Cari Blog Ini

Kamis, 31 Agustus 2017

Pelajar Kebumen Deklarasikan Generasi Anti Hoax ( GERAX)

Kebumen - (31/8/2017) Bertempat di Gedung Tribrata Polres Kebumen, ratusan pelajar SMA, MA dan SMK di wilayah Kebumen mendeklarasikan terbentuknya jaringan Generasi Anti Hoax yang disingkat GERAX, Kamis siang ini (31/8).

Acara yang dimotori oleh Polres Kebumen ini menghadirkan perwakilan siswa dari sekolah menengah yang terdiri dari pengurus OSIS dan Dewan Pramuka di sekolah masing-masing, dikemas dalam tajuk Sosialisasi Cerdas Berinternet bagi Kalangan Pelajar dan Remaja.

Kapolres Kebumen, AKBP. Titi Hastuti, S.Sos yang membuka secara langsung sekaligus sebagai Keynote Speaker menjelaskan bahwa fenomena Hoax, ujaran kebencian dan penipuan via media online sudah sangat mengkhawatirkan.

"Perkembangan media sosial, terutama maraknya konten Hoax, ujaran kebencian, hasutan dan penipuan via media online sudah sangat memprihatikan. Kami merasa perlu membentengi generasi muda terutama kaum pelajar dengan bekal cerdas berinternet dan bermedia sosial" terang Kapolres Kebumen, AKBP. Titi Hastuti, S.Sos dalam sambutannya.

"Bapak Presiden Joko Widodo juga Bapak Kapolri, secara jelas memberi perhatian khusus terhadap penanganan ujaran kebencian dan penyebaran Hoax. Untuk itu, kami berinisiatif untuk mengundang dan mengumpulkan para pelajar Kebumen untuk cerdas menyikapi informasi dan melawan setiap upaya provokasi" lanjut Bu Titi penuh semangat.

Panitia menghadirkan narasumber, dari Redaksi Bhayangkara Indonesia News, Arief Luqman El Hakiem, yang sekaligus sebagai Redaktur Pelaksana Maspolin atau Masyarakat Polisi Indonesia.

Dalam paparannya, Arief menjelaskan tentang sejarah medsos, strategi penanganan hoax dan cara jitu menghadapi scammer (penipuan) media online.

"Sekarang medan perang dan aksi kejahatan banyak bergeser dari dunia nyata ke dunia maya. Meski aparat sudah membentuk Pasukan Cyber yang melakukan patroli siber secara intensif, namun pembekalan dan pelibatan masyarakat untuk waspada dalam menggunakan internet, tetap harus dilakukan" terang Arief Luqman.

Kegiatan Sosialisasi Cerdas Berinternet ini berlangsung dari sekira pukul 09.00 WIB hingga pukul 11.00 WIB, dilanjutkan pembacaan ikrar Deklarasi Gerakan Anti Hoax disingkat GERAX. Dengan penuh semangat dan antusias, para peserta menyatakan diri sebagai Generasi Anti Hoax yang siap melawan dan memerangi segala bentuk provokasi, hasutan dan penyebaran Hoax yang mengancam ketentraman juga persatuan.

Pembacaan dan penandatanganan deklarasi juga disaksikan oleh pejabat Forkompinda (Forum Komunikasi Pimpinan Daerah) Kabupaten Kebumen. Nampak hadir Pimpinan DPRD, Wakil Bupati, Komandan Kodim 0709 dan Ketua Pengadilan Negeri Kebumen.

Hadir pula menyaksikan pembacaan ikrar Deklarasi Gerakan Anti Hoax, jajaran pejabat dari Dinas Pendidikan Kabupaten Kebumen, Dinas Kominfo, Komandan Satpol PP, Kepala Kesbangpol Linmas Kebumen dan kalangan pers.

Para pejabat Forkompinda berkesempatan memberikan sambutan dan wejangan kepada para pelajar untuk waspada, semangat dan lebih cerdas dalam menghadapi serangan media sosial.

Tidak lupa, setelah acara ditutup dengan menyanyikan lagu Bagimu Negeri, para peserta berebut berfoto bersama dengan Ibu Kapolres Kebumen dan jajaran pejabat Forkompinda. (Humas Res Kebumen /Bhayangkara Indonesia News).

Rabu, 30 Agustus 2017

Hoax ; Sejarah dan Perkembangannya


Anda mungkin telah mengetahui tentang hoax yang sekarang ini sedang tren dan dianggap sebagai musuh terbesar pengguna internet dan jejaring sosial. Namun apakah Anda mengetahui defenisi hoax yang sebenarnya dan juga sejarahnya hingga sekarang menjadi sangat populer? Berikut pemaparan tentang hoax secara luas untuk Anda ketahui dan mungkin Anda juga berminat untuk menjadi debunker.

Sejarah Hoax

Hoax (dibaca: Hoks) adalah sebuah tipuan dan kebohongan yang menyamar sebagai kebenaran, istilah ini populer di internet dan media sosial karena peredaran hoax memang lebih mudah berkembang di internet dan media sosial.

Kata "hoax" berawal dari "hocus pocus" yang berasal dari bahasa latin "hoc est corpus" yang artinya "ini adalah tubuh". Kata ini awalnya digunakan oleh penyihir untuk mengklaim kebenaran, padahal sebenarnya mereka sedang berdusta.

Hocus digunakan untuk menipu yang digunakan untuk sihir atau mantra para penyihir dan pesulap jaman dahulu. Kata "hoax" sendiri didefinisikan sebagai tipuan berasal dari Thomas Ady dalam bukunya candle in the dark (tahun 1656) atau risalah sifat sihir dan penyihir.

Istilah hoax biasa digunakan untuk berita palsu, legenda urban, rumor, dan kebohongan yang menipu. Pada dasarnya hoax diciptakan untuk menipu banyak orang dengan cara merekayasa sebuah berita agar terkesan menjadi sebuah kebenaran.

Istilah Hoax mulai populer berdasarkan film drama Amerika yang dibintangi oleh Richard Gere "The Hoax". Film itu dirilis tahun 2006 yang disutradarai oleh Lasse Hallstrom, penulis skenario William Wheeler yang berdasarkan dari novel dengan judul yang sama karya Clifford Irving (1981). Dalam film "The Hoax", Irving ikut membantu sebagai penasihat teknis, namun ternyata hasil skenario film sangat jauh berbeda dengan isi novel aslinya.

Banyak kejadian yang diuraikan Irving dalam bukunya telah diubah atau dihilangkan dari film. Dengan alasan tidak suka dengan skenarionya yang melenceng jauh dari novel aslinya, Irving memutuskan mengundurkan diri dan tidak mau terlibat dalam pembuatan film itu dan meminta namanya dihapus dari kredit film tersebut.

"Saya dipekerjakan oleh produser sebagai penasihat teknis film, namun setelah membaca naskah terakhir saya meminta agar nama saya dihapus dari kredit film, itu mungkin disebabkan karena plot naskah tidak sesuai dengan novel aslinya," kata Irving.

Sejak saat itu film "The Hoax" dianggap sebagai film yang banyak mengandung kebohongan. Istilah hoax mulai populer digunakan dikalangan netizen berasal dari film tersebut untuk menggambarkan sebuah kebohongan. Seiring berjalannnya waktu, kata "hoax" mulai ngehits dan gencar digunakan netizen diseluruh dunia termasuk Indonesia untuk menyebut sebuah kebohongan.

Tentang Kebenaran

Subjektivitas adalah kebenaran, dan kebenaran adalah subjektivitas. Makna kebenaran bukan tentang menemukan fakta-fakta objektif secara pribadi dari pengalaman hidup, kebenaran ditemukan dalam bagaimana seseorang berhubungan dengan pengalaman-pengalaman pribadi dan orang lain.

Pada dasarnya, setiap orang tidak akan dapat menemukan kebenaran dengan caranya sendiri, menentukan kebenaran harus mempelajari setiap kebenaran dari berbagai sudut pandang dengan menempatkan diri pada posisi yang berbeda-beda (berhubungan satu sama lain).

Ketika seseorang selalu bertanya kepada mawar, maka mawar akan menjadi bunga yang terindah. Lalu bagaimana dengan bunga lainnya? Kebenaran akan selalu subjektif jika akal dan hati hanya melangkah pada satu arah.

Anda tidak akan menemukan kebenaran tentang 'kegelapan', sampai Anda menjalani hidup dalam kegelapan. Anda tidak akan sepenuhnya mengetahui tentang kegelapan, sebelum merasakan berada di sebuah ruang tanpa cahaya.

Logika bukanlah rumus pasti dalam menemukan kebenaran. Terkadang kita harus menyentuh api untuk dapat mengetahui seberapa panas yang dihasilkan oleh api. Pada hakekatnya kebenaran selalu tersembunyi, jangan pernah berharap menemukan kebenaran dalam teori paradigma. Sejatinya kita tidak akan mungkin mendapatkan jawaban dari pertanyaan, jika pertanyaan enggan untuk hinggap untuk menyapa kebenaran.

Tentang Hoax

Netizen Indonesia pada umumnya hanya sebatas mengenal hoax sebagai 'berita palsu/tipuan'. Banyak orang yg mencoba debunked dan mengklaim mampu menganalisis hoax. Banyak orang yang 'bisa', tapi hanya sekedar bisa. Mayoritas manusia bisa bernyanyi, tapi apakah mereka yang bisa bernyanyi layak disebut penyanyi? Begitupun dengan orang-orang yang bisa membongkar hoax apakah layak disebut debunker?

Jika mendefinisikan hoax hanya sebatas berita palsu, alangkah baiknya Anda mempelajari kembali definisi hoax secara luas. Hoax tidak lepas dari perjalanan sejarah, dalam esensinya sejarah mencatat sebuah tradisi "Satir Art Hoax" (SAH). Apa itu satir art hoax? Satir adalah kritikan, art adalah seni, sedangkan hoax adalah tipuan/manipulasi/mengakali/kebohongan.

Sejarah mencatat SAH dimulai sekitar abad ke-7. SAH digunakan oleh kritikus untuk mengkritik fenomena kehidupan dalam masyarakat. Tradisi SAH dimainkan oleh seorang kritikus dalam mengkritik sebuah karya seni.

Contoh kasuh SAH terjadi pada tahun 1938, seorang petani Perancis menemukan sebuah patung marmer wanita yg terkubur di dalam tanah di ladang miliknya. Para ahli seni memuji penemuan besar itu yang diidentifikasi sebagai karya seni Yunani-Romawi dari abad ke-1 SM. Namun, akhirnya seorang seniman bernama Francesco Cremonese mengakui telah membuat patung itu, dua tahun sebelumnya ia dengan sengaja mengubur patung itu. Cremonese menjelaskan bahwa apa yg dilakukannya semata hanya untuk menunjukan kurangnya pengakuan yg tidak layak atas dirinya sebagai seorang seniman. Dia menganggap karya seni hanya diakui dan dihargai jika itu berasal dari masa lalu.

Satir art hoax juga digunakan kritikus dalam mengkritik para akademisi yang banyak menghabiskan waktunya di dalam rumah untuk selalu belajar, sehingga mereka tidak bisa menikmati kehidupan di luar yang lebih luas dan bebas. Hoax mulai populer pada abad ke-20, melalui perkembangan internet. Pada awalnya Satir Art Hoax, lalu berubah menjadi Satir Hoax, kemudian kian keluar dari jalur menjadi Satir dan/atau Hoax. Jadi, jika merunut pada perjalanan sejarah, definisi hoax tidak sempit hanya berkutat pada masalah " berita palsu". Hoax mencakup suatu perbuatan yang bertujuan untuk menipu/membohongi orang lain dengan cara memanipulasi, mengakali, ataupun menutupi fakta yang sebenarnya.

Menjadi seorang debunker butuh proses panjang untuk mengasah kemampuan, tidak hanya terfokus pada ruang sempit (selalu mengandalkan informasi dari internet dan pada kasus yang mudah). Banyak debunkers terkenal di masa lalu yg belum mengenal internet berhasil memecahkan kasus. Seperti Stephen Barret yg membongkar tentang perdukunan medis, Philip Klass pelopor dalam bidang penyidikan skeptis UFO, dan ada juga Harry Houdinidebunked spiritualis.

Sumber : hoaxes.id

Ketika Master SEO, M. Khoirul Amin "Ngulik" Seputar Fenomena Hoax Bersama Kabid Humas Polda Kepulauan Riau

Tanjungpinang- (30/8/2017) Ada pemandangan menarik di malam acara Pameran Inovasi Pelayanan Publik yang digelar Polda Kepulauan Riau, kemarin malam, Selasa (29/8). Nampak Mohammad Khoirul Amin, tokoh dibalik berbagai inovasi pelayanan publik Institusi Polri tengah berbincang santai dengan Kabid Humas Polda Kepri, Kombes Pol. Drs. Erlangga di Gedung Lancang Kuning, Polda Kepri.

Dengan mengenakan pakaian santai mereka berdua nampak ngobrol serius seputar fenomena Hoax dan strategi conter opini untuk meningkatkan branding Institusi Polri. Mereka berdiskusi di tengah persiapan menyambut kedatangan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Dr. Asman Abrur, SE, M.Si esok harinya, Rabo (30/8).

Sebagaimana disampaikan oleh Kapolri, Jenderal Polisi Drs. HM. Tito Karnavian, MA, PhD, dalam berbagai kesempatan, bahwa kepercayaan masyarakat terhadap Institusi Polri, 50% nya dipengaruhi oleh media, 30% dari perilaku anggota di masyarakat, dan 20% dari kenerja.

Artinya, tingkat kepercayaan dan ketidakpercayaan masyarakat terhadap Polri sangat dipengaruhi oleh pemberitaan di media, baik cetak, elektronik maupun media online.

Disinilah peran strategis, media online dan komunitas masyarakat yang cinta polri yang biasa disebut Netizen Polri. Dari Netizen kemudian meningkat menjadi Komunitas Blogger Polri. Mereka adalah kelompok masyarakat yang secara intensif membantu polri melakukan conter opini dan menyebarkan kegiatan humanis serta prestasi Korps Tribrata.

Kepada Kabid Humas Polda Kepri, Mohammad Khoirul Amin, yang dikenal sebagai Master SEO ( Search Engine Optimazing) menjelaskan beberapa teori Cyber Troop dan strategi membentuk Komunitas Blogger Polri yang tangguh sehingga mampu persempit penyebaran konten Hoax di media online.

Khoirul Amin adalah otak dibalik inovasi pelayanan publik, SKCK online yang pertama kali diluncurkan oleh Kapolri di Polres Sidoarjo beberapa waktu yang lalu. Inovasi SKCK online ini kemudian diterapkan di beberapa polres, seperti Bojonegoro, Kampar, dan yang terbaru adalah Polres Tanjungpinang, Polda Kepri.

Dalam pameran tersebut Polres Tanjungpinang yang dipimpin AKBP Ardiyanto Tedjo Baskoro, SH, SIK, MH, menampilkan aplikasi SKCK Online, SP2HP Online, Pengaduan Online yang dikemas dalam satu wadah aplikasi besar dengan nama Tanjungpinang One Touch ( TOT ).

Sementara itu, atas prestasi dan dedikasinya, Mohammad Khoirul Amin pernah mendapat penghargaan dari kepolisian Belanda dan FBI sebagai programmer pembuat sistem C.I.S (Crime Investigation System). Pria yang punya semboyan “Saya memang kadang berjalan dengan lambat tapi saya tidak pernah mundur” ini memiliki banyak anak untuk berbagi ilmu dan pengalaman. Banyak telanta muda yang dipoles oleh Khoirul Amin menjadi instruktur dan mentor beberapa polres untuk membuat inovasi pelayanan publik nya, seperti SKCK online, SP2HP online dan sidik jari online.

Berikut biografi dari sosok inspiratif ini :
Nama : M. Khoirul Amin, S.H., S.Kom., M.Kom.
Tgl Lahir : 8 Juni 1977
Zodiak : Gemini
Shio : Ular
Bapak Asuh : Irjen Pol Herman S. Sumawiredja
Kakak Asuh : Kombespol Dwi Setyadi, Kombespol M. Iqbal, Kombespol Nasri , Kombes Pol Muh Anwar Nasir S.Ik MH

Leader of Cybernet Teamwork Stikom 1997
Ketua Umum LP3i Computer Club Indonesia 1998
Ketua Umum Independent Enterprise – 1999
Dosen dan Tim Pengajar pengembangan profesi LP3i 2000
Ceo Of 1st Comp ( your system solution ) 2000
Tim anggota Pencipta FBI ( Forum belajar Informatika Unitomo ) 2001
CEO Of 1st Comp ” your system solution” 2001
Manager E.D.P PT.Buana Elang emas komunikasi – 2002
Senior Enginering JTV – 2003
Ketua Tim System Analyst Yayasan Galuh Handayani 2004
Pencipta Crime Investigation System Polda Jatim 2006
Ketua Tim Cyber Force Polda Jatim 2006
Pencipta Sistem Pengawasan Penyidikan Polda Jatim 2007
Pencipta Traffic Accident Investigation System Polda jatim 2007
Pencipta Traffic Monitoring Aanalyst Polda Jabar 2008
MovieBox Rent 1st Disc 2008
Pencipta Finger Print Crime Recognition Poltabes surabaya 2010
pencipta E-Library Crime Arsip Ditreskrimum Polda Jatim 2009
Pencipta Crime Geografis information system poltabes sby 2010
Pencipta SICK ( Sistem Informasi Catatan Kriminal ) 2011
pencipta DACAK ( data catatan kriminal )Polda Kalbar 2011
Pencipta Sispam kota Polres metro Jakut 2012
Ketua Tim Pengawas Kecurangan Pilkada Jatim 2013
Direktur PT. Gading Bahana Medinfo 2013
Komisaris Gading FM Radio Gaul Community Kelapa Gading Jakarta 2013
Ceo Of CIS-AV ( Antivirus Lokal ) 2013
Pencipta Sispamlu Polda Metro Jaya 2014
Pencipta Crime Index System Analyst Polres Metro Jakut 2014
Kepala Departemen dan pengawas Sistem Informasi Teknologi Universitas ITATS Surabaya
Pencipta SKCK Online Polresta Sidoarjo Dengan Database Nasional

Prestasi lainnya adalah Pencipta Media Management Tribratanews Polda Jawa Timur, Pencetus Halodunia.net dan masih banyak lagi jabatan-jabatan yang disandangnya dan dapat diteladani. (Arief Luqman El Hakiem / Bhayangkara Indonesia News).

HUT 69 Polwan, Polres Kebumen Dropping Air Bersih di Karanggayam

KEBUMEN - (30/8/2017) Polres Kebumen bekerjasama dengan BPBD kabupaten Kebumen memberikan bantuan air bersih kepada warga desa Kalirejo kecamatan Karanggayam kabupaten Kebumen, rabu (30/08/2017).

Kegiatan ini adalah rangkaian kegiatan Polwan dalam rangka HUT Polwan ke-69. Ini merupakan bentuk kepedulian Polwan kepada masyarakat terutama yang kekurangan air. 

Sebanyak tiga tangki air dibagikan kepada ratusan warga di desa Kalirejo yang dibagi menjadi dua titik. Warga setempat menyambut baik kegiatan ini.

Bahkan Kapolres Kebumen AKBP Titi Hastuti turun langsung membaur dengan para Polwan dan PJU Polres Kebumen untuk membagikan langsung air bersih kepada desa tersebut yang mengalami kekeringan.

Menurut AKBP Titi Hastuti, yang menjadi kebutuhan masyarakat yang paling prioritas saat ini adalah air bersih. Sehingga di moment HUT Polwan ini dilaksanakan kegiatan pembagian air bersih.

“Melihat banyak sekali desa-desa yang kekeringan, kemudian kesulitan dalam mencari air bersih sehingga kita memberikan sesuatu yang bernilai bagi masyarakat. Air sangat bernilai harganya terutama di musim kering seperti ini,” kata kapolres.

Kegiatan ini terlaksana atas kerjasama antara Polres Kebumen dengan BPBD, Muspika kecamatan Karanggayam, serta perangkat desa setempat. (Humas Res Kebumen / Bhayangkara Indonesia News).

Minggu, 27 Agustus 2017

Pasang Foto Profil Anggota TNI, Tipu Wanita Jutaan Rupiah

bhayangkaraindonesianews.blogspot.co.id - Mengaku sebagai angota Tentara Nasional Indonesia (TNI), seorang pria bernama Armanto (23) warga Desa Sebapo, Kecamatan Mestong, Kabupaten Muarajambi, Jambi, memperdaya wanita bernama Tenty Budi Hati (28) di jejering media sosial.

Korban tertipu bujuk rayu pelaku hingga menelan kerugian Rp4,9 juta. "Pelaku mengaku anggota TNI yang berdinas di Jakarta dan akan pindah ke Jambi," kata Kapolsek Jelutung AKP Benny H. Pane kepada wartawan, Sabtu, 26 Agustus 2017.

Kejadian bermula saat pelaku dan korban berkenalan di media sosial Facebook. Dari situ, Armanto mulai melakukan pendekatan kepada korban hingga membuatnya jatuh cinta. Korban bahkan dijanjikan akan dinikahi oleh pelaku.

Tak beberapa lama, Armanto pun mulai melancarkan aksinya dengan meminta tolong korban untuk meminjamkannya sejumlah uang. Anggota TNI gadungan itu mengaku memerlukan uang untuk keperluan dinas, yakni mengurus kepindahannya ke Jambi.

Korban yang sudah terlajur jatuh cinta dan percaya kepada pelaku, mengirimkan sejumlah uang dalam beberapa tahap pengiriman. Pertama, korban yang berprofesi sebagai perawat di salah satu RS di Kota Jambi itu mengirim uang senilai Rp500 ribu kepada pelaku.

Tak cukup sampai disitu, korban kembali melakukan pengiriman kedua senilai Rp1,5 juta. Korban yang sudah sangat percaya kepada pelaku kembali melakukan pengiriman ketiga Rp1,7 juta. Terakhir, korban kembali mengirim uang Rp1,2 juta, sehingga totalnya mencapai Rp4,9 juta.

"Korban yakin akan pengakuan pelaku yang sudah berhubungan melalui telepon dan akan membayar utangnya," tuturnya.

Meski begitu, janji hanya lah janji dan Armanto pun tak kunjung menghubungi korban lagi. Merasa sudah tertipu dengan TNI gadungan, korban pun melaporkannya ke polisi.

Polisi pun menyusun rencana untuk melakukan penangkapan terhadap korban. Saat dihubungi dan komunikasi melalui telepon tersambung, korban mengajak pelaku bertemu di kawasan Hutan Kota Jambi. Dari situ, pelaku dibekuk tanpa perlawanan oleh polisi.

Kepada polisi, Armanto mengaku uangnya hasil dari menipu korban digunakan untuk DP pengambilan satu unit sepeda motor. "Sisanya saya gunakan untuk kehidupan sehari-hari," bebernya.

Untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya dan kepentingan pemeriksaan, tersangka dan barang bukti diamankan di Polsek Jelutung, berikut barang bukti yakni dua lembar resi transfer uang dari korban kepada pelaku.

Sumber : beritacenter.com

Meraup Untung Dari Bisnis Hoax

bhayangkaraindonesianews.blogspot.co.id - Pembuatan konten hoax dan penyebaran kebencian berbau suku, agama, ras dan antargolongan (SARA) di dunia maya rupanya telah jadi bisnis besar. Bagaimana tidak, pelaku bisa mendapatkan uang miliaran rupiah dari sana.

Terungkapnya sindikat Saracen telah membuka mata kita bahwa konten hoax dan berbau kebencian SARA yang selama ini menyebar di media sosial sengaja dibuat demi kepentingan bisnis. 

Tapi praktik ini sejatinya bukanlah hal baru, di luar sana banyak orang yang melakukan hal serupa. Puncaknya pada pemilihan presiden (pilpres) Amerika Serikat tahun lalu. 

Salah satu yang cukup sukses adalah pemuda dari Makedonia, sebut saja Victor. Di masa kampanye pilpres itu membuat berita palsu yang menguntungkan Donald Trump, karena menurutnya banyak yang mencari berita pro Trump. Dan di sisi lain, membuat berita hoax atau kebencian yang menyasar sang lawan, Hillary Clinton.

Selama enam bulan beraksi, pendapatan yang dikantonginya tidaklah sedikit. Dalam wawancaranya dengan NBC, pemuda yang berumur 17 tahun itu mampu meraih USD 60 ribu atau sekitar Rp 800 juta.

Tapi apa yang didapat Victor mungkin belum seberapa. Karena berdasarkan penelusuran kantor berita asal Inggris, Mirror, ada pelaku yang menghasilkan pendapatan hingga USD 200 ribu atau sekitar Rp 2 miliar hanya dari menulis berita-berita hoax yang bertebaran di medsos.

Sementara berdasar riset laman Market Place lebih mencengangkan lagi. Mereka menuliskan bahwa sudah begitu besarnya bisnis ini dilihat dari sejumlah laporan yang terungkap, yaitu:

- Berdasarkan laporan LA Times, satu orang profesional di bisnis ini bisa mengelola 120 situs berita palsu. 

- Mengacu pada BuzzFeed, ada 140 situs yang dikelola dari kota kecil Veles, Macedonia. Di sana mereka bisa mengantongi USD 5.000 atau Rp 65 juta per bulan. Tapi bahkan ada yang mendapat USD 3.000 atau sekitar Rp 39 juta per harinya. 

- Paul Horner, penulis berita hoax, kepada Washington Post mengungkap pendapatannya dari Google AdSense mencapai USD 10 ribu atau sekitar Rp 130 juta. Namun ia pernah mendapatkan lebih banyak saat membuat berita hoax seorang artis yang menjadi viral. 

Sumber : detik.com

MEDIA-MEDIA PENYEBAR KEBENCIAN

bhayangkaraindonesianews.blogspot.co.id - Tahun 1994, terjadi genosida suku Tutsi oleh suku Hutu di Rwanda. Korban dalam hitungan bulan mencapai jutaan. Kalau ingin tahu seperti apa situasi itu, coba nonton film "Sometimes in April" atau "Hotel Rwanda".

Apa yang menyebabkan pembantaian antar suku itu? Kebencian.

Kebencian akan peristiwa masa lalu diungkit kembali dan disebar-luaskan oleh media. Bentrokan masa lalu antara suku Hutu dan Tutsi di Rwanda, pertama kali diangkat oleh koran Kangura lewat artikel dan kartun graphis.

Tahun 1993. situasi politik yang memanas karena mendekati pilpres, didirikanlah sebuah stasiun radio baru bernama Radio-Television Libre des Mille Collines atau RTLMC. Ini stasiun radio milik suku Hutu.

Setiap menit, para penyiarnya menyerukan kebencian kepada suku Tutsi. Mereka juga memutar lagu-lagu yang membakar semangat untuk membantai suku Tutsi yang mereka sebut "si kecoak". Karena buat mereka, suku Tutsi ibarat kecoak yang mengganggu dan untuk membunuhnya cukup dengan diinjak saja bisa mati beberapa. Mudah dan murah.

Radio Mille des Collines ini dibiayai oleh kepentingan politik yang ingin menguasai Rwanda dengan memanfaatkan kebencian antar suku.

Para penyiarnya -menurut seorang pelaku- selalu mabuk. Mereka juga menggunakan bahasa prokem dalam siaran dan menyiarkan lagu-lagu hits dengan disc jockey. Ternyata itu semua memang dibangun untuk menarik simpati orang bodoh, pengangguran dan geng preman.

Cukup setahun saja mereka menyiarkan kebencian, dan 1 juta lebih nyawa melayang.

Tertangkapnya kelompok Saracen, yang memproduksi kebencian dan hoax secara massif dengan 80 ribu anggota, membuat kita sadar bahwa media -meski modelnya sudah berbeda zaman- tetaplah efektif untuk mempengaruhi pemikiran seseorang.

Model produksinya sama seperti Radio Mille des Collines itu. Buat konten-konten dengan bahasa awam, biasakan orang membaca tulisan makian dan cacian, lalu propagandakan keresahan bahwa sudah saatnya bergerak untuk perubahan.

Sasaran Saracen sama juga, yaitu orang bodoh yang menggunakan hp pintar, para pengangguran yang resah karena tidak mendapat pekerjaan dan ormas-ormas yang begitu banyak tersebar di Indonesia. Mereka ini "sedang dilatih" untuk menjadi radikal dan garda depan ketika rencana chaos akan dijalankan.

Alasan Saracen dengan Radio kebencian di Rwanda itu juga sama, yaitu Freedom of speech atau kebebasan berbicara.

Grup Saracen hanyalah gunung es. Ia tampak besar tetapi belum keseluruhan. Di bawahnya lagi masih banyak kelompok-kelompok maupun personal yang memanfaatkan kebencian sebagai produk dagangan.

Mereka ada yang memang sadar apa yang dilakukan, dan jauh lebih banyak lagi yang hanya ikut-ikutan.

Tertangkapnya beberapa anak sekolah karena mengirimkan ujaran kebencian lewat media sosial adalah bukti bahwa sudah banyak orang yang menjadi zombie karena terpengaruh propaganda.

Kita tidak bisa hanya berteriak, "manfaatkan media sosial dengan bijak!" karena sejak pilpres 2014 sudah begitu banyak akun-akun bayaran untuk memecah belah. Yang bisa kita lakukan adalah dengan melawan. Propaganda vs Propaganda. Fight fire with fire. Hukum biar urusan pihak keamanan.

Seruput dulu kopinya karena guncangan ini belum akan reda sampai Pilpres berikutnya.

Sumber : Kabid Humas Polda DIY, AKBP Yuli Yanto