Cari Blog Ini

Jumat, 27 Oktober 2017

Istimewa, Dengan Pakaian Adat, Pasukan GERAX Pelajar Kebumen Deklarasikan Gerakan Anti Hoax

Kebumen - (27/10/2017) Ada yang berbeda dalam pelaksanaan Upacara 89 Tahun Hari Sumpah Pemuda tahun ini di alun-alun Kebumen, Jum'at (27/10).

Disamping upacara digelar maju sehari yaitu pada tanggal 27 Oktober 2017, di tengah-tengah ribuan peserta yang memadati sisi utara alun-alun Kota Kebumen ada sepasukan pelajar setingkat SMA dengan memakai baju adat nampak bersemangat membacakan ikrar Deklarasi Gerakan Anti Hoax.

Tiga puluh pelajar yang tergabung dalam komunitas Generasi Anti Hoax (GERAX) itu berasal dari berbagai sekolah di Kabupaten Kebumen. Mereka berkumpul mengenakan baju adat dari berbagai daerah, mulai Jawa, Sumatera hingga pakaian adat Papua. Ada juga yang mengenakan pakaian modern berupa jas lengkap dengan pecinya.

Pilihan baju adat untuk meneladani semangat para pemuda Nusantara 89 tahun silam. Ketika mereka berkumpul dari berbagai wilayah di Nusantara untuk menyatukan tekad dan semangat dalam satu janji suci Sumpah Pemuda.

Pasukan GERAX ini berbaris rapi dari pinggir, dengan langkah mantap menuju ke hadapan Inspektur Upacara, Bupati Kebumen, Ir. HM. Yahya Fuad, SE. Sampai di tempat pembacaan ikrar Deklarasi Anti Hoax, pasukan ini bermanuver membentuk barisan setengah lingkaran.

Dipimpin oleh Yadi Nur, siswa SMA Negeri 1 Karanganyar, pasukan GERAX membacakan Ikrar Deklarasi Gerakan Anti Hoax. Bahwa Hoax, Hate Speech dan Scam adalah perbuatan keji, tercela yang harus dilawan dan diperangi. Karena hoax terbukti telah mengancam persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.

Sebagaimana diketahui, GERAX adalah komunitas mitra binaan Polres Kebumen, merupakan bagian dari program kerja Relawan TIK Indonesia daerah Kebumen. Sebelumnya, sejak dibentuk 31 Agustus lalu di Mapolres Kebumen, hingga saat ini, GERAX terus melakukan kegiatan literasi Sehat dan Cerdas Berinternet ke sekolah-sekolah.

Bupati Kebumen, Ir. HM. Yahya Fuad, SE yang berkenan menerima perwakilan GERAX setelah upacara, menyampaikan apresiasi dan siap untuk melantik atau mengukuhkan kepengurusan RTIK Kebumen juga GERAX.

"Ini luar biasa, suatu organisasi belum dilantik tapi sudah menunjukkan kinerja positif. Biasanya kan organisasi dilantik baru bekerja, atau malah habis dilantik terus bubar. Lanjutkan, jajaran OPD terkait siap bersinergi dengan RTIK juga GERAX" ujar Bupati di pendopo rumah dinas.

Pada kesempatan yang sama Kapolres Kebumen, AKBP. Titi Hastuti, S.Sos juga merasa puas dan antusias melihat anak-anak binaannya menunjukkan performa yang membanggakan.

"Kami akan terus membina dan memantau kegiatan GERAX agar konten hoax dan ujaran kebencian bisa ditekan, khususnya di wilayah Kebumen" terang Kapolres.

Pada kesempatan tersebut, pasukan GERAX bersama Kapolres dan sejumlah anggota Polres Kebumen berkesempatan membuat video ucapan selamat kepada Kapolri, Jenderal Pol. Tito Karnavian, yang merayakan ulang tahun ke 53 pada Kamis 26 Oktober kemarin. Juga atas dikukuhkannya Jenderal Tito sebagai Guru Besar di Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK). (ALH / Bhayangkara Indonesia News).

Selasa, 17 Oktober 2017

AKBP Titi Hastuti, S.Sos ; Polres Kebumen Siaga Antisipasi Bencana

KEBUMEN – (17/10/2017) Hujan yang terus melanda Kabupaten Kebumen pada Senin (16/10) siang sampai malam hari, mengakibatkan air sungai meluap dan masuk ke wilayah perkampungan warga. Luapan sungai Kedungbener membanjiri hampir semua pedesaan disekitar sungai yang bermuara di Sungai Lukulo itu.

Air dengan kedalaman kurang lebih 1 meter masuk ke rumah-rumah warga. Beruntung warga sekitar aliran sungai yang sudah siaga sejak sore hari bisa menyelamatkan diri dan harta benda nya. Hanya tercatat satu sepeda motor yang sempat hanyut terbawa derasnya aliran banjir namun akhirnya bisa ditemukan pada siang harinya.

Selain sungai besar, sungai-sungai kecil pun meluap membanjiri areal persawahan, tidak mampu menahan limpahan air hujan yang turun semalaman.

Tidak hanya banjir, hujan juga mengakibatkan tanah longsor di berbagai titik seperti Kecamatan Ayah, Rowokele, Karanggayam dan Alian. Longsoran tanah yang menimpa rumah warga menimbulkan kerugian material puluhan juta rupiah. Pohon-pohon yang tumbang akibat tanah yang mengikat akarnya menjadi lunak pun turut menyumbang kerusakan di beberapa rumah milik warga di Kecamatan Puring, Buluspesantren dan Buayan.

Kepala Kepolisian Resor Kebumen AKBP Titi Hastuti, S.Sos yang memantau langsung lokasi terdampak bencana siang ini, Selasa (17/10) mengatakan, bahwa Polres Kebumen dan jajaran telah menyiagakan personilnya untuk mengantisipasi datangnya bencana pada musim penghujan ini.

“Kami tetap memprioritaskan pada upaya penyelamatan jiwa manusia apabila terjadi bencana alam, kemudian baru material atau harta benda milik penduduk yang terkena bencana.” jelasnya seraya berharap masyarakat yang bermukim disekitar aliran sungai untuk waspada terhadap terjadinya banjir susulan bila hujan turun lagi dengan intensitas yang tinggi.

Terkait munculnya buaya di Sungai Lukulo yang menghebohkan warga Desa Kedungwinangun, Klirong, Kasubbag Humas Polres Kebumen AKP Willy Budiyanto, SH, MH menghimbau warga sekitar untuk waspada dan sementara menjauh dari pinggiran sungai.

“Kewenangan dan kemampuan untuk melakukan penangkapan terhadap buaya ada pada Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), karena kita ketahui bersama, ada beberapa spesies buaya yang dilindungi di Indonesia. Untuk itu kita hanya bisa menghimbau kepada masyarakat untuk waspada dan sementara menjauh dari tepian sungai Lukulo dimana binatang itu muncul" tutup Willy. (Humas Res Kebumen / Bhayangkara Indonesia News).

Senin, 09 Oktober 2017

Parah, Tiga Siswi Digagahi Lima Laki Laki di Pasar Hewan Kebumen

KEBUMEN – (9/10/2017) Bikin geleng geleng kepala, Polsek Kebumen Polres Kebumen menangani empat kasus persetubuhan dan pencabulan di bawah umur sekaligus.

Kasus ini sekaligus menjadi kasus menonjol yang ditangani Polres Kebumen dalam pertengahan tahun 2017 ini.

Dalam kasus tersebut, sedikitnya empat tersangka diamankan Polsek Kebumen. Satu diantaranya tersangka masih berstatus di bawah umur.

Para tersangka yang diamankan polisi masing masing berinisial, PC (21)warga Kebumen, MF (20) warga Buluspesantren, RZ  (14) warga Buluspesantren dan FR (20) warga Buluspesantren Kebumen.

Untuk tersangka berinisila AN saat ini masih dalam pengejaran (DPO).

Korban dalam kasus ini adalah tiga siswi dan masih di bawah umur, warga Ambal.

Saat dihubungi Kapolres Kebumen AKBP Titi Hastuti melalui Kasubbag Humas Polres Kebumen AKP Willy Budiyanto menerangkan, ke empat tersangka kini berada di Rutan Polsek Kebumen dan masih menjalani pemeriksaan, Senin (09/10) pagi.

Berdasarkan informasi, ke tiga korban “Mawar, Melati, Kenanga” (bukan nama asli) digagahi tersangka pada tanggal 1-2 Oktober kemarin.

“Ada yang melakukan pencabulan, ada pula tersangka yang melakukan persetubuhan. Kini kasusnya masih didalami. Mereka melakukan aksi bejatnya di Pasar Hewan Kebumen pada malam hari pada tanggal tersebut,” kata AKP Willy.

Masih kata AKP Willy, 3 tersangka berhasil diamankan polisi pada hari Rabu tanggal 4 oktober dan 1 tersangka berinisial FR menyerahkan diri pada hari Sabtu (07/10) malam.

"Penangkapan tersangka dilakukan Rabu (4/10/2017), tetapi tersangka FR menyerahkan diri di Polsek Kebumen, Sabtu (7/10/2017) malam setelah sempat dilakukan pencarian," Imbuhnya.

Akibat perbuatannya tersangka PC dan MF terancam pasal 81 sedangkan RM, FA serta AN terancam pasal 82 UU RI No 17 Tahun 2016 tentang penetapan peraturan pemerintah pengganti UU No. 1 Tahun 2016 tentang perubahan kedua atas UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Menjadi Undang-Undang.

"Kami menghimbau orang tua untuk mengawasi pergaulan anak, mengontrol penggunaan handphone, dan membekalinya dengan ilmu agama agar tidak terjerumus pada pergaulan yang salah," tuturnya.

(humas/res kebumen / Bhayangkara Indonesia News).

Kamis, 05 Oktober 2017

105 Siswa Setingkat SMA Ikuti Seleksi Program Binlat Masuk Polri

KEBUMEN - (5/10/2017) Sebanyak 105 pelajar setingkat SMA di Kabupaten Kebumen mengikuti seleksi administrasi penjaringan calon peserta pembinaan latihan masuk Polri di Polres Kebumen, Kamis (05/10) sore.

50 peserta yang lolos, nantinya akan berkesempatan mengikuti bimbingan dan latihan yang difasilitasi oleh Polres Kebumen dan Pemda Kabupaten Kebumen untuk mengikuti pembinaan dan latihan persiapan seleksi masuk Polri tahun 2018 mendatang.

Kapolres Kebumen AKBP Titi Hastuti, melalui AKP Sugiriyanto selaku Kepala Tim Administrasi seleksi mengatakan, bagi yang lolos, mulai bulan November hingga Februari 2018 akan mengikuti pelatihan.

"Bagi yang lolos, kita persiapkan untuk mengikuti seleksi penerimaan Polri tahun depan. Mereka akan kami latih sebagaimana test masuk Polri. Sehingga mereka punya gambaran. Tanpa dipungut biaya," kata AKP Sugiriyanto disela sela memimpin proses seleksi administrasi.

Masih kata AKP Sugiriyanto, bagi para peserta yang dinyatakan lolos seleksi penjaringan tersebut, belum bisa dikatakan lolos masuk pendidikan.

"Artinya, mereka tetap harus ikut seleksi saat ada pembukaan penerimaan Polri. Lolos penjaringan belum tentu lolos test masuk pendidikan. Namun, setidaknya mereka selangkah di depan karena sudah mempersiapkan diri dari awal," ucapnya.

Salah satu peserta Rifanda (17) pelajar SMK asal Rowokele mengaku senang ada program tersebut, karena dirinya, dari awal memang bercita cita ingin jadi Polisi.

"Dari dulu saya bercita cita ingin jadi polisi. Saya suka polisi. Maka dari itu saya ikut seleksi ini," katanya.

Lain halnya dengan Siti Nurikah (18) yang juga pelajar SMK di Rowokel, mengungkapkan ingin sekali jadi polwan karena sering nonton polisi di tv.

"Polisi keren. Saya sering nonton di tv. Saya ingin sekali jadi polwan. Ingin bahagiakan orang tua," ungkapnya saat mengikuti seleksi.

(Humas res Kebumen / Bhayangkara Indonesia News).

Minggu, 01 Oktober 2017

M. Jasin, Jenderal Polisi Dibalik Peristiwa 10 Nopember 1945

Sekilas Tentang Sejarah Bangsa Indonesia

TANPA KEPOLISIAN TIADA HARI PAHLAWAN

Peran Polisi tidak pernah diungkit-ungkit dalam peristiwa Hari Pahlawan. Padahal Peran Polisi sangat utama karena tanpa Polisi tidak ada yang namanya Hari Pahlawan yang sekarang setiap tahun kita peringati. Masyarakat banyak yang tidak tahu tentang sejarah Polisi bahkan di kalangan Polisi sendiri pun kurang akan kesadaran sejarahnya sendiri. Padahal Bung Karno mengatakan, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa pahlawannya”.

“Tanpa peran M. Jasin dan Pasukan Polisi Istimewa tidak akan ada peristiwa 10 November.”

Demikian pernyataan Jenderal (TNI) Moehammad Wahyu Soedarto, seorang tokoh yang terlibat dalam peristiwa heroik 10 November 1945. 10 November 1945 diabadikan dalam sejarah bangsa dan diperingati sebagai Hari Pahlawan. Peristiwa ini terjadi di Surabaya dan di kota Pahlawan ini Polisi pernah melaksanakan “Proklamasi Polisi” Dalam ejaan lama yang berbunyi :

“Oentoek bersatoe dengan rakjat dalam perdjoeangan mempertahankan Proklamasi 17 Agoestoes 1945, dengan ini menjatakan Polisi sebagai Polisi Repoeblik Indonesia”.
Soerabaja, 21 Agoestoes 1945
Atas Nama Seloeroeh Warga Polisi
Moehammad Jasin – Inspektoer Polisi Kelas I.

Proklamasi Polisi itu merupakan suatu tekad anggota Polisi untuk berjuang melawan tentara Jepang yang masih bersenjata lengkap, walaupun sudah menyerah. Proklamasi itu juga bertujuan untuk meyakinkan rakyat bahwa Polisi adalah aparat negara yang setia kepada Republik Indonesia yang berjuang bersama rakyat dan bukanlah alat penjajah. Ketika terjadi insiden bendera, 19 september 1945, Polisi Pimpinan Moehammad Jasin bergerak cepat mereka menyatu dengan rakyat.

Jenderal TNI Muhammad Wahyu Sudarto – Pelaku 10 November 1945, menyatakan :

“Saya hanyalah bagian dari sejarah perjuangan tanah air. Itu pun Cuma di Jawa Timur, khususnya di Surabaya. Sebetulnya pada “Peristiwa Surabaya” ada tokoh yang lebih hebat tetapi di mana kini tidak banyak yang kenal. Namanya Moehammad Jasin, orang Sulawesi Selatan. Jika beliau tidak ada, Surabaya tidak mungkin seperti sekarang. Beliau adalah Komandan Pasukan Polisi Istimewa. Kalau tugas Bung Tomo adalah “memanas-manasi rakyat”, Pak Jasin ini memimpin pasukan tempur. Kesatuannya boleh dibilang kecil, cuma beberapa ratus orang saja. Itu sebabnya mereka bergabung dengan rakyat. Kalau rakyat sedang bergerak, di tengah-tengah selalu ada truk atau panser milik Pasukan Polisi Istimewa lengkap dengan senjata mesin.

Melihat Rakyat bak gelombang yang tak henti-henti itu, Jepang yang waktu itu sudah kalah dari Pasukan Sekutu menyerah kepada RI dan intinya adalah Pak Jasin.
Demikian pula kala Inggris (Sekutu) mendarat di Surabaya. Bila tidak ada Pak Jasin, arek-arek Suroboyo tidak bisa segalak itu. Pasukan Inggris datang pertama kali dengan satu brigade pada 28 Oktober 1945. Namun, setelah mereka terdesak, secara bertahap mendarat lagi empat brigade” (JENDERAL TNI MUHAMAD WAHYU SUDARTO – PELAKU 10 NOVEMBER 1945)

Polisi Istimewa (PI) yang sekarang bernama Brigade Mobil (Brimob) adalah jelmaan  dari CSP (Central Special Police). Apalagi, pada Agustus 1945 itu, hanya Polisi yang masih memegang senjata. Karena, setelah Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu, penguasa Jepang di Indonesia membubarkan tentara PETA dan Heiho, sedangkan senjata mereka dilucuti. Soetamo (Bung Tomo), pemimpin Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia (BPRI) yang juga salah satu pejuang terkemuka dalam peristiwa 10 November 1945 di Surabaya, menyatakan :

“PETA diharapkan dapat mendukung perjuangan di Surabaya tahun 1945 , tetapi PETA membiarkan senjatanya dilucuti oleh Jepang, untung ada Pemuda M. Jasin dengan pasukan-pasukan Polisi Istimewanya yang berbobot tempur mendukung dan mempelopori perjuangan di Surabaya.”- Soetomo (Bung Tomo)

Pasukan Polisi Istimewapun pada saat itu diperintahkan oleh Jepang untuk menyerahkan senjatanya, karena Jepang ditugaskan oleh sekutu untuk menjaga dan memelihara keamanan di Indonesia agar sekutu dengan aman dapat menginjakkan kakinya di bumi Indonesia. Namun secara tegas Polisi menolak perintah tersebut sehinga pada masa itu hanya Polisi yang memiliki persenjataan sedangkan kesatuan lain tidak ada.

Hal ini juga ditegaskan oleh Jenderal TNI AD SUDARTO ex. TRIP dan pelaku 10 Nop 1945 sbb :

“Omong kosong kalau ada yang mengaku di bulan Agustus 1945 memiliki kesatuan bersenjata. Yang ada pada waktu itu hanya pasukan-pasukan Polisi Istimewa pimpinan M. JASIN, bahkan ia menyatakan bahwa tanpa peran pasukan-pasukan Polisi Istimewa dibawah pimpinan M. JASIN tidak akan ada peristiwa 10 Nopember 1945.”
- Jenderal TNI AD SUDARTO ex. TRIP dan pelaku 10 Nop 1945.

Pernyataan itu menunjukkan bahwa jika pertempuran itu berlangsung tanpa dukungan dan kepeloporan Pasukan Polisi Istimewa, niscaya patriotisme perjuangan rakyat di Surabaya tidak akan seheroik apa yang tercatat dalam sejarah. Hal itu juga dikuatkan dalam pidato peresmian Monumen Perjuangan Polisi Republik Indonesia di Surabaya yang disampaikan oleh Pangab RI, Jenderal (TNI) Tri Surtrisno pada 2 Oktober 1988 : “Kekuatan Pasukan Polisi Istimewa pimpinan M. Jasin harus dikaji oleh seluruh bangsa Indonesia.”

Lebih lanjut Jendral (TNI) Tri Sutrisno mengatakan, “Tindakan Inspektur I Moehammad Jasin untuk mempersenjatai Rakyat Pejuang telah memberikan andil yang cukup besar dalam gerak maju para pejuang kemerdekaan di Surabaya, yang kemudian mencapai puncaknya dalam pertempuran heroik di Surabaya tanggal 10 Nopember 1945”.

Persenjataan yang dibagikan oleh Polisi ini didapat dari gudang-gudang senjata tentara Jepang yang diserbu dan direbut secara paksa maupun dengan perjanjian penyerahan senjata dengan jaminan keselamatan tentara Jepang karena mereka sudah amat terdesak hingga menyerah. Dalam perjanjian penyerahan senjata ini, M. Jasin hadir sebagai wakil dari pihak Indonesia dan menjamin keselamatan jiwa tentara Jepang yang menyerah.

Seperti yang tercatat dalam buku Soetjipto Danoekoesoemo, "Hari-Hari Bahagia Bersama Rakyat". Tiga peleton tentara Jepang menyerahkan senjata kepada Polisi Istimewa Seksi I dengan syarat keselamatan mereka dijamin, pada 1 Oktober 1945.

Pada 2 Oktober 1945, di Gedung General Electronics di Kaliasin, Jepang menyerahkan senjata setelah terjadi pertempuran sengit dengan Tim Polisi Istimewa di bawah pimpnan Soetjipto Danoekoesoemo. Dalam pertempuran ini tentara Jepang mengeluarkan senjata-senjata mitraliur.

Pada Hari yang sama, M. Jasin yang bersama Soetomo (Bung Tomo) yang mewakili pihak Indonesia berhasil menandatangani perjanjian penyerahan senjata untuk membuka gudang Arsenal tentara Jepang yang terbesar se-Asia Tenggara di Don Bosco-Sawahan, Surabaya. Pelucutan ini diawali dengan perlawanan sengit tentara Jepang. Setelah terjadi tembak-menembak sengit dan menelan korban jiwa barulah Jepang menyerahkan senjata.

Pada akhirnya tentara Jepang menyerahkan seluruh persenjataan, termasuk tank dan panser kepada Polisi Istimewa. Polisi Istimewa kemudian membagi-bagikan senjata tersebut kepada rakyat dan pemuda dalam organisasi. perjuangan.

Senjata rampasan yang dibagikan tersebut menjadi modal awal terbentuknya Badan Keamanan Rakyat (BKR) yang kemudian berubah menjadi TKR (Tentara Keamanan Rakyat).

Segera setelah itu, Surabaya dibanjiri senjata api dari berbagai jenis yang digunakan untuk menghadapi pasukan Inggris dan Belanda pada peristiwa Hari Pahlawan.

Karena terlalu banyaknya senjata yang beredar di Surabaya, maka berbagai senjata tersebut juga didistribusikan keseluruh pelosok pulau Jawa untuk mendukung perjuangan di wilayah masing-masing. Senjata-senjata tersebut bahkan juga sampai ke Bandung dimana perjuangan di sana dikenal dengan peristiwa Bandung Lautan Api.

Dalam pertempuran-pertempuran melawan tentara Jepang, Abdul Radjab ex TRIP, pelaku 10 Nopember 1945, menyatakan :

“Pasukan-pasukan Polisi Istimewa bertempur melawan Tentara Jepang dengan gagah berani” - Abdul Radjab ex TRIP, pelaku 10 Nopember 1945

Keterlibatan M. Jasin sebagai pasukan Polisi Istimewa dalam peristiwa heroik itu jelas tidak diingkari oleh semua tokoh pejuang yang terlibat. Bahkan seorang Jenderal TNI AD, Abdul Kadir Besar SH, juga menyatakan : “Saya berani mempertanggungjawabkan pemberian kedudukan bagi Moehammad Jasin sebagai Singa Pejuang Republik Indonesia berdasarkan jasa-jasanya.”

Penyataan senada diberikan juga oleh seorang tokoh penting peristiwa 10 November 1945, DR. H. Roeslan Abdulgani, yaitu : “M. Jasin dan Polisi Istimewa yang dipimpinnya adalah modal pertama perjuangan di Surabaya.”

Demikian Pula pernyataan Jenderal (TNI) Moehammad Wahyu Soedarto, seorang tokoh yang terlibat dalam persitiwa heroik itu, yaitu : “Tanpa peran M. Jasin dan Pasukan Polisi Istimewa tidak akan ada peristiwa 10 November.”

Kehebatan Pasukan Polisi Istimewa dalam arena perjuangan Surabaya bukan hanya dikagumi kawan tapi juga disegani oleh lawan. Hal ini terdapat dalam pernyataan resmi Van der Wall, seorang Menteri Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan (Ministerie van Onderwijs en Wetenschappen) Pemerintah Belanda : “De Poelisi Istimewa, de gewezen Poelisi Istimewa guderende de Japanse tijd, onder leiding van M. Jasin is niets anders dan een Militaire strijd kracht.” (Polisi Istimewa, Mantan Polisi Istimewa diwaktu Jepang, pimpinan M. Jasin tidak lain adalah satu kekuatan tempur militer).

Sumber :
Memoar Jasin Sang Polisi Pejuang
Meluruskan Sejarah Kelahiran Polisi Indonesia
Diterbitkan oleh PT. Gramedia Pustaka Utama
Jakarta, 2010