dalam hal ini komunisme intervensi negara sangat tinggi, di ideologi liberal intervensi negara menjadi sangat minimum oleh karena itulah dikenal dengan kapitalisme dimana market harga ditentukan oleh pasar.
18. Yang digaris bawahi saat ini adalah ideologi komunisme dan ideologi liberal bertanding selama 45 tahun dimenangkan oleh demokrasi liberal dengan berakhirnya perang dingin dengan ditandai kekalahannya blok timur yaitu runtuhnya uni soviet dan terjadinya balkanisasi dengan pecahnya yugoslavia.
19. Politik internasional / dunia adalah anarki, anarki yang dimaksud adalah terjadinya kekacauan karena tidak ada otoritas yang mengatur.
20. Adanya kekacauan karena tidak ada otoritas yang mengatur itu dampaknya adalah terjadinya aksi kekerasan, anarki tidak hanya berarti kekerasan.
21. Otoritas yang ada adalah national state atau negara bangsa yang memiliki otoritas seperti presiden perdana menteri dll.
22. Dunia ini tidak memiliki otoritas tunggal yang memaksa seluruh warga dunia harus mengikuti aturan tersebut.
23. Karena dia anarki maka berlaku hukum rimba siapa yang paling kuat dia akan berkuasa utk berebut memegang hegemoni.
24. Saat ini pemegang hegemoni adalah ideologi paham demokrasi liberal yang mana mereka survive agar paham tersebut diterima oleh seluruh warga dunia.
25. Samirl hatington dan francais fukuyama dalam bukunya yang berjudul the last of man.
26. Samuel hatigton mengatakan ketika perang ideologi selesai maka akan terjadi konflik peradaban dia mengatakan akan muncul 7 peradaban yang melawan peradaban barat.
27. Diantaranya adalah peradaban asia timur dan peradaban islam.
28. Yang kedua adalah francais fukuyama, menjadi anti dari samuel hatington. Dia tidak sependapat dengan samuel hatington yang ada adalah the end of the history. Dimana semua otokrasi akan tumbang dengan demokrasi liberal karena sudah teruji sejak revolusi perancis, negara negara yang menganut demokrasi liberal lebih maju dibanding dengan negara yang tidak menganut demokrasi liberal.
29. Semua elemen negara saat ini harus loyal kepada masyarakat publik atau dikenal dengan public trust, karena pada negara demokrasi kekuatan ada ditangan rakyat.
30. Demikian kuat kekuatan rakyat, oleh karena itu public trust is a matter. Kepercayaan publik adalah kunci.
31. Yang pertama adalah public trust dan yang kedua adalah public concern atau restu publik.
32. Dalam diskusi dialog ini kita menjawab bagaimana pentingnya kepercayaan publik di era saat ini.
33. Saat ini kita berbicara tentang testimoni freddy budiman sumir sekali, tetapi yang berbicara siapa? Yang berbicara civil society.
34. Publik lebih memilih kepada sivil society kontras dibandingkan dengan Polri.
35. Kalau sampai tidak dipercaya publik terus menerus maka akan berbahaya.
36. Terjadinya proses demokratisasi di Indonesia pada tahun 1998 lebih bangak dipengaruhi oleh berakhirnya konflik ideologi barat dan timur.
37. Tahun 98 terjadi perubahan penting dalam sistem politik di Indonesia juga bagi Polri.
38. Tuntutan masyarkat menghendaki polri dipisahkan dari Abri.
39. Tahun 2000 saat itu polri sementara berada di bawah menhankam kemudian berpisah dan berada dibawah presiden.
40. Ekspektasi masyarakat pada polri saat itu tinggi sekali utk mengawal demokrasi, maka dilakukanlah proses proses seperti ditetapkannya Tap MPR polri sebagai penanggung jawab kamtibmas.
41. Ada implikasi organisasi struktural dimana polri dilepaskan dimana polri dibuat menjadi organisasi yang lebih besar dari sebelumnya.
42. Dengan kekuatan 430 ribu Polri menjadi lembaga vertikal yang salah satu terbesar di Indonesia.
43. Anggaran polri saat ini sangat besar yaitu 70 trilyun. Hal ini membuat ekspektasi yang tinggi dari publik ini direalisasikan dengan anggaran yang tinggi jumlah personil yang banyak dll.
44. Tapi selama 16 tahun yang berjalan saat ini trend kepercayaan publik cenderung menurun, bahkan menurut salah satu survei polri menjadi salah satu lembaga paling korup.
45. Kepercayaan yang berkurang akan berimplikasi kepada berkurangnnya kewenangan polri dan merestrukturisasi organisasi polri.
46. Oleh karena itu kita yang saat ini mengemudi kendaraan besar bernama institusi polri, Inilah waktu bagi kita generasi sekarang utk merubah arah pembangunan kita jangan lagi kepada trend menurunnya kepercayaan Publik,namun meningkatkan kepercayaan publik kepada polri itulah comander wish saya.
47. Kinerja kepolisian yang kurang maksimal, pelayanan publik yang kurang simpatik, kemampuan dalam menjaga stabilitas kamtibmas kurang baik.
48. Sejumlah hal hal yang membuat kinerja kurang bagus dan budaya organisasi kurang bagus.
49. Perilaku koruptif masih rentan dan dianggap permisif, arogansi kekuasaan.
50. Pemberitaan media saat ini sangat penting, 429 ribu anggota polri berbuat baik akan tertutup oleh 1 anggota yang berbuat buruk kemudian viral dimedia.
51. Budaya permisif ini harus dikurangi dengan dibuat perkap dimana aturan harus melaporkan melalui LHKPN.
52. Kemudian pembelian barang mewah hanya 2 item saja yaitu properti dan mobil saja.
53. Saya menghimbau kepada kalemdikpol khususnya saya menitipkan agar dari pendidikan sudah diterapkan utk anti korupsi
54. Isi dengan materi korupsi termasuk juga kepada para istri untuk pengarahan tentang korupsi.
55. Saya apresiasi kepada lembaga pendidikan TNI AD akmil disana, ternyata yang ditempatkan disana selama 2 tahun kemudian mendapatkan promosi sehingga tertarik utk menjadi tenaga pendidik.
56. Jadi nanti akan kita bicarakan dengan wandiklat bagaimana dikeluarkan skep kapolri utk menjadi pendidik selama 2 tahun kemudian dipromosikan.
57. Kemudian role model, role model adalah orang yang bisa menjadi panduan karena bekerjanya yang ikhlas. Sosok seperti ini harus diberikan reward dan dibesarkan.
58. Seperti punishment kemarin saya memberikan punishment kepada dir res narkoba bali dan dir res narkoba jabar.
59. Selain itu saya juga memberikan reward seperti pada kasus bom solo saya berikan kepada provos yang menghalangi pelaku bom bunuh diri dengan menaikkan pangkat luar biasa dan tiket langsung sekolah ke setukpa.
60. Penanganan konflik sosial seperti kasus tanjung balai tanah karo dll ini berbanding lurus dengan stabilitas kamtibmas
61. Oleh karena itu kasus kerusuhan massal menjadi atensi, tolong betul2 atensi kasus kasus kontijensi konflik sosial yang akan menjadi masalah.
62. Kasus ini tidak pernah berlangsung spontan pasti melalui eskalasi eskalasi dan melalui proses.
63. Prinsip utamanaya adalah deteksi dini, bagaimana kita memperkuat deteksi dini dan bagaimana kemampuan kita mencegah dengan tahapan tahapan yang ada.
64. Kemudian saya minta agar rekan rekan membuat inovasi dalam mempermudah pelayanan publik.
65. Silahkan inisiatif masing masing utk inovasi pelayanan publik.
66. Reformasi kinerja juga agak lambat, reformasi kinerja dan kultur akan menjadi lebih cepat jika dilaksanakan reformasi SDM, SDM menjadi kunci karena stok kita banyak.
67. SDM ini kuncinya adalah mencari orang orang reformis utk duduk di jabatan strategis yang menentukan citra polri itu kuncinya, jabatan kapolda kapolres direktur dll harus diisi oleh orang reformis.
68. Kriteria orang reformis adalah orang ini dalam pikirannya tidak berfikir mencari uang semata dalam bekerja.
69. Yang reformis adalah yang ia berusaha bekerja dengan baik, memperbaiki organisasi yang dia pimpin dengan baik, dia melakukan perubahan dan kemudian dia bisa mendekat ke bawah dia dicintain dan disayangi anak buahnya, ke samping dia disayangi kawan2nya satuan TNI Pemda sayang kepadanya serta ke Atas sayang dan Respect kepadanya ditambah rajin mendatangi anggota yang dibawah juga rajin turun ke masyarakat untuk berdialog rejeki datangnya belakangan.
70. Jika orang reformis ini ditempatkan pada posisi kunci maka akan menjadi agent of change, menjadi role model maka akan terjadi percepatan perbaikan polri di bidang kinerja dan kultur.
71. Media memiliki peran 60% membangun persepsi publik terhadap institusi apapun juga termasuk polri termasuk entitas apapun juga pemerintahan, civil society dan organisasi masyarakat lainnya.
72. Polisi brengsek dimana mana membuat kesalahan terjadi dimana mana ada masalah di riau di sumut di sulses dll tapi tertutup dengan satu peristiwa tranding topic naik yang dicover terus menerus berjam jam yang dilakukan oleh media yaitu kasus penyekapan yang mana pelakunya berhasil ditangkap dan berakhir happy ending itu membuat citra image polri image publik kepada polri menjadi baik.
73. Manajemen media harus dikelola secara khusus, media saat ini ada dua yaitu media konvensional dan media sosial.
74. Media konvensional metro tv, tv one, elektronik cetak kemudian kompas majalah tempo dll memiliki dampak yang cukup luas di masyarakat tapi mereka dapat disetting dan didikte oleh 4 lapisan.
75. Satu adalah pemilik media, yang kedua adalah pemred, yang ketiga adalah koordinator lapangan/liputan, keempat adalah reporter lapangan, Keempat ini harus digreep.
76. Media sosial ini beberap tahun kedepan akan lebih besar dampaknya dibanding media konvensional dalam mempengaruhi persepsi publik.
77. Karena media konvensional ini dianggap bisa diseting, jadi sosial media ini memiliki dampak yg sangat luar biasa karena tidak memiliki pemilik media.
78. Dia hanya memiliki citizen journalist, setiap orang menjadi jurnalis sendiri.
79. Hal hal yang humanis agar dinaikkan dan hal hal yang negatif di media sosial ditekan terus sampai tertutup.
80. Saya minta kontribusi dari rekan rekan sekalian untuk meningkatkan citra polri.
81. Kontribusi ini tidak cukup hanya dengan para pimpinan, tapi justru ditentukan oleh level level yang terbawah karena mereka langsung yang bersentuhan dengan publik.
82. Saya mohon agar ditularkan pemikiran dan mindset ini kepada anggota dibawah sebanyak banyaknya.
Demikian risalah yang dapat disampaikan untuk menjadi maklum.
Bhayangkara Indonesia News terdaftar pd Departemen Hukum dan HAM RI, Dirjen HAKI No. D. 002016052740. MoU Polri dan Dewan Pers No. 01/dP/MoU/ii/2012, No. 05/ii/2012 tentang Koordinasi dalam Penegakan Hukum dan Kemerdekaan Pers, Pelindung : KaDiv Hukum Polri, Pembina : Kombes. Pol. Drs. Kadarusman, SH, MH, Kombes Pol. (Purn) Drs. Jhon Hendri, SH, MH. Senior Editor : AKBP. Jasa Siagian, SH, MH, AKBP. Bambang Kayun, SH, MH. Pemred : Kasyadi Saputro. Kabid. Brand Image Polri : Arief Luqman El Hakiem
Cari Blog Ini
Selasa, 27 September 2016
Jumat, 23 September 2016
Peran Strategis Netizen Polri
Pentingnya Netizen Polri
Yogyakarta- (23/9/2016) Era post-modernisme ditanda dg bergesernya struktur sosial masyarakat, dimana yg paling berkuasa bukan lagi para pemilik modal, ttp para pemilik informasi.
Pemilik dan pegiat media, baik cetak, elektronik maupun media online adl penguasa sesungguhnya dunia ini. Para wartawan dan jurnalis menempati posisi yg strategis, dimana dia bisa mengendalikan opini massa. Mereka bs menjadikan yg benar mdj salah, dan sebaliknya yg salah jd benar.
Sebuah peristiwa akn smp ke ruang publik, setelah ditulis, direkam dan diunggah oleh para jurnalis. Berita (news) bisa berubah mjd opini (fiews), ketika ditulis oleh jurnalis dg sudut pandang berbeda.
Post-modernisme jg ditandai dg revolusi informasi dan komunikasi dimana, setiap org bisa mengakses informasi apapun pd saat itu jg meski di tempat yg jauh (siaran live). Ini yg disebut era digital. _World wide web_ memungkinkan setiap org mengunggah apapun dan mengakses apapun tanpa bs di filter.
Para pegiat media sosial, yg sering disebut netizen adl kelompok masyarakat baru yg aktif memanfaatkan teknologi internet berbagai dan mengakses informasi. Keberadaan televisi, radio dan koran tegeser dg hadirnya berbagai situs yg menyajikan berita dg lebih cepat, dan menampilkan hiburan dg lebih banyak pilihan.
Bagi sebuah lembaga ato institusi, keberadaan netizen sama pentingnya dg lembaga itu sendiri. Bagi sebuah produk, netizen ini bs diibaratkan spt pelanggan. Bbrapa produk yg modern mjdkan pelanggan sbg aset dg membentuk komunitas pelanggan ato pemakai produk.
Lihatlah produk2 otomotif. Rata2 mereka memelihara komunitas pelanggan nya dg membentuk club. Bahkan, komunitas penggemar Harley Davidson keberadaan nya melebihi pabriknya sendiri.
Dalam konteks institusi polri, keberadaan netizen ini sgt penting dan vital. Hampir sama pentingnya dg institusi polri itu sendiri. Netizen yg tdk berafiliasi dg polri ato cenderung memusuhi bs mjd penyakit yg sgt berbahaya yg membuat institusi polri babak belur dan kerepotan hanya utk meladeni tingkah mereka _para netizen _.
Sdh seharusnya institusi polri menyadari hal ini dan mengelola dg baik komunitas netizen sbg bagian dr organisasi kepolisian. Netizen Polri, berfungsi melebihi fungsi humas. Mereka bertanggung jawab memantau lalu lintas berita, trend dan berita yg mjd viral di medsos.
Mereka berfungsi sbg PR, pembentuk citra dan opini bg institusi polri. Jg berfungsi melakukan conter attack thd berita2 yg menyudutkan dan merusak citra polri.
Kesimpulannya, netizen polri adl komunitas masyarakat sipil sbg bagian tak terpisahkan dr institusi polri yg mjd garda terdepan dlm menampilkan performa polri dan menghadang serangan dr luar.
(Arief Yuswandono /Bharindo News).
Yogyakarta- (23/9/2016) Era post-modernisme ditanda dg bergesernya struktur sosial masyarakat, dimana yg paling berkuasa bukan lagi para pemilik modal, ttp para pemilik informasi.
Pemilik dan pegiat media, baik cetak, elektronik maupun media online adl penguasa sesungguhnya dunia ini. Para wartawan dan jurnalis menempati posisi yg strategis, dimana dia bisa mengendalikan opini massa. Mereka bs menjadikan yg benar mdj salah, dan sebaliknya yg salah jd benar.
Sebuah peristiwa akn smp ke ruang publik, setelah ditulis, direkam dan diunggah oleh para jurnalis. Berita (news) bisa berubah mjd opini (fiews), ketika ditulis oleh jurnalis dg sudut pandang berbeda.
Post-modernisme jg ditandai dg revolusi informasi dan komunikasi dimana, setiap org bisa mengakses informasi apapun pd saat itu jg meski di tempat yg jauh (siaran live). Ini yg disebut era digital. _World wide web_ memungkinkan setiap org mengunggah apapun dan mengakses apapun tanpa bs di filter.
Para pegiat media sosial, yg sering disebut netizen adl kelompok masyarakat baru yg aktif memanfaatkan teknologi internet berbagai dan mengakses informasi. Keberadaan televisi, radio dan koran tegeser dg hadirnya berbagai situs yg menyajikan berita dg lebih cepat, dan menampilkan hiburan dg lebih banyak pilihan.
Bagi sebuah lembaga ato institusi, keberadaan netizen sama pentingnya dg lembaga itu sendiri. Bagi sebuah produk, netizen ini bs diibaratkan spt pelanggan. Bbrapa produk yg modern mjdkan pelanggan sbg aset dg membentuk komunitas pelanggan ato pemakai produk.
Lihatlah produk2 otomotif. Rata2 mereka memelihara komunitas pelanggan nya dg membentuk club. Bahkan, komunitas penggemar Harley Davidson keberadaan nya melebihi pabriknya sendiri.
Dalam konteks institusi polri, keberadaan netizen ini sgt penting dan vital. Hampir sama pentingnya dg institusi polri itu sendiri. Netizen yg tdk berafiliasi dg polri ato cenderung memusuhi bs mjd penyakit yg sgt berbahaya yg membuat institusi polri babak belur dan kerepotan hanya utk meladeni tingkah mereka _para netizen _.
Sdh seharusnya institusi polri menyadari hal ini dan mengelola dg baik komunitas netizen sbg bagian dr organisasi kepolisian. Netizen Polri, berfungsi melebihi fungsi humas. Mereka bertanggung jawab memantau lalu lintas berita, trend dan berita yg mjd viral di medsos.
Mereka berfungsi sbg PR, pembentuk citra dan opini bg institusi polri. Jg berfungsi melakukan conter attack thd berita2 yg menyudutkan dan merusak citra polri.
Kesimpulannya, netizen polri adl komunitas masyarakat sipil sbg bagian tak terpisahkan dr institusi polri yg mjd garda terdepan dlm menampilkan performa polri dan menghadang serangan dr luar.
(Arief Yuswandono /Bharindo News).
Sabtu, 17 September 2016
IWAN BULE ; Kepala Sekolah yang Menjadi Kapolda Metro Jaya
IWAN BULE ; Kepala Sekolah yang Menjadi Kapolda Metro Jaya
JAKARTA- (17/9/2016) Namanya Mochamad Iriawan, biasa dipanggil Iwan Bule. Karena sosoknya yg jangkung, berkulit putih dg hidung mancung, mirip orang bule.
Saya mengenal beliau sejak menjabat sbg Kepala Sekolah di Sekolah Polisi Negara (SPN) Purwokerto dg pangkat Kombes Pol (Komisaris Besar Polisi) pada tahun 2006. Iwan Bule, yg skr menyandang bintang dua dg pangkat Inspektur Jenderal, adalah sosok yg ramah, sederhana dan tdk segan membaur dg berbagai kalangan.
Saya pernah menjadi instruktur beladiri utk siswa2 SPN Purwokerto. Sosok Iwan Bule memiliki kesan tersendiri di kalangan instruktur dan siswa SPN Purwokerto yg sdg menempuh pendidikan kala itu.
Beliau dekat dg para siswa, bahkan tdk jarang bersama ratusan siswa SPN menikmati menu makan sederhana dg piring yg sama. Tak ayal linangan air mata bercucuran dr ratusan siswa SPN yg kala itu didominasi anak2 muda sr Papua.
Iwan Bule berhasil menanamkan kesan kpd para siswa bahwa sekolah polisi itu mengasyikan, bukan menyeramkan. Iwan Bule jg dikenal dekat dan akrab dg kalangan wartawan dan media, baik cetak maupun elektronik. Beliau biasa duduk ngopi bersama para jurnalis dan masyarakat umum sambil menikmati mendoan, makanan khas Banyumas.
Prestasi Iwan Bule, kembali tercatat ketika tanggal 31 Maret 2010 berhasil membawa pulang buronan kasus pajak, Gayus Tambunan, dr Singapura. Dg berbekal foto dan no HP, Iwan Bule dg 7 anggota timnya bergerak mencari, mengikuti dan mengatur strategi utk bs memulangkan buronan.
Keberhasilan Iwan Bule menjadi kado istimewa di hari ulang tahunnya yg tepat jatuh pd tanggal 31 Maret.
Iwan Bule menggunakan pendekatan kemanusiaan dlm mengemban amanah dan cara2 persuasif dlm menyelesaikan setiap persoalan. Ini dibuktikan ketika th 2012 beliau menjabat sbg Kapolda Nusa Tenggara Barat. Ujian terbesar Iwan Bule adl ketika bulan Oktober 2012 terjadi konflik di tiga titik di NTB, yaitu di Lombok Barat, Tengah dan Timur. Padahal sebelumnya Sumbawa jg diguncang konflik antar warga dr desa Roi dan Roka Kabupaten Bima.
Iwan Bule selalu turun ke lapangan dlm mengatasi konflik. Bahkan beliau smp membatalkan presentasi di hadapan presiden SBY demi mengamankan situasi di NTB.
Krn prestasi nya, Iwan Bule diberi kepercayaan menjabat Kapolda Jawa Barat dg pangkat Inspektur Jenderal Polisi. Prestasi terbesarnya di Jabar adl mengamankan jalannya Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asia-Afrika di Bandung, dimana puluhan Kepala Negara, perdana menteri dan tokoh2 penting dunia hadir.
Sebelum memegang tongkat komando Polda Metro Jaya (PMJ), Iwan Bule pernah menjabat sbg Kepala Divisi Hukum Mabes Polri. Saya makin intens komunikasi dan koordinasi, krn sbg penulis dan wartawan media polri yg bernaung dibawah DivKum Mabes Polri, dimana beliau adl pelindung dan pembinanya.
Kini, Kepala Sekolah itu akan memegang amanah yg pernah diemban Jenderal Tito Karnavian, yg skr menjadi Kapolri. Sebuah tanggung jawab yg ringan, krn awal tahun 2017 DKI Jakarta akn menggelar hajat politik, memilih Gubernur utk periode 2017-2022.
Semoga saudara, abang dan senior, Irjen. Pol. Drs. Mochamad Iriawan, SH, MM, MH mampu mengemban tugas dg amanah, membawa ibu kota aman tentram dan damai. Selamat Bertugas Jenderal..
(Arif Yuswandono / Bharindo News).
JAKARTA- (17/9/2016) Namanya Mochamad Iriawan, biasa dipanggil Iwan Bule. Karena sosoknya yg jangkung, berkulit putih dg hidung mancung, mirip orang bule.
Saya mengenal beliau sejak menjabat sbg Kepala Sekolah di Sekolah Polisi Negara (SPN) Purwokerto dg pangkat Kombes Pol (Komisaris Besar Polisi) pada tahun 2006. Iwan Bule, yg skr menyandang bintang dua dg pangkat Inspektur Jenderal, adalah sosok yg ramah, sederhana dan tdk segan membaur dg berbagai kalangan.
Saya pernah menjadi instruktur beladiri utk siswa2 SPN Purwokerto. Sosok Iwan Bule memiliki kesan tersendiri di kalangan instruktur dan siswa SPN Purwokerto yg sdg menempuh pendidikan kala itu.
Beliau dekat dg para siswa, bahkan tdk jarang bersama ratusan siswa SPN menikmati menu makan sederhana dg piring yg sama. Tak ayal linangan air mata bercucuran dr ratusan siswa SPN yg kala itu didominasi anak2 muda sr Papua.
Iwan Bule berhasil menanamkan kesan kpd para siswa bahwa sekolah polisi itu mengasyikan, bukan menyeramkan. Iwan Bule jg dikenal dekat dan akrab dg kalangan wartawan dan media, baik cetak maupun elektronik. Beliau biasa duduk ngopi bersama para jurnalis dan masyarakat umum sambil menikmati mendoan, makanan khas Banyumas.
Prestasi Iwan Bule, kembali tercatat ketika tanggal 31 Maret 2010 berhasil membawa pulang buronan kasus pajak, Gayus Tambunan, dr Singapura. Dg berbekal foto dan no HP, Iwan Bule dg 7 anggota timnya bergerak mencari, mengikuti dan mengatur strategi utk bs memulangkan buronan.
Keberhasilan Iwan Bule menjadi kado istimewa di hari ulang tahunnya yg tepat jatuh pd tanggal 31 Maret.
Iwan Bule menggunakan pendekatan kemanusiaan dlm mengemban amanah dan cara2 persuasif dlm menyelesaikan setiap persoalan. Ini dibuktikan ketika th 2012 beliau menjabat sbg Kapolda Nusa Tenggara Barat. Ujian terbesar Iwan Bule adl ketika bulan Oktober 2012 terjadi konflik di tiga titik di NTB, yaitu di Lombok Barat, Tengah dan Timur. Padahal sebelumnya Sumbawa jg diguncang konflik antar warga dr desa Roi dan Roka Kabupaten Bima.
Iwan Bule selalu turun ke lapangan dlm mengatasi konflik. Bahkan beliau smp membatalkan presentasi di hadapan presiden SBY demi mengamankan situasi di NTB.
Krn prestasi nya, Iwan Bule diberi kepercayaan menjabat Kapolda Jawa Barat dg pangkat Inspektur Jenderal Polisi. Prestasi terbesarnya di Jabar adl mengamankan jalannya Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asia-Afrika di Bandung, dimana puluhan Kepala Negara, perdana menteri dan tokoh2 penting dunia hadir.
Sebelum memegang tongkat komando Polda Metro Jaya (PMJ), Iwan Bule pernah menjabat sbg Kepala Divisi Hukum Mabes Polri. Saya makin intens komunikasi dan koordinasi, krn sbg penulis dan wartawan media polri yg bernaung dibawah DivKum Mabes Polri, dimana beliau adl pelindung dan pembinanya.
Kini, Kepala Sekolah itu akan memegang amanah yg pernah diemban Jenderal Tito Karnavian, yg skr menjadi Kapolri. Sebuah tanggung jawab yg ringan, krn awal tahun 2017 DKI Jakarta akn menggelar hajat politik, memilih Gubernur utk periode 2017-2022.
Semoga saudara, abang dan senior, Irjen. Pol. Drs. Mochamad Iriawan, SH, MM, MH mampu mengemban tugas dg amanah, membawa ibu kota aman tentram dan damai. Selamat Bertugas Jenderal..
(Arif Yuswandono / Bharindo News).
Sabtu, 10 September 2016
Mental Pecundang
MENTAL PECUNDANG
YOGYAKARTA- (10/9/2016) Saya ingin mengomentari stts FB saudara Kamaruddin Simanjuntak, SH, Advokat Jakarta, yg diunggah pd 19 Agustus 2016 pk 07.39, dg judul *Polisi Republik Indonesia Swasta*. Dia menceritakan ttg seorang pria yg membantu mengatur lalulintas di wilayah Kebon Jeruk, Jakarta Barat, tepatnya di pertigaan ganda, mendekati jembatan menanjak fly over Kemanggisan, di Jalan Arjuna Utara.
Sbg konsultan dan wartawan, sy mengapresiasi tulisan tsb. Namun nampak sekali bahwa sdr Kamaruddin Simanjuntak, SH tdk fair dan tdk obyektif dlm mengulas sosok pria pengatur lalu lintas tsb, qt sering menyebutnya "Pak Ogah". Tulisannya tendensius dan memojokkan institusi Polri.
Sbg pembanding, sy jg memiliki pengalaman pribadi ttg sosok Pak Ogah spt yg diceritakan sdr Kamaruddin Simanjuntak. Sy tinggal di kawasan Depok. Utk smp ke kantor di bilangan Tebet, seringkali sy melewati sepanjang Jalan Juanda, Margonda, Lenteng Agung, Pasar Minggu, Kalibata, Pancoran hgg Tebet. Di sepanjang jalan tsb ada bbrapa gang dan celah trotoar di tengah jalan utk putar arah yg dijaga satu dua Pak Ogah.
Keberadaan para Pak Ogah ini memang membantu, tp kadang mereka terasa curang dan arogan dg lebih mengutamakan pengendara yg belok ato putar arah dr pd pengendara yg ambil jalan lurus, dipastikan krn tips yg diterima.
Dr sekian banyak Pak Ogah yg ada di kawasan Jabodetabek, brp yg tulus sungguh2 membantu, dan brp yg krn motif ekonomi? Bahkan di bbrp tempat, kumpulan Pak Ogah ini diorganisir oleh para mafia ato preman setempat yg menguasai titik2 tertentu, dan pembagian kerjanya model sift.
Aparat kepolisian bukannya tdk tau soal keberadaan mereka. Dg alasan keterbatasan personil polantas dan faktor penghidupan, maka keberadaan para Pak Ogah tsb sengaja dibiarkan. Bahkan di bbrp tempat dibina dan dikontrol, mereka biasa disebut Bantuan Polisi (Banpol). Nanti kalau dihilangkan sama sekali komentar masyarakat akn negatif thd polri, "Orang cari uang kug dilarang", "Mematikan sumber penghidupan masyarakat", dsb. Serba salah.
Mana yg lebih banyak? Pak Ogah yg tulus membantu pengguna jalan, ato Pak Ogah yg memanfaatkan kesempatan dlm kemacetan, spt yg sering terjadi dlm proyek perbaikan jalan dan jembatan? Satu Pak Ogah baik menutup ratusan Pak Ogah nakal yg kadang menggunakan hasil pendapatannya utk miras dan lainnya.
Sementara, mana yg lebih banyak? Polisi yg nakal dan curang dibanding polisi baik dan jujur yg bekerja sungguh2 melayani masyarakat. Brp kali Anda mengalami dan menemui polisi yg bertindak nakal? Satu polisi jahat menutup ribuan polisi baik yg bekerja dan ttp terjaga di saat masyarakat terlelap.
Kemudian soal, polisi yg istrahat di warung ato berteduh di bawah pohon. Brp menit Anda melihat mereka beristirahat dan brp menit Anda melihat mereka berpanas2an bercampur asap knalpot, mengatur lalulintas, sementara Anda nyaman adem di mobil ber-AC ?
Lalu berkaitan dg polantas yg spt ngumpet utk menjebak pelanggar lalu lintas. Brp kali Anda melihat yg spt ini? Cara tsb mungkin salah, tp seandainya Anda tertib dg surat2 kendaraan lengkap, memakai jalan dg benar apakah Anda akan ditilang? Yg takut dan merasa terjebak adl mereka yg melanggar. Orang salah masih membela diri dg menanyakan surat tugas, papan razia, form biru dsb.
Sdr Kamaruddin Simanjuntak pasti sering melancong ke luar negeri. Lihat di Malaysia, Eropa dan Amerika. Di negara2 tsb bukan lagi polantas yg sembunyi, tp CCTV yg tersembunyi yg mengawasi pengguna jalan. Setiap pelanggan akn dikenakan denda yg ditambahkan pd saat membayar pajak, ato tagihan surat tilang dianter ke rumah. Apakah masyarakat Indonesia sdh siap?
Ttg polisi yg terkesan obral surat tilang dan suka jalan damai 86 di jalan. Terus terang saja, siapa yg memulai? Bukankah kebanyakan org Indonesia suka melanggar peraturan lalulintas? Lihat saja jalur busway yg penuh spd motor dan mobil pribadi. Masyarakat qt sgt rendah kesadaran berlalu lintas nya. Ketika mereka kena tilang, reaksi pertama adl "ngeyel" dan membeli diri. Jk sdh mentok mereka menolak sidang dan menawarkan damai di tempat. Mental Pecundang...😫
Sdr Kamaruddin Simanjuntak mengkritik habis institusi kepolisian, tp lupa bercermin pd profesi nya. Mungkin benar, banyak oknum polisi yg bs disuap dan memainkan pasal. Tp siapa yg memulai? Bukankah kebanyakan pengacara yg memulai lobi ke para penyidik utk meringankan hukuman kliennya, kalo perlu membebaskan sama sekali.
Bahkan ketika kasus sdh smp di meja persidangan, ketika polisi sdh tdk bs berbuat apa2, para advokat masih giat melobi jaksa dan hakim utk memenangkan kliennya. Jujur saja, apa motif sesungguhnya para advokat. Memang masih ada advokat yg jujur dan baik, tp berapa? Bandingkan dg advokat yg memiliki prinsip "Maju Tak Gentar Membela yang Bayar". Bukankah parameter kehebatan seorang advokat adl ketika ia memenangkan perkara? Makin sering menang, makin mahal tarifnya.
Dg memanfaatkan celah kelemahan hukum materiil, seorang advokat bs membebaskan seseorang, meski benar2 tlah melakukan tindak pidana. Ketika tdk ada saksi dan barang bukti yg mencukupi, maka bebaslah terdakwa dr ancaman penjara.
Kebanyakan pengacara yg merayu dan menyuap para penyidik, tp mereka yg kemudian menjelek2an institusi kepolisian. Manis di depan, menggunting di belakang. Bukankah ini yg disebut Mental Pecundang...
Menolak suap dianggap kaku dan tdk mau kompromi, menerima suap disebut rakus dan makan uang haram. Hadehhhhh...
Akhirnya, sy mengajak seluruh anak bangsa, apapun profesi nya, baik itu anggota polisi, advokat, masyarakat, PNS, mulailah perbaiki diri sendiri, koreksi diri sblm mencaci maki, berkomitmen lah pd profesi qt, jgn saling menyalahkan dan melemahkan, setiap qt punya kontribusi yg sama utk merusak ato memperbaiki bangsa ini.
Mari bergandengan tangan, bahu membahu utk Indonesia yg lebih baik. 71 th sudah atas nama bangsa Indonesia, Soekarno-Hatta membaca teks proklamasi. Sdh saatnya Indonesia mjd bangsa yg besar, maju dan bermartabat. MERDEKAAA...
#PromoterPolri
#PolriBagiNegeri
#HaloDunia
#KopiPojok
Salam Damai Indonesia Koe (Arief Yuswandono /Bharindo News).
YOGYAKARTA- (10/9/2016) Saya ingin mengomentari stts FB saudara Kamaruddin Simanjuntak, SH, Advokat Jakarta, yg diunggah pd 19 Agustus 2016 pk 07.39, dg judul *Polisi Republik Indonesia Swasta*. Dia menceritakan ttg seorang pria yg membantu mengatur lalulintas di wilayah Kebon Jeruk, Jakarta Barat, tepatnya di pertigaan ganda, mendekati jembatan menanjak fly over Kemanggisan, di Jalan Arjuna Utara.
Sbg konsultan dan wartawan, sy mengapresiasi tulisan tsb. Namun nampak sekali bahwa sdr Kamaruddin Simanjuntak, SH tdk fair dan tdk obyektif dlm mengulas sosok pria pengatur lalu lintas tsb, qt sering menyebutnya "Pak Ogah". Tulisannya tendensius dan memojokkan institusi Polri.
Sbg pembanding, sy jg memiliki pengalaman pribadi ttg sosok Pak Ogah spt yg diceritakan sdr Kamaruddin Simanjuntak. Sy tinggal di kawasan Depok. Utk smp ke kantor di bilangan Tebet, seringkali sy melewati sepanjang Jalan Juanda, Margonda, Lenteng Agung, Pasar Minggu, Kalibata, Pancoran hgg Tebet. Di sepanjang jalan tsb ada bbrapa gang dan celah trotoar di tengah jalan utk putar arah yg dijaga satu dua Pak Ogah.
Keberadaan para Pak Ogah ini memang membantu, tp kadang mereka terasa curang dan arogan dg lebih mengutamakan pengendara yg belok ato putar arah dr pd pengendara yg ambil jalan lurus, dipastikan krn tips yg diterima.
Dr sekian banyak Pak Ogah yg ada di kawasan Jabodetabek, brp yg tulus sungguh2 membantu, dan brp yg krn motif ekonomi? Bahkan di bbrp tempat, kumpulan Pak Ogah ini diorganisir oleh para mafia ato preman setempat yg menguasai titik2 tertentu, dan pembagian kerjanya model sift.
Aparat kepolisian bukannya tdk tau soal keberadaan mereka. Dg alasan keterbatasan personil polantas dan faktor penghidupan, maka keberadaan para Pak Ogah tsb sengaja dibiarkan. Bahkan di bbrp tempat dibina dan dikontrol, mereka biasa disebut Bantuan Polisi (Banpol). Nanti kalau dihilangkan sama sekali komentar masyarakat akn negatif thd polri, "Orang cari uang kug dilarang", "Mematikan sumber penghidupan masyarakat", dsb. Serba salah.
Mana yg lebih banyak? Pak Ogah yg tulus membantu pengguna jalan, ato Pak Ogah yg memanfaatkan kesempatan dlm kemacetan, spt yg sering terjadi dlm proyek perbaikan jalan dan jembatan? Satu Pak Ogah baik menutup ratusan Pak Ogah nakal yg kadang menggunakan hasil pendapatannya utk miras dan lainnya.
Sementara, mana yg lebih banyak? Polisi yg nakal dan curang dibanding polisi baik dan jujur yg bekerja sungguh2 melayani masyarakat. Brp kali Anda mengalami dan menemui polisi yg bertindak nakal? Satu polisi jahat menutup ribuan polisi baik yg bekerja dan ttp terjaga di saat masyarakat terlelap.
Kemudian soal, polisi yg istrahat di warung ato berteduh di bawah pohon. Brp menit Anda melihat mereka beristirahat dan brp menit Anda melihat mereka berpanas2an bercampur asap knalpot, mengatur lalulintas, sementara Anda nyaman adem di mobil ber-AC ?
Lalu berkaitan dg polantas yg spt ngumpet utk menjebak pelanggar lalu lintas. Brp kali Anda melihat yg spt ini? Cara tsb mungkin salah, tp seandainya Anda tertib dg surat2 kendaraan lengkap, memakai jalan dg benar apakah Anda akan ditilang? Yg takut dan merasa terjebak adl mereka yg melanggar. Orang salah masih membela diri dg menanyakan surat tugas, papan razia, form biru dsb.
Sdr Kamaruddin Simanjuntak pasti sering melancong ke luar negeri. Lihat di Malaysia, Eropa dan Amerika. Di negara2 tsb bukan lagi polantas yg sembunyi, tp CCTV yg tersembunyi yg mengawasi pengguna jalan. Setiap pelanggan akn dikenakan denda yg ditambahkan pd saat membayar pajak, ato tagihan surat tilang dianter ke rumah. Apakah masyarakat Indonesia sdh siap?
Ttg polisi yg terkesan obral surat tilang dan suka jalan damai 86 di jalan. Terus terang saja, siapa yg memulai? Bukankah kebanyakan org Indonesia suka melanggar peraturan lalulintas? Lihat saja jalur busway yg penuh spd motor dan mobil pribadi. Masyarakat qt sgt rendah kesadaran berlalu lintas nya. Ketika mereka kena tilang, reaksi pertama adl "ngeyel" dan membeli diri. Jk sdh mentok mereka menolak sidang dan menawarkan damai di tempat. Mental Pecundang...😫
Sdr Kamaruddin Simanjuntak mengkritik habis institusi kepolisian, tp lupa bercermin pd profesi nya. Mungkin benar, banyak oknum polisi yg bs disuap dan memainkan pasal. Tp siapa yg memulai? Bukankah kebanyakan pengacara yg memulai lobi ke para penyidik utk meringankan hukuman kliennya, kalo perlu membebaskan sama sekali.
Bahkan ketika kasus sdh smp di meja persidangan, ketika polisi sdh tdk bs berbuat apa2, para advokat masih giat melobi jaksa dan hakim utk memenangkan kliennya. Jujur saja, apa motif sesungguhnya para advokat. Memang masih ada advokat yg jujur dan baik, tp berapa? Bandingkan dg advokat yg memiliki prinsip "Maju Tak Gentar Membela yang Bayar". Bukankah parameter kehebatan seorang advokat adl ketika ia memenangkan perkara? Makin sering menang, makin mahal tarifnya.
Dg memanfaatkan celah kelemahan hukum materiil, seorang advokat bs membebaskan seseorang, meski benar2 tlah melakukan tindak pidana. Ketika tdk ada saksi dan barang bukti yg mencukupi, maka bebaslah terdakwa dr ancaman penjara.
Kebanyakan pengacara yg merayu dan menyuap para penyidik, tp mereka yg kemudian menjelek2an institusi kepolisian. Manis di depan, menggunting di belakang. Bukankah ini yg disebut Mental Pecundang...
Menolak suap dianggap kaku dan tdk mau kompromi, menerima suap disebut rakus dan makan uang haram. Hadehhhhh...
Akhirnya, sy mengajak seluruh anak bangsa, apapun profesi nya, baik itu anggota polisi, advokat, masyarakat, PNS, mulailah perbaiki diri sendiri, koreksi diri sblm mencaci maki, berkomitmen lah pd profesi qt, jgn saling menyalahkan dan melemahkan, setiap qt punya kontribusi yg sama utk merusak ato memperbaiki bangsa ini.
Mari bergandengan tangan, bahu membahu utk Indonesia yg lebih baik. 71 th sudah atas nama bangsa Indonesia, Soekarno-Hatta membaca teks proklamasi. Sdh saatnya Indonesia mjd bangsa yg besar, maju dan bermartabat. MERDEKAAA...
#PromoterPolri
#PolriBagiNegeri
#HaloDunia
#KopiPojok
Salam Damai Indonesia Koe (Arief Yuswandono /Bharindo News).
Kamis, 08 September 2016
The Power of Giving
*The Power of Giving*
Fenomena Netizen Polri
💝Ada seorang anak berumur belasan tahun bernama Clark yang pada suatu malam akan menonton sirkus bersama ayahnya.
💝Ketika tiba di loket, Clark dan Ayahnya mengantri di belakang serombongan keluarga besar yang terdiri dari Bapak, Ibu dan 8 orang anaknya.
💝Keluarga tadi terlihat bahagia malam itu dapat menonton sirkus.
Dari pembicaraan yang terdengar oleh Clark dan Ayahnya, ...Clark tahu bahwa Bapak ke-8 anak tadi telah bekerja ekstra untuk dapat mengajak anak-anaknya menonton sirkus malam itu.
💝Namun, ketika sampai di loket dan hendak membayar, wajah Bapak 8 anak tadi nampak pucat pasi.
💝Ternyata uang 40 dollar yang telah dikumpulkannya dengan susah payah, tidak cukup untuk membayar tiket untuk 2 orang dewasa dan 8 anak yang total harganya 60 dollar.
💝Pasangan suami istri itu pun saling berbisik, bagaimana harus mengatakan kepada anak2 mereka bahwa malam itu mereka "batal " nonton sirkus karena uangnya kurang.
Sementara anak2 nya tampak begitu gembira dan sudah tidak sabar untuk segera masuk ke sirkus.
💝Tiba2 Ayah Clark menyapa Bapak 8 anak tadi dan berkata:
“Maaf Pak, uang ini tadi jatuh dari saku Bapak”,
sambil menjulurkan lembaran 20 dollar dan mengedipkan sebelah matanya.
💝Bapak 8 anak tadi takjub dengan apa yang dilakukan Ayah Clark.
Dengan mata berkaca-kaca, ia menerima uang tadi dan mengucapkan terima kasih kepada Ayah Clark, dan menyatakan betapa 20 dollar tadi sangat berarti bagi keluarganya.
💝Tiket seharga 60 dollar pun terbayar dan dengan riang gembira keluarga besar itu pun segera masuk ke dalam sirkus.
💝Setelah rombongan tadi masuk, Clark dan Ayahnya segera bergegas pulang.
💝Ya, mereka batal nonton sirkus, karena uang Ayah Clark sudah diberikan kepada Bapak 8 anak tadi.
💝Malam itu, Clark merasa sangat bahagia.
Ia tidak dapat menyaksikan sirkus, tapi telah menyaksikan dua orang Ayah hebat.
💝Kebahagiaan tidak hanya diperoleh ketika menerima pemberian orang, tapi juga pada saat memberi.
💝Ayah Clark telah memberi contoh yang baik kepada anaknya untuk menolong orang dengan cara yang sangat halus dan tidak menurunkan harga diri orang yang ditolong.
🌏 Dunia ini terus berputar, ada kalanya menolong dan adakalanya juga memerlukan pertolongan dari orang.
💖Pertolongan tidak selalu dalam bentuk uang tetapi bisa dalam bentuk-bentuk yang lain yang mungkin saat ini tak terpikirkan.
💗Selama masih ada kesempatan untuk menolong sesama, marilah menolong dengan ikhlas dan tidak berharap imbalan.
Hubungan polri dan netizen layaknya dua orang ayah dlm cerita diatas, mungkin mereka tdk saling mengenal. Tp mereka punya niat yg sama, yaitu melayani dan membahagiakan anak2nya /masyarakat.
Polisi menghadapi hujatan dan cacian. Mereka jarang mndpt pujian utk pengabdian dan pengorbanan yg mereka lakukan.
Para netizen pun bukan tanpa ujian. Tdk jarang para netizen diserang dan dianggap tenaga bayaran. Tuduhan penjilat, cari muka dan lebih ekstrem disebut "anjing" aparat, kerap menghampiri.
Polisi dan netizen adl sama2 ayah utk anak-anak mereka, yakni masyarakat dan orang2 disekitarnya. Meski tdk saling kenal, bahkan tdk perlu saling kenal, namun punya hati dan pikiran yg sama. Kebahagiaan dan kepuasan anak2 tercinta, masyarakat dan rakyat Indonesia.
#PolriBagiNegeri
#PromoterPolri
#HaloDunia
#KopiPojok
Arif Yuswandono (Bharindo News).
Fenomena Netizen Polri
💝Ada seorang anak berumur belasan tahun bernama Clark yang pada suatu malam akan menonton sirkus bersama ayahnya.
💝Ketika tiba di loket, Clark dan Ayahnya mengantri di belakang serombongan keluarga besar yang terdiri dari Bapak, Ibu dan 8 orang anaknya.
💝Keluarga tadi terlihat bahagia malam itu dapat menonton sirkus.
Dari pembicaraan yang terdengar oleh Clark dan Ayahnya, ...Clark tahu bahwa Bapak ke-8 anak tadi telah bekerja ekstra untuk dapat mengajak anak-anaknya menonton sirkus malam itu.
💝Namun, ketika sampai di loket dan hendak membayar, wajah Bapak 8 anak tadi nampak pucat pasi.
💝Ternyata uang 40 dollar yang telah dikumpulkannya dengan susah payah, tidak cukup untuk membayar tiket untuk 2 orang dewasa dan 8 anak yang total harganya 60 dollar.
💝Pasangan suami istri itu pun saling berbisik, bagaimana harus mengatakan kepada anak2 mereka bahwa malam itu mereka "batal " nonton sirkus karena uangnya kurang.
Sementara anak2 nya tampak begitu gembira dan sudah tidak sabar untuk segera masuk ke sirkus.
💝Tiba2 Ayah Clark menyapa Bapak 8 anak tadi dan berkata:
“Maaf Pak, uang ini tadi jatuh dari saku Bapak”,
sambil menjulurkan lembaran 20 dollar dan mengedipkan sebelah matanya.
💝Bapak 8 anak tadi takjub dengan apa yang dilakukan Ayah Clark.
Dengan mata berkaca-kaca, ia menerima uang tadi dan mengucapkan terima kasih kepada Ayah Clark, dan menyatakan betapa 20 dollar tadi sangat berarti bagi keluarganya.
💝Tiket seharga 60 dollar pun terbayar dan dengan riang gembira keluarga besar itu pun segera masuk ke dalam sirkus.
💝Setelah rombongan tadi masuk, Clark dan Ayahnya segera bergegas pulang.
💝Ya, mereka batal nonton sirkus, karena uang Ayah Clark sudah diberikan kepada Bapak 8 anak tadi.
💝Malam itu, Clark merasa sangat bahagia.
Ia tidak dapat menyaksikan sirkus, tapi telah menyaksikan dua orang Ayah hebat.
💝Kebahagiaan tidak hanya diperoleh ketika menerima pemberian orang, tapi juga pada saat memberi.
💝Ayah Clark telah memberi contoh yang baik kepada anaknya untuk menolong orang dengan cara yang sangat halus dan tidak menurunkan harga diri orang yang ditolong.
🌏 Dunia ini terus berputar, ada kalanya menolong dan adakalanya juga memerlukan pertolongan dari orang.
💖Pertolongan tidak selalu dalam bentuk uang tetapi bisa dalam bentuk-bentuk yang lain yang mungkin saat ini tak terpikirkan.
💗Selama masih ada kesempatan untuk menolong sesama, marilah menolong dengan ikhlas dan tidak berharap imbalan.
Hubungan polri dan netizen layaknya dua orang ayah dlm cerita diatas, mungkin mereka tdk saling mengenal. Tp mereka punya niat yg sama, yaitu melayani dan membahagiakan anak2nya /masyarakat.
Polisi menghadapi hujatan dan cacian. Mereka jarang mndpt pujian utk pengabdian dan pengorbanan yg mereka lakukan.
Para netizen pun bukan tanpa ujian. Tdk jarang para netizen diserang dan dianggap tenaga bayaran. Tuduhan penjilat, cari muka dan lebih ekstrem disebut "anjing" aparat, kerap menghampiri.
Polisi dan netizen adl sama2 ayah utk anak-anak mereka, yakni masyarakat dan orang2 disekitarnya. Meski tdk saling kenal, bahkan tdk perlu saling kenal, namun punya hati dan pikiran yg sama. Kebahagiaan dan kepuasan anak2 tercinta, masyarakat dan rakyat Indonesia.
#PolriBagiNegeri
#PromoterPolri
#HaloDunia
#KopiPojok
Arif Yuswandono (Bharindo News).
Selasa, 06 September 2016
1 Kesalahan Menutupi 9 Kebaiakan
1 Kesalahan Menutupi 9 Kebenaran
Yogyakarta- (6
/9/2016) Suatu hari pak guru menulis ini di _whiteboard_ :
9×1=7
9×2=18
9×3=27
9×4=36
9×5=45
9×6=54
9×7=63
9×8=72
9×9=81
9×10=90
9×2=18
9×3=27
9×4=36
9×5=45
9×6=54
9×7=63
9×8=72
9×9=81
9×10=90
Ketika pak guru telah menyelesaikan tulisannya, ia kemudian menatap para muridnya. Tak lama setelah itu mereka mulai menertawakannya. Hal itu, karena hasil perhitungan yang paling atas adalah *salah*.
Kemudian pak guru berkata :
*_"Saya sengaja menulis hasil perhitungan yang salah, dengan satu tujuan. Yakni, saya ingin kalian belajar sesuatu dari kejadian ini._*
*_Saya ingin kalian tahu bagaimana dunia ini memperlakukan kita. Kalian kan sudah melihat bahwa saya menuliskan hal yang benar sebanyak 9 kali. Tapi tak ada satupun dari kalian yang memberi selamat atau pujian kepada saya. Kalian malah menertawakan saya hanya untuk satu kesalahan saja."_*
Hidup ini jarang sekali mengapresiasi hal hal baik yang kita lakukan jutaan kali sekalipun.
Hidup ini justru akan mengkritisi satu saja kesalahan kecil yang kita lakukan.
*Tapi kita tak perlu berkecil hati. Teruslah melangkah.*
Jangan takut berbuat salah. Jangan risaukan apa yang akan orang lain katakan tentang kita.
Jadikan kesalahan sbg pembelajaran dan perbaikan kualitas yg lebih baik.
Jangan takut berbuat salah. Jangan risaukan apa yang akan orang lain katakan tentang kita.
Jadikan kesalahan sbg pembelajaran dan perbaikan kualitas yg lebih baik.
Sahabat Tri Brata di seluruh Indonesia, sadarilah dan mengertilah bahwa sebesar apapun kebaikan dan pengorbanan Anda, akn tertutup dg satu kesalahan yg Anda perbuat. Masyarakat menuntut *polisi tdk boleh salah*, padahal salah adl sifat manusia. Sementara polisi jg manusia yg punya rasa dan punya hati.
Ttplah semangat dan ikhlas melayani dan mengayomi, yakinlah bahwa tugas Anda suci dan mulia.
_selamat mengabdi dan melayani_
Semoga Allah SWT senantiasa memberi hidayah kita sehingga sukses dan berkah bisa Bertumbuh Terus.
#PromoterPolri
#PolriBagiNegeri
Salam Kemerdekaan (Arif Yuswandono /Bharindo News)
Langganan:
Komentar (Atom)



