Cari Blog Ini

Kamis, 17 Januari 2019

Loot a Burning House

Ilustrasi "Loot a Burning House"



"Rampok rumah yang kebakaran !", strategy ke 5 dari strategy perang kuno dari Cina. Di Wikipedia, ini termasuk dalam strategi - (/ Shng zhn j) - kira-kira "to win as a general".

Lengkapnya adalah sebagai berikut :

1. Cross the sea without the emperor's knowledge (, Mn tin gu hi)
Mask your real goals, by using the ruse of a fake goal, until the real goal is achieved. Tactically, this is known as an 'open feint': in front of everyone, you point west, when your goal is actually in the east.


2. Besiege Wi to rescue Zho (, Wi Wi ji Zho)
When the enemy is too strong to be attacked directly, then attack something he holds dear. Know that he cannot be superior in all things. Somewhere there is a gap in the armour, a weakness that can be attacked instead. The idea here is to avoid a head-on battle with a strong enemy, and instead strike at his weakness elsewhere. This will force the strong enemy to retreat in order to support his weakness. Battling against the now tired and low-morale enemy will give a much higher chance of success.


3. Kill with a borrowed knife (, Ji do sh rn)
Attack using the strength of another (in a situation where using one's own strength is not favourable). Trick an ally into attacking him, bribe an official to turn traitor, or use the enemy's own strength against him. The idea here is to cause damage to the enemy by getting a third party to do the deed.


4. Wait at leisure while the enemy labors (, Y y di lo)
It is an advantage to choose the time and place for battle. In this way you know when and where the battle will take place, while your enemy does not. Encourage your enemy to expend his energy in futile quests while you conserve your strength. When he is exhausted and confused, you attack with energy and purpose. The idea is to have your troops well-prepared for battle, in the same time that the enemy is rushing to fight against you. This will give your troops a huge advantage in the upcoming battle, of which you will get to select the time and place.


5. Loot a burning house (/, Chn hu d ji)
When a country is beset by internal conflicts, when disease and famine ravage the population, when corruption and crime are rampant, then it will be unable to deal with an outside threat. This is the time to attack. Keep gathering internal information about an enemy. If the enemy is currently in its weakest state ever, attack it without mercy and totally destroy it to prevent future troubles.


6. Make a sound in the east, then strike in the west (, Shng dng j x)
In any battle the element of surprise can provide an overwhelming advantage. Even when face to face with an enemy, surprise can still be employed by attacking where he least expects it. To do this you must create an expectation in the enemy's mind through the use of a feint. The idea here is to get the enemy to focus his forces in a location, and then attack elsewhere which would be weakly defended.


Cina kuno, banyak diisi dengan perebutan kekuasaan, berdarah-darah. Dinasti berganti dinasti, berapa berdarahnya bisa dipelajari dalam sejarah atau cerita mengenai pergantian dinasti di Cina zaman dulu.


Tidak saja dalam zaman kuno, pada zaman komunis di Cina (di Indonesia affiliasinya tentunya PKI pada zamannya) - jutaan korban juga terbantai. Sama juga dengan komunis di Rusia zaman Stalin - pada zamannya, berapa orang terbunuh - masa revolusi komunis. Suasana tangan besi yang berubah zaman Gorbachev. Atau suasana tangan besi di Jerman timur sebelum unifikasi. Indonesia rasanya termasuk yang "anti" dengan pendekatan dan pandangan itu...mungkin sebab itu PKI tidak ada tempat di Indonesia.


Strategi-strategi di atas, lahir pada zaman perang - dibunuh atau membunuh - topiknya adalah bunuh-bunuhan, seolah-olah tidak ada pandangan lain. Dalam suasana damai, masakan terus saling bunuh - bukan kah saling menghidupi. It's not about death - it's about life !


Beruntung kita tidak hidup zaman itu, kita berada pada zaman damai. Tapi kedamaian itu adalah berkah yang luar biasa - menjaganya bentuk dari syukur. Kepada para pahlawan kita ,kepada anak cucu kita - tapi terutama kepada Tuhan. Indonesia bukan negara kecil - bahkan di"ramal" akan jadi salah satu kekuatan besar di tahun 2030.


Politik tanpa etika, jadi hanya sekedar perebutan kekuasaan belaka. Damailah Indonesiaku yang hebat.

(dari berbagai sumber)

Jumat, 09 November 2018

M JASIN, JEJAK BHAYANGKARA DALAM PERTEMPURAN SURABAYA (Refleksi 73 Tahun Semangat Hari Pahlawan 10 November 1945)



Saoedara-saoedara,
didalam pertempoeran-pertempoeran jang lampaoe, kita sekalian telah menundjukkan bahwa
ra’jat Indonesia di Soerabaja,
pemoeda-pemoeda jang berasal dari Maloekoe,
pemoeda-pemoeda jang berasal dari Soelawesi,
pemoeda-pemoeda jang berasal dari Poelaoe Bali,
pemoeda-pemoeda jang berasal dari Kalimantan,
pemoeda-pemoeda dari seloeroeh Soematera,
pemoeda Atjeh, pemoeda Tapanoeli & seloeroeh pemoeda Indonesia jang ada di Soerabaja ini,
didalam pasoekan-pasoekan mereka masing-masing dengan pasoekan-pasoekan ra’jat jang dibentuk di kampoeng-kampoeng,
telah menoenjoekkan satoe pertahanan jang tidak bisa didjebol,
telah menoenjoekkan satoe kekoeatan sehingga mereka itoe terdjepit di mana-mana…

(salah satu petikan Pidato Bung Tomo, 10 November 1945 di Surabaya)

Peristiwa 10 November 1945 di Kota Surabaya adalah salah satu wujud persatuan dan puncak kegigihan perjuangan bangsa Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan. Berbagai elemen bangsa mulai dari tentara, polisi, ulama, santri, nelayan, petani, tukang becak, buruh dan pedagang bersatu dalam satu barisan melawan tentara Belanda yang membonceng sekutu di Kota Pelabuhan Surabaya. Semua perbedaan latar belakang, dari suku, agama, ras, profesi, kelas sosial dan golongan lebur jadi satu untuk mempertahankan kedaulatan dan martabat bangsa.

Pertempuran Suabaya 1945 merupakan perang terhebat dan terberat dengan ribuan korban pasca bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaan 17 Agustus 1945. Pertempuran yang kemudian dibuat film dengan judul “Battle of Surabaya” berlangsung hampir sebulan, mulai 27 Oktober hingga 20 November 1945. Puncak pertempuran yang terjadi pada tanggal 10 November kemudian ditetapkan menjadi Hari Pahlawan yang diperingati setiap tahun oleh bangsa Indonesia.

Secara kalkulasi militer, Pertempuran Surabaya memang sangat tidak berimbang. Tentara Britania Raya yang tergabung dalam AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies) dibonceng tentara NICA (Netherlands Indies Civil Administration) Belanda. Tentara Sekutu dari Brigade 49 begitu tinggi semangat dan percaya dirinya mendarat di Surabayapada 25 Oktober 1945. “Mereka baru saja mengalahkan pasukan Jepang, dari pertempuran Birma sampai Semenanjung Malaya,” tulis Des Alwi dalam Pertempuran Surabaya November 1945 (2012).

Pasukan pimpinan Brigadir Mallaby yang tiba di Surabaya terdiri dari Batalyon Infanteri Maratha yang terlatih dalam perang kota dan Batalyon Rajputna yang mampu menjadi pasukan penghancur dengan senapan mesinnya. Brigade ini dilengkapi kendaraan lapis baja, angkutan militer juga kesehatan militer. Anggota brigade ini kebanyakan orang-orang India yang berdinas dalam militer Inggris. Mereka yang bersorban biasanya orang Sikh, meski sering dikira Gurkha yang biasanya bermata sipit dan tak bersorban.

Sementara pejuang dari Republik Indonesia sebagian besar adalah tentara rakyat, para pejuang, gerilyawan dan para santri yang tidak terlatih perang. “Orang-orang yang hanya bersenjatakan pisau-pisau belati menyerang tank-tank Sherman.” Dari takaran militer profesional, apa yang dilakukan pasukan para pejuang Surabaya bukan lagi berani tapi nekad. Hingga korban banyak jatuh. Hanya sebagian saja dari mereka yang pernah mendapat latihan militer, baik dari Jepang maupun Belanda, pada masa sebelum perang. (David Wehl dalam Birth of Indonesia (1949) seperti di kutip Ben Anderson dalam Revoloesi Pemoeda).

Sejak pukul 06.00 tanggal 10 November 1045, Inggris memperlihatkan cara perang modernnya pada Indonesia. Kapal-kapal perang Kerajaan Inggis dan juga pesawat armada udara Inggris memuntahkan peluru-pelurunya ke daratan Surabaya. Hingga senja, sepertiga Surabaya sudah diduduki militer Inggris. Tembakan-tembakan itu memudahkan gerakan pasukan Divisi Kelima Inggris untuk menguasai Surabaya yang hampir tiap sudutnya berusaha dipertahankan mati-matian oleh pihak Republik.

“Di pusat kota, pertempuran lebih dasyat, jalan-jalan harus diduduki satu persatu, dari satu pintu ke pintu lainya. Mayat dari manusia, kuda-kuda, dan kucing-kucing serta anjing-anjing bergelimpangan di selokan; gelas-gelas berpecahan, perabot rumah tangga, kawat-kawat telepon bergelantungana di jalan-jalan dan suara pertempuran menggema di tengah-tengah gedung-gedung kantor yang kosong,” tulis David Wehl.

Menurut Merle Calvin Ricklefs, dalam A History of Modern Indonesia Since c.1300, tercatat setidaknya 6.000-16.000 pejuang dari pihak Indonesia tewas dan 200.000 rakyat sipil mengungsi dari Surabaya sebagai imbas dari pertempuran tersebut. Sementara itu, taksiran Woodburn Kirby dalam The War Against Japan (1965), korban dari pihak sekutu sejumlah 600-2.000 tentara.

Meletusnya Pertempuran Surabaya dan Peristiwa 10 November 1945 menggambarkan kegigihan, jiwa kepahlawanan dan semangat persatuan bangsa Indonesia. Berbagai elemen rakyat turut andil dan berkontribusi dalam pertempuran tersebut. Tokoh Ulama dari Jombang yang juga Pendiri Nahdhatul Ulama, KH Hasyim Asy’ari, mengeluarkan Resolusi Jihad 22 Oktober dan memobilisasi para santri untuk turut berjuang mempertahankan kemerdekaan.

Elemen berikutnya dalam kubu pejuang kemerdekaan adalah militer. Jumlah militer Indonesia di Surabaya secara pasti sulit ditemukan di buku-buku sejarah maupun biografi para pelakunya. Ada pihak yang menaksir terdapat sekitar 20 ribu anggota Badan Keamanan Rakyat (BKR). Meski di Yogyakarta sudah diresmikan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) nama BKR masih digunakan di Surabaya. Anggota BKR biasanya bekas PETA, Heiho, KNIL dan pemuda yang tak pernah mendapat latihan militer sama sekali. Sementara jumlah pemuda pejuang di luar BKR diperkirakan mencapai 100 ribu orang. Jadi diperkirakan kekuatan pihak Indonesia mencapai 120 ribu dengan persenjataan tak lebih 50 ribu.

Kemudian yang tidak kalah pentingnya namun jarang terekspose dalam pembicaraan Pertempuran Surabaya adalah keterlibatan Polisi Istimewa yang kemudia menjadi cikal bakal lahirnya Kesatuan Brimob Polri. Polisi Istimewa (PI) yang sekarang bernama Brigade Mobil (Brimob) adalah jelmaan dari CSP (Central Special Police). Apalagi, pada Agustus 1945 itu, hanya Polisi yang masih memegang senjata. Karena, setelah Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu, penguasa Jepang di Indonesia membubarkan tentara PETA dan Heiho, sedangkan senjata mereka dilucuti. Soetamo (Bung Tomo), pemimpin Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia (BPRI) yang juga salah satu pejuang terkemuka dalam peristiwa 10 November 1945 di Surabaya, menyatakan :

“PETA diharapkan dapat mendukung perjuangan di Surabaya tahun 1945 , tetapi PETA membiarkan senjatanya dilucuti oleh Jepang, untung ada Pemuda M. Jasin dengan pasukan-pasukan Polisi Istimewanya yang berbobot tempur mendukung dan mempelopori perjuangan di Surabaya.”- Soetomo (Bung Tomo).

Jenderal TNI Muhammad Wahyu Sudarto – Pelaku 10 November 1945, menyatakan, “Saya hanyalah bagian dari sejarah perjuangan tanah air. Itu pun Cuma di Jawa Timur, khususnya di Surabaya. Sebetulnya pada “Peristiwa Surabaya” ada tokoh yang lebih hebat tetapi di mana kini tidak banyak yang kenal. Namanya Moehammad Jasin, orang Sulawesi Selatan. Jika beliau tidak ada, Surabaya tidak mungkin seperti sekarang. Beliau adalah Komandan Pasukan Polisi Istimewa. Kalau tugas Bung Tomo adalah “memanas-manasi rakyat”, Pak Jasin ini memimpin pasukan tempur”.

Kesatuannya boleh dibilang kecil, cuma beberapa ratus orang saja. Itu sebabnya mereka bergabung dengan rakyat. Kalau rakyat sedang bergerak, di tengah-tengah selalu ada truk atau panser milik Pasukan Polisi Istimewa lengkap dengan senjata mesin. Melihat Rakyat bak gelombang yang tak henti-henti itu, Jepang yang waktu itu sudah kalah dari Pasukan Sekutu menyerah kepada RI dan intinya adalah Pak Jasin.

Pada masa itu hanya Polisi yang memiliki persenjataan sedangkan kesatuan lain tidak ada. Hal ini ditegaskan oleh Jenderal TNI AD SUDARTO ex. TRIP dan pelaku 10 Nop 194, “Omong kosong kalau ada yang mengaku di bulan Agustus 1945 memiliki kesatuan bersenjata. Yang ada pada waktu itu hanya pasukan-pasukan Polisi Istimewa pimpinan M. JASIN, bahkan ia menyatakan bahwa tanpa peran pasukan Polisi Istimewa dibawah pimpinan M. JASIN tidak akan ada peristiwa 10 Nopember 1945.”

Pernyataan itu menunjukkan bahwa jika pertempuran itu berlangsung tanpa dukungan dan kepeloporan Pasukan Polisi Istimewa, niscaya patriotisme perjuangan rakyat di Surabaya tidak akan seheroik apa yang tercatat dalam sejarah. Hal itu juga dikuatkan dalam pidato peresmian Monumen Perjuangan Polisi Republik Indonesia di Surabaya yang disampaikan oleh Pangab RI, Jenderal (TNI) Tri Surtrisno pada 2 Oktober 1988 : “Kekuatan Pasukan Polisi Istimewa pimpinan M. Jasin harus dikaji oleh seluruh bangsa Indonesia.”

Lebih lanjut Jendral (TNI) Tri Sutrisno mengatakan, “Tindakan Inspektur I Moehammad Jasin untuk mempersenjatai Rakyat Pejuang telah memberikan andil yang cukup besar dalam gerak maju para pejuang kemerdekaan di Surabaya, yang kemudian mencapai puncaknya dalam pertempuran heroik di Surabaya tanggal 10 Nopember 1945”.

Hari ini bangsa Indonesia sedang diuji semangat persatuan dan kepahlawanannya untuk meletakkan kepentingan pribadi dan golongan demi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Di era milineal ini musuh bangsa Indonesia bukan lagi penjajah Belanda atau pasukan Sekutu, namun yang menjadi ancaman terbesar adalah maraknya politik identitas, sentiment kelompok, berita-berita hoax, ujaran kebencian dan radikalisme. Di tahun olitik menjelang gelaran Pemilu dan Pilpres 2019 hendaknya seluruh elemen bangsa dapat mengambil pelajaran dan meneladani semangat para pejuang yang mengobarkan Pertempuran Surabaya November 1945.

Selamat Hari Pahlawan 10 November 2018

Arief Luqman El Hakiem
Kepala Brand Image Polri & Partnership pada BINs

Kamis, 25 Oktober 2018

BHAYANGKARA, PASUKAN ELIT PENJAGA RAJA DAN NEGARA


Sebenarnya konsep pembentukan pasukan khusus bukanlah hal yang benar-benar baru. Jauh sebelum SAS, Denjaka, Navy SEAL terbentuk, orang-orang dulu sudah berpikir untuk mengelompokkan sendiri mereka yang memiliki kemampuan luar biasa ke dalam satu grup. Salah satu bukti kalau pasukan elit sudah ada sejak dulu adalah Jannisary. Pasukan elit kesultanan Turki ini secara teknis sama seperti korps khusus hari ini. Mereka adalah orang-orang hasil seleksi ketat yang kemampuannya di atas rata-rata.
Berbicara tentang pasukan elit di masa lalu, Indonesia ternyata juga memilikinya. Pasukan ini bernama Bhayangkara yang dimiliki oleh kerajaan Majapahit. Bhayangkara cukup jarang disebut padahal sedikit banyak Majapahit benar-benar berutang kepada pasukan satu ini. Berkat mereka, kerajaan terbesar dalam sejarah Indonesia ini berhasil melakukan berbagai pencapaian, termasuk selalu memenangi berbagai macam peperangan penting.
Bhayangkara sendiri secara teknis sama persis seperti pasukan elit hari ini, tapi mereka tetap punya keunikannya sendiri. Nah, lebih jauh soal Bhayangkara, berikut adalah fakta-fakta sangar dari pasukan kebanggaan Majapahit itu.

Kekuatan Sangar Para Anggota Bhayangkara

Sama seperti Navy SEAL atau pasukan-pasukan elit lain, soal kekuatan dan kemampuan, serdadu Bhayangkara ini beberapa tingkat lebih tinggi dari prajurit biasa. Mereka adalah best of the best. Sejarah mencatat kalau pasukan satu ini memang sangat ahli dan juga menguasai banyak hal. Entah itu keahlian pedang, tombak, martial arts, atau ilmu-ilmu Kanuragan alias tenaga dalam.
Kemampuan pasukan Bhayangkara [Image Source]
Kemampuan pasukan Bhayangkara [Image Source]
Dengan kemampuan gila macam itu, tak heran kalau ada anggapan yang mengatakan jika satu anggota Bhayangkara sama seperti 40 orang prajurit biasa. Makanya, dulu hanya dengan modal beberapa orang Bhayangkara, mereka sanggup menaklukkan perang-perang kecil dengan musuh ratusan orang. Sangar!

Susahnya Menjadi Anggota Bhayangkara

Sat-Bravo adalah salah satu pasukan elit paling seram yang dimiliki Indonesia. Anggotanya merupakan hasil seleksi dari Paskhas AU di mana pasukan ini sendiri sebenarnya sudah elit. Alhasil, Sat-Bravo bisa dikatakan sebagai pasukan elitnya pasukan elit. Nah, kondisi yang sama juga dialami oleh anggota Bhayangkara.
Susahnya jadi Bhayangkara [Image Source]
Susahnya jadi Bhayangkara [Image Source]
Untuk bisa menjadi anggota Bhayangkara, seorang prajurit harus mempunyai kemampuan yang lebih. Setelah itu, mereka masih harus menjalani seleksi berat dengan kriteria yang begitu banyak. Kalau pasukan elit hari ini seleksinya mungkin begitu-begitu saja ya, tapi kalau Bhayangkara tidak. Ada aspek-aspek spiritual dan sikap yang juga harus mereka penuhi. Misalnya saja hal-hal yang berhubungan dengan keagamaan.

Cerdas dan Juga Tidak Berbuat Dosa

Selain wajib punya kemampuan lebih, para Bhayangkara haruslah sangat cerdas. Kecerdasaan diperlukan ketika mereka harus melakukan misi-misi intelijen, seperti menyusup, mengintai, merusak dari dalam dan sebagainya. Kepintaran sendiri juga merupakan aspek penting yang sangat dinilai ketika proses seleksi.
Pasukan Bhayangkara harus cerdas [Image Source]
Pasukan Bhayangkara harus cerdas [Image Source]
Selain ketentuan-ketentuan tadi, masih ada satu lagi syarat untuk seorang prajurit bisa menjadi anggota Bhayangkara. Mereka haruslah tidak berbuat dosa. Bagi yang pernah berjudi, mencuri, atau main wanita, maka mustahil bagi mereka untuk menjadi seorang Bhayangkara. Dari sini kita bisa katakan kalau pasukan ini begitu sempurna. Tak hanya benar-benar memperhatikan aspek fisik dan kemampuan saja tapi juga rohani. Hal seperti itu kemungkinan besar tak kita dapatkan pada proses rekruitmen pasukan elit hari ini.

Pasukan Bhayangkara Tidak Pernah Banyak

Lantaran proses seleksinya yang sedemikian rumit dan ketat, akhirnya hanya sedikit sekali pasukan Bhayangkara yang eksis. Mereka hanya terdiri dari beberapa pleton saja yang masing-masing isinya tak lebih dari 40 orang. Tapi, meskipun sedikit, kamu tahu sendiri kalau ini tak pernah jadi masalah yang berarti.
Jumlah pasukan Bhayangkara [Image Source]
Jumlah pasukan Bhayangkara [Image Source]
Ya, meskipun sedikit tapi satu orang Bhayangkara mewakili puluhan prajurit biasa. Makanya tak heran juga kalau dalam setiap kali perang, pasukan ini selalu menang. Meskipun sangar luar biasa, tapi bukan berarti Bhayangkara tak bisa mati. Pasukan ini tetap bisa dibunuh tapi harus dengan banyak sekali pasukan. Setidaknya butuh 400an orang untuk membunuh satu pleton Bhayangkara.

Tugas Istimewa Bhayangkara

Tak hanya perang dan tugas pengintaian, anggota Bhayangkara juga diserahi tugas istimewa yang mustahil untuk didapatkan banyak orang. Ya, apalagi kalau bukan jadi pelindung pribadi raja. Banyak buku yang menyinggung tentang hal ini, termasuk kisah Prabu Brawijaya yang pernah diselamatkan oleh pasukan Bhayangkara ketika Majapahit diserbu oleh serdadu Raden Patah.
Bertugas melindungi raja [Image Source]
Bertugas melindungi raja [Image Source]
Dari sini kita bisa simpulkan lagi kalau pasukan Bhayangkara ini memang benar-benar pilihan. Dulu, memang hanya orang-orang terpercaya saja lho yang bisa berdekatan raja. Tapi, para pasukan Bhayangkara bisa begitu saja mendapatkan tugas mulia seperti ini.
Bhayangkara, pasukan ini mungkin tak banyak disebut-sebut jasanya. Tapi, secara pasti mereka telah berjasa besar bagi Majapahit. Benar-benar tidak terbayangkan lho kalau mereka tak pernah tercipta. Mungkin saja Majaphit yang gagah tidak pernah sementereng seperti cerita-cerita yang ada dalam sejarah. Makanya, kita layak untuk memberikan apresiasi kepada mereka karena berat Bhayangkara kita bisa begitu bangga ketika mengenang kejayaan Majapahit.

Senin, 15 Oktober 2018

Kapolda Resmikan Mushala dan Asrama Yatim "Ginaris" Madiun


MADIUN. BINs - (15/10/2018) Kepala Kepolisian Daerah Jawa Timur, Irjen. Pol. Drs. Luki Hermawan, M.Si didampingi Ketua Bhayangkari, Nyonya Atik Luki Hermawan meresmikan mushala Ar Razi dan beroperasinya Asrama Anak Yatim "Ginaris", yang berlokasi di Desa Klagenserut, Kecamatan Jiwan, Madiun, siang tadi, Senin (15/10).

Apa keistimewaan mushala dan asrama yatim tersebut sehingga diresmikan oleh orang nomor satu di jajaran Polda Jatim?

Ternyata mushala dan asrama Ginaris dikelola oleh seorang anggota Polri berpangkat Inspektur Dua, berdinas di Kesatuan Brimob Madiun, bernama Rochmat Tri Marwoto, SH. Saat ini asrama Ginaris telah menampung, merawat dan mendidik tidak kurang dari 69 anak.

"Pertama, saya bingung dan kagum, kenapa giat humanis seperti ini, ada mushala, ada pesantren, justru dilakukan oleh anggota Sat Brimob. Saya kira dari anggota Bhabin Kamtibmas atau dari polisi umum yang banyak berkomunikasi dan berinteraksi dengan masyarakat, "kata Kapolda mengawali sambutannya.

Irjen Luki sangat mengapresiasi dan berterimakasih kepada Ipda Rochmat yang telah mengangkat nama baik dan citra Polri dengan aktivitasnya. Apalagi semua ini dilakukan dengan tidak meninggalkan tugas utama sebagai anggota Korps Bhayangkara.

Ipda Rochmat melakukan aktivitas sosial ini sejak tahun 2007 ketika masih berpangkat Brigadir Polisi Dua (Bripda). Mulai dari menampung dan mendidik beberapa anak yatim, Ipda Rochmat harus merogoh dari kocek pribadinya.

Dalam kesempatan tersebut, Ipda Rochmat juga mendapat plakat penghargaan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa atas dedikasinya kepada anak-anak dan generasi muda. Sebagai representasi dari UNICEF (United Nations Children's Fund), hadir menyerahkan penghargaan Mister Lodewyk Pasulatan, staf UNIC (United Nation of Information Center) Perwakilan Indonesia.

Mister Lodewyk menyampaikan permintaan maaf, karena sedianya penghargaan ini diserahkan oleh perwakilan UNICEF langsung, namun karena adanya bencana gempa bumi dan tsunami di Palu, Sulawesi Tengah, maka mereka tidak berani mengirimkan seorang pun untuk menghadiri acara tersebut.

Permohonan maaf dari UNICEF dikirim secara resmi dan tertulis melalui email kepada UNIC Perwakilan Indonesia.

Dalam kata sambutannya, Mister Lodewyk berharap apa yang dilakukan Ipda Rochmat bisa menginspirasi anggota Polri yang lain, bahkan masyarakat luas untuk peduli pada penyelamatan dan pendidikan generasi muda.

Acara ditutup dengan pemotongan pita oleh Ketua Bhayangkari Polda Jatim, Nyonya Luki Hermawan dan penandatanganan prasasti mushala oleh Kapolda didampingi pejabat utama polres jajaran dan forkompimda Kota Madiun.

(Arief Luqman dan Tim Redaksi BINs - Bhayangkara Indonesia News)



Minggu, 14 Oktober 2018

BAMBANG WIDJOJANTO, OTAK DIBALIK RILIS INDONESIALEAKS



Ditengah hebohnya isu mengenai dugaan perusakan barang bukti KPK berupa buku merah yang katanya berisi data - data aliran dana korupsi Basuki Hariman ke beberapa tokoh penting, salah satunya Kapolri, Jenderal Polisi Tito Karnavian, tiba - tiba muncul sosok mantan Wakil Ketua KPK, Bambang Widjojanto, yang langsung merespon cepat laporan investigasi tersebut dengan nada cukup tendensius kepada KPK dan Polri.

Anehnya, hanya bermodalkan hasil investigasi IndonesiaLeaks, Bambang dengan berani menuduh Kapolri, Jenderal Polisi Tito Karnavian sebagai orang yang paling banyak menerima uang dari Basuki Hariman.

"Indonesialeaks menyatakan 'Tertulis dalam dokumen itu bahwa nama Tito Karnavian tercatat paling banyak mendapat duit dari Basuki (Hariman, Red), langsung maupun melalui orang lain', baik ketika menjabat sebagai kapolda Metro, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme pada Maret-Juli 2016 maupun ketika sudah dilantik sebagai Kapolri," kata Bambang Widjojanto dalam keterangan tertulis via Gatra.com, Senin (8/10).

Kelihatan sekali, Bambang seakan “mengompori KPK” agar segera memeriksa Kapolri Tito Karnavian.

“Pimpinan KPK tengah diuji publik apakah masih punya nyali untuk membongkar kasus ini hingga tuntas, setidaknya memanggil dan memeriksa Tito Karnavian,” kata Bambang dalam keterangan tertulis, Senin, 8 Oktober 2018.

Selain menyerang sosok Kapolri, Bambang juga dengan tendensiusnya ikut menyerang KPK dan meminta agar KPK mengusut kasus tersebut dengan bermodalkan hasil investigasi IndonesiaLeaks yang jelas - jelas sampai hari ini tidak bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya.

"Yang harus dipersoalkan dalam seluruh kekisruhan ini, dimana posisi hukum dan nurani keadilan dari komisioner KPK yang sekaligus pimpinan KPK," kata Bambang.
"Karena itu, mari kita cari kebenaran dengan menggunakan hasil investigasi dari Indonesialeaks ini," katanya.

Jadi wajar saja, banyak pihak yang mencurigai bahwa Bambang Wijayanto lah sosok dibalik laporan investigasi IndonesiaLeaks tersebut. Apalagi, Bambang dikenal sebagai salah satu senior di YLBHI dan tentu saja memiliki beberapa “junior” di IndonesiaLeaks yang juga diisi oleh orang - orang dari YLBHI.

“Apakah Mas BW juga penanggung jawab atau menjadi bagian dari itu (situs IndonesiaLeaks)," ujar Sekjen PPP Arsul Sani di Ruang Fraksi PPP, Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (11/10).

Asrul menilai, respon berlebihan dan terkesan tendensius yang dilakukan oleh Bambang Wijayanto seakan memberikan sinyal bahwa sosok anonim dibalik laporan IndonesiaLeaks tersebut adalah Bambang itu sendiri. Apalagi, IndonesiaLeaks mengatakan clue bahwa sosok informan mereka adalah orang dalam KPK, dan Bambang sendiri pernah menjadi salah satu komisioner KPK.

Selain didukung clue tersebut, Bambang Widjojanto juga pernah tersangkut kasus dengan pihak kepolisian dengan tuduhan memberikan kesaksian palsu dalam persidangan di Mahkamah Konstitusi atas kasus sidang sengketa pilkada di Kotawaringin Barat pada 2010.

Bambang kemudian ditangkap di kawasan Depok pada pukul 07.30 WIB, setelah itu langsung dibawa ke Bareskrim Polri dan diperiksa sebagai tersangka.

"Setelah melakukan galar perkara beberapa kali, lalu bisa ditingkatkan ke penyidikan. Penyidik sudah dapat alat bukti surat atau dokumen, keterangan para saksi, dan keterangan ahli," Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Ronny Sompie.

Kesaksian palsu Bambang itu mengindikasikan bahwa Bambang memiliki track record buruk dalam menyebarkan berita palsu. Bagi Mahkamah Konstitusi, kesaksian palsu Bambang dalam kasus tersebut sangat berbahaya sekali bagi penegakan hukum di Indonesia.

"Saya menilai itu berbahaya bagi MK. Bisa-bisa semua perkara akan begitu," ujar Ketua Mahkamah Konstitusi kala itu, Mahfud MD usai bertandang ke Gedung KPK, Jakarta, Jumat (6/2/2015).

Setelah tersangkut kasus kesaksian palsu di sidang MK tersebut, Bambang kemudian mengajukan pengunduran dirinya sebagai komisioner KPK. Oleh KPK sendiri, permohonan pengunduran diri tersebut ditolak oleh seluruh pimpinan KPK.

Perlu diteliti kembali apa yang melatarbelakangi Bambang Widjajanto, mundur dari penanganan kasus dana talangan Bank Century.

Apakah karena Bambang menghindari conflict of interest. Karena, sebelumnya komisioner bidang penindakan KPK pernah menjadi pengacara dari Lembaga Penjamin Simpanan (LPS)? apa keterkaitannya?

"Ya karena alasan itu, Pak Bambang memutuskan tidak memberi suara," kata Juru Bicara KPK Johan Budi di kantornya, Jakarta, Senin (27/8/2012) malam.

Sehingga pertanyaannya, apakah ada indikasi Bambang ingin membenturkan Polri dengan KPK? Ataukah ada sakit hati tersendiri dengan dua institusi tersebut?

Sumber Berita:

http://www.tribunnews.com/nasional/2018/10/10/ketua-kpk-penyobekan-barang-bukti-oleh-penyidik-tidak-terlihat-di-cctv

https://m.viva.co.id/amp/berita/nasional/1083032-mahfud-md-anggap-skandal-buku-merah-indonesialeaks-hoax

http://www.tribunnews.com/nasional/2012/08/28/ini-alasan-bambang-widjojanto-mundur-tangani-kasus-century

https://metro.tempo.co/read/1047034/ini-target-ketua-kpk-jakarta-bambang-widjojanto-versi-demokrat

https://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2015/01/150123_bambang_widjojanto

https://tirto.id/jejak-bambang-widjojanto-sebelum-jadi-ketua-pencegahan-korupsi-dki-cCFH

https://m.inilah.com/news/detail/2484684/soal-indoleaks-icw-belum-mau-berkomentar
#SaveKPKPolriDariHoax

Salam Indonesia Raya

Arief Luqman El Hakiem

(Pegiat Media dan Pemerhati Kebijakan Publik)


ANTARA INDONESIALEAKS DAN "BACOT MC-GREGOR"


Dunia masih heboh dengan kejadian hari Minggu (7/10/2018) silam di T-Mobile Arena, Las Vegas, dimana Conor McGregor takluk dalam pertandingan empat ronde dalam pay-per-view Ultimate Fighting Championship (UFC) 229 melawan Khabib Nurmagomedov.

Namun, bukan kekalahan McGregor yang menjadi buah bibir. Melainkan apa yang terjadi setelah laga, ketika Khabib keluar octagon setelah memanjat pagar usai sukses membikin McGregor tap out melalui neck crank submission saat ronde keempat sudah setengah jalan. Setelah keluar arena, Khabib menghajar tim petarung berjuluk The Notorious itu seorang diri.

Di saat bersamaan, ada seorang dari tim Khabib yang menyelinap masuk untuk menghajar McGregor yang sudah sempoyongan karena terus menerima pukulan dan kuncian. Dasar dari tindakan Khabib dan tim ini adalah api yang ditebar McGregor sebelum laga.

Untuk memahami kelakuan McGregor yang liar dan ugal-ugalan, terutama menjelang pertarungan melawan dengan Khabib, kita perlu melihat perilaku ini dengan kacamata berbeda. Percuma bicara moral dengan McGregor, karena bisnis adalah dasar tindakannya selama ini di UFC.

McGregor adalah seorang yang tahu bagaimana menciptakan uang melalui tindak-tanduk dan perkataannya. Dengan kontroversi, publik akan memutuskan untuk membayar demi menonton pertandingan UFC, entah secara langsung atau via livestreaming, inilah alasannya kenapa disebut pay-per-view.

Ini belum menghitung pemasukan lain seperti iklan ekslusif untuk McGregor. Inilah sebab, McGregor tak pernah mendapatkan hukuman dengan tujuan memberikan efek jera dari UFC meski bacotnya ugal-ugalan.

Hasil pertandingan, bahkan kekalahan sekalipun bukan masalah besar bagi McGregor, yang sudah meraih segalanya di UFC. Karena kekalahan dari lawan memberikan kesempatan untuk mendulang uang lebih banyak melalui pertandingan ulang. McGregor mengklaim sudah mendapatkan 50 juta dollar pada wawancara sebelum laga UFC 229 melawan Khabib.

Singkat cerita, jika Anda marah melihat kelakuan McGregor, selamat, Anda selama ini sudah sukses dikadalin. Karena di akhir cerita, petarung kelahiran Dublin itu selalu mendapatkan potongan kue yang paling enak dari setiap laga yang dia jalani.

Nah, di tanah air saat ini sedang heboh soal Buku Merah yang dirilis oleh Indonesialeaks, sebuah platform yang diinisiasi oleh Free Press Unlimited (FPU), Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, Tempo Institute dan Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara (PPMN).

Indonesialeaks dirancang sebagai platform bersama untuk menghubungkan pembocor informasi/whistle blower dengan media. Indonesialeaks tidak lebih dari tempat sampah yang memungut dokumen-dokumen surat kaleng, kemudian diolah sedemikian rupa dan dianggap sebagai produk investigasi.

Alur kerja dari Indonesialeaks ini kurang lebih mengadopsi alur kerja dari pembuatan Panama Papers dan Wikileaks (yang sekarang). Publik dapat mengirimkan dokumen rahasia ke platform ini yang dilindungi dengan fitur enkripisi sehingga kerahasiaan identitas pelapor terjamin. Kemudian, dokumen tersebut dibagikan ke media kolaborator untuk diolah, dimasak, digoreng dalam kemasan kerja jurnalistik.

Tahun 2010, dunia dihebohkan oleh Wikileaks yang menguak ratusan ribu dokumen rahasia dari kabel diplomatik Amerika Serikat bekerja sama dengan lima outlet berita dunia: Le Monde, El Pais, Der Spiegel, The Guardian dan The New York Times.

Tahun 2016, dunia diguncang lagi oleh skandal Panama Papers yang diklaim sebagai pembocoran data terbesar di sejarah pembocoran dokumen rahasia di dunia. Sekitar 11,5 Juta dokumen dengan total ukuran data sebesar 2,6 TB dari perusahaan Monssac Fonseca yang berisi tentang informasi rinci mengenai lebih dari 214.000 perusahaan luar negeri, termasuk identitas pemegang saham dan direkturnya.

Dari aspek opini dan media, rilis dari Indonesialeaks atau yang semacamnya bernilai tinggi, karena berhasil membuat heboh dunia dan menaikkan rating atau traffic. Bahkan memiliki dampak terhadap peta politik dan hubungan diplomatik.

Namun secara hukum, produk Indonesialeaks tak lebih dari sampah yang coba didaur ulang agar laku jual. Pertama, karena cara perolehan dokumen tidak legal dan tidak bisa dipertanggungjawabkan. Kedua, produk Indonesialeaks tidak bisa dijadikan barang bukti apalagi alat bukti, bahkan cenderung fitnah atau informasi seperti surat kaleng.

Namun bagi Indonesialeaks dan kompradornya, benar salah tidak penting, yang penting dunia heboh, dan tiras naik. Sama persis seperti logika berpikir McGregor dengan perilaku ugal-ugalannya.

Semua memang tentang bisnis dan uang. Gonggongan Indonesialeaks tidak ada bedanya dengan bacot McGregor. Jauh dari sebutan bermoral dan beretika.

Salam Indonesia Raya

Arief Luqman El Hakiem
(Pegiat Media dan Pemerhati Kebijakan Publik)

Kamis, 04 Oktober 2018

HOAKS DI SEKITAR ISTANA, SEJAK ERA SOEKARNO HINGGA SBY


Bicara mengenai hoaks seakan tak ada habisnya. Kabar bohong ini dapat memanipulasi kabar/cerita yang bisa menipu kelompok atau masyarakat.

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika telah mengimbau masyarakat untuk berhati-hati menerima kabar sebelum diberikan kepada orang lain.

Sepanjang Republik Indonesia diproklamasikan, tak hanya masyarakat, bahkan Presiden RI juga pernah menerima berita hoaks. Pemberitaan hoaks kepada Presiden ini jelas untuk kepentingan dan motif tertentu.

Berikut adalah berita hoaks di Indonesia dari Presiden Soekarno sampai SBY :

1. Raja Idrus dan Ratu Markonah (Era Soekarno)


Berita ini muncul di era pemerintahan Presiden Soekarno. Mereka berdua mengaku merupakan pemimpin suku Anak Dalam yang mempunyai kekuatan yang mumpuni.

Cerita berawal setelah Indonesia merdeka, saat konflik mengenai Papua Barat belum selesai. Pihak Belanda masih menginginkan untuk menguasai wilayah tersebut.

Presiden Soekarno kemudian dibohongi Ratu Markonah dan Raja Idrus yang  mengaku mau menyumbang harta benda untuk merebut Irian Barat dari tangan Belanda.

Saat itu, Raja Idrus dan Ratu Markonah tentunya mendapat liputan media massa besar-besaran.

Soekarno sempat menerima mereka di Istana Kepresidenan dan disambut dengan berbagai pelayanan yang luar biasa.

Namun, ternyata mereka berdua ketahuan berbohong. Keduanya diketahui sering melakukan aksi pemerasan dan penipuan.

Harian Kompas edisi Agustus 1968 memberitakan, "Raja" Idrus ditangkap warga di Kotabumi, Lampung Utara.

Sebab, dia mengaku sebagai anggota Intel Kodam V Jaya dan jadi anak buah Mayor Simbolon. Idrus memeras sejumlah pengusaha di Lampung untuk mendapatkan sejumlah uang sebelum akhirnya dibekuk aparat.

Beberapa hari kemudian, "Ratu" Markonah juga tertangkap oleh petugas.

Menurut Harian Kompas edisi 21 Agustus 1968, Markonah menjalani hukuman penjara tiga bulan karena terlibat prostitusi di Kota Pekalongan, Jateng.

Markonah diberitakan beroperasi di Semarang, Pekalongan, dan Tegal selepas keluar dari bui di Jakarta akibat aksi penipuan.

2. Janin Bisa Bicara (Era Soeharto)

Ilustrasi
Di era Presiden Soeharto, juga terdapat peristiwa penipuan dan hoaks fenomenal, yakni kasus janin berbicara di dalam kandungan.

Dilansir dari harian Kompas 26 Februari 2017, pada akhir 1970-an, Indonesia dihebohkan dengan bayi ajaib di dalam kandungan yang bisa diajak berbicara dan bahkan mengaji di perut Cut Zahara Fona (26), wanita asal Sigli, Kabupaten Pidie, Aceh.

Wakil Presiden Adam Malik dan Presiden Soeharto sempat tertarik dengan fenomena itu. Bahkan, Menteri Agama saat itu juga memberikan komentar di media massa.
Akhirnya, Tim Medis RSPAD, Ikatan Dokter Indonesia, Kejaksaan Agung, dan Polri turun tangan.

Saat hendak diperiksa Tim Ikatan Dokter Indonesia di RSPAD Gatot Subroto tanggal 13 Oktober 1970, Cut Zahara Fona mengatakan bayinya menolak.

Namun, ia diperiksa di RSPAD sepekan kemudian. Tim dokter RSCM juga memeriksa Cut Zahara dan menyatakan tak ada janin di rahim perempuan itu.

Kasus itu tak hanya diliput media dalam negeri. Media asing seperti BBC pun ramai memberitakannya. Aktivitas bayi ajaib terhenti setelah tape recorder yang dipasang di dalam pakaian Cut Zahara ditemukan Polisi Komdak XIII Kalimantan Selatan yang memburunya di Kampung Gambut, 14 kilometer dari Kota Banjarmasin.

Polisi menyita tape recorder EL 3302/OOG berikut kaset rekaman suara tangisan bayi dan bacaan ayat-ayat suci Al Quran.

3. Berita Tambang Emas di Busang (Era Soeharto)


Penipuan dan hoaks kembali terjadi tahun 1990-an yang sampai pada lingkaran Istana Kepresidenan.
Kali ini skandal tambang emas terbesar di dunia di Busang yang konsesinya dimiliki perusahaan kecil dari Kanada, Bre-X.
Kisah bermula saat geolog Filipina yang baru menjelajahi hutan Kalimantan mengaku menemukan jutaan ton emas siap ditambang. Dia pun berupaya mencari investor. Salah satu yang tertarik adalah pengusaha Kanada David Walsh yang juga CEO Bre-X Gold Minerals.

Kehebohan penemuan emas di Busang membuat harga saham Bre-X di Kanada meroket dari 1,90 dollar Kanada per lembar saham pada akhir 1994 menjadi 24,8 dollar Kanada per lembar saham pada Juli 1996.

Soeharto kemudian berupaya mencegah agar emas di Busang dikuasai oleh Bre-X. Izin eksplorasi diubah. Bre-X pun hanya dibatasi pengelolaan sebanyak 45 persen.

Namun, emas tak juga ditemukan. Pada Maret 1997, Michael de Guzman "jatuh" dari helikopter saat terbang dari Samarinda ke Busang. Ada dugaan bahwa de-Guzman bunuh diri.

Ternyata pertambangan emas di Busang hanya tipu daya belaka, miliaran dollar kerugian investor pun menimpa pemodal di bursa saham Kanada dan Amerika Serikat.

4. Soewondo membobol uang Rp 35 miliar (Era Gus Dur)

Abdurrahman Wahid
Berita bohong juga pernah terjadi pada masa Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Saat itu, terdapat seorang bernama Soewondo yang membobol uang Yayasan Dana Kesejahteraan Karyawan (Yanatera) Badan Urusan Logistik (Bulog) senilai Rp 35 miliar.

Soewondo leluasa beraksi karena berprofesi sebagai tukang urut Presiden. Ini menyebabkan dia memiliki akses kekuasaan, serta "menjual" nama para petinggi negara. Saat aksinya ketahuan, Soewondo kemudian melarikan diri.

Harian Kompas edisi 6 Juni 2000 menulis, Reserse Kepolisian Daerah (Polda) Metro Jaya terus melacak persembunyian Soewondo.

Diduga, Soewondo tahu banyak soal dana Rp 35 miliar dari Yayasan Bina Sejahtera (Yanatera) Badan Urusan Logistik (Bulog).
Polisi pun sudah mendatangi beberapa kota yang diperkirakan menjadi tempat pelarian Soewondo, seperti Surabaya, Batam, Magetan, dan beberapa lokasi di Jakarta.

Dia kemudian ditangkap setelah ditemukan di salah satu tempat di kawasan Puncak, Jawa Barat. Soewondo kemudian divonis dengan hukuman 3,5 tahun.

5. Kabar Harta Karun Batutulis (Era Megawati)


Pada masa Megawati digegerkan dengan kabar adanya harta karun di pelataran Istana Batutulis, Bogor. Saat itu ada kabar mengenai timbunan harta peninggalan Prabu Siliwangi.
Harian Kompas edisi 19 Agustus 2002 memberitakan, Menteri Agama Said Agil Al-Munawar bersikeras melanjutkan penggalian di Situs Batutulis.

Penggalian situs prasasti Batutulis telah mendatangkan protes dari berbagai kalangan, khususnya Kepala Kantor Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Endjat Djaenuderajat.

Sejumlah warga Bogor dari berbagai kalangan juga mengecam penggalian lokasi prasasti Batutulis peninggalan Surawisesa (putra Prabu Siliwangi) tahun 1533.

Kekelompok warga menempelkan pamflet bertuliskan, "Mbah Dukun, Tolong Sembur Said Agil, Biar Sadar" dan "Kami Warga Batutulis Tetap Akan Mempertahankan Prasasti Ini. Barangsiapa Berani Melanjutkan Penggalian, Kami Akan Bertindak Brutal".

Hingga kini, harta karun Batutulis tak terbukti kebenarannya.

6. Banyu Geni "Blue Energy" (Era SBY)


Pada zaman Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, terdapat skandal banyu geni atau dugaan penipuan penggunaan air sebagai bahan bakar.

Dilansir dari harian Kompas 3 Juli 2008, "proyek banyugeni", bermula saat ada penelitian  untuk memanfaatkan air sebagai bahan bakar. Konon, proyek ini direstui Presiden Yudhoyono (SBY). Proyek itu juga dikenal dengan sebutan "blue energy".

Dasar pemikirannya adalah, hidrogen yang merupakan unsur dalam air memang bahan bakar. Namun, harus dilakukan disosiasi pada air guna memisahkan hidrogen agar dapat dipakai langsung, atau disenyawakan dulu dengan karbon, atau dengan karbon dan oksigen.

Namun, kemudian instalasi "proyek banyugeni" di Universitas Muhamadiyah Yogyakarta dibongkar. Ternyata cuma berupa kotak berisi kabel besar dan variac (ototrafo yang tegangan keluarannya dapat 

Lagi-lagi isu menghebohkan itu tidak terbukti. Bahkan, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta memperkarakan Joko Suprapto yang merupakan pelopor riset itu.

Sumber : kompas.com