Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label Anti Hoax. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Anti Hoax. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 Juli 2018

TERUNGKAP !!! CARA KERJA BUZZER SEBAR HOAX DAN PERANG MEDSOS (Investigasi The Guardian)


Keberadaan pasukan buzzer di dunia maya selama kontestasi politik di Indonesia menjadi perhatian media Inggris, The Guardian. Media ini pun lantas menurunkan tulisan menyoroti keberdaan tim Buzzer yang menjadi bagian dari politik yang sedang berkembang di Indonesia, membantu memecah belah agama dan ras.

Dalam tulisannya, The Guardian mewawancarai seorang anggota tim buzzer dari mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok saat bertarung dalam Pilkada DKI Jakarta 2017 lalu. Sumber yang mengaku bernama Alex itu mengatakan ia adalah salah satu dari 20 orang dalam pasukan maya rahasia yang menyebarkan pesan dari akun media palsu untuk mendukung Ahok.

"Mereka mengatakan kepada kami bahwa Anda harus memiliki lima akun Facebook, lima akun Twitter dan satu Instagram," katanya seperti dikutip dari The Guardian, Selasa (24/7/2018).

"Dan mereka mengatakan kepada kami untuk merahasiakannya. Mereka mengatakan itu adalah 'waktunya berperang' dan kami harus menjaga medan perang dan tidak memberi tahu siapa pun tentang kami bekerja," imbuhnya.

"Ketika Anda sedang berperang, Anda menggunakan apa pun yang tersedian untuk menyerang lawan. Tetapi kadang-kadang saya merasa jijik dengan diri saya sendiri," ucapnya.

Alex mengatakan timnya dipekerjakan untuk melawan banjir sentimen anti Ahok, termasuk hashtag yang mengkritik kandidat oposisi, atau menertawakan koalisi kelompok Islam.

Tim Alex, yang terdiri dari pendukung Ahok dan mahasiswa, memperoleh bayaran Rp4 juta. Mereka diduga bekerja di sebuah rumah mewah kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Masing-masing dari mereka diberitahu untuk mengirim 60 hingga 120 kali cuitan sehari di akun Twitter palsu dan beberapa kali postingan setiap hari di Facebook.

Alex mengatakan timnya terdiri dari 20 orang, masing-masing dengan 11 akun media sosial, akan menghasilkan hingga 2.400 postingan di Twitter sehari. 

Operasi ini dikoordinasikan melalui grup WhatsApp bernama Special Force, atau Pasukan Khusus, yang Alex perkirakan terdiri dari sekitar 80 anggota. Tim itu memberi makan konten dan hashtag harian untuk diposting.

"Mereka tidak ingin akun tersebut menjadi anonim sehingga mereka meminta kami untuk mengambil foto untuk profil tersebut, jadi kami mengambilnya dari Google, atau terkadang kami menggunakan gambar dari teman-teman kami, atau foto dari grup Facebook atau WhatsApp," jelas Alex.

"Mereka juga mendorong kami untuk menggunakan akun wanita cantik untuk menarik perhatian pada materi; banyak akun yang seperti itu," sambungnya.

Di Facebook, mereka bahkan membuat beberapa akun menggunakan foto profil aktris asing yang terkenal, yang entah bagaimana tampak seperti penggemar Ahok. Tim siber itu diduga mengatakan "aman" untuk memposting dari markas mereka di Menteng, di mana mereka beroperasi dari beberapa kamar.

"Ruang pertama untuk konten positif, di mana mereka menyebarkan konten positif tentang Ahok. Ruang kedua adalah untuk konten negatif, menyebarkan konten negatif dan pidato kebencian tentang oposisi," rinci Alex. Alex sendiri memilih untuk berada di kamar positif.

Banyak dari akun tersebut hanya memiliki beberapa ratus pengikut, tetapi dengan mendapatkan tren hashtag mereka, setiap hari, mereka secara artifisial meningkatkan visibilitas di platform. Dengan memanipulasi Twitter, mereka memengaruhi pengguna dan media Indonesia, yang sering mengacu pada hashtag yang sedang tren sebagai barometer suasana nasional.

Mengingat bahwa Ahok kalah dalam pemilihan, dan berakhir di penjara, Alex mengatakan dia tidak dapat memastikan seberapa efektif timnya.

Ulin Yusron, juru bicara tim kampanye Ahok menolak mengomentari tuduhan tertentu tetapi mengatakan kampanye itu sangat sulit.

"Penggunaan fitnah, kebencian dan tipuan (berita palsu) sangat besar," katanya kepada Guardian. 

“Secara alami, tim membentengi diri dengan pasukan pendukung, termasuk di media sosial. Itu bukan sesuatu yang baru dalam politik,” imbuhnya.


sumber : internasional.sindonews.com 

Minggu, 15 Juli 2018

ZOHRI, HOAX dan EUFORIA MEDIA

Muhammad Zohri sujud syukur usai jadi juara

Zohri, pemuda asal Lombok, NTB (Nusa Tenggara Barat) ini mendadak tenar dan menjadi tranding topik media dan jagat maya, tidak hanya media lokal, bahkan dunia internasional. Hampir semua orang latah, termasuk para politisi hingga pejabat negara berlomba-lomba nebeng popularitasnya.
Berbagai informasi Hoax dan Gorengan Politik serta euforia media turut mengiringi pemberitaan seputar Zohri. Mulai dari biaya keberangkatan, sepatu yang dikenakan hingga bendera.
Sebagai pegiat media dan inisiator Gerakan Anti Hoax (GERAX), saya merasa terpanggil untuk meluruskan pemelintiran berita dan mengantisipasi agar opini tidak berkembang liar, yang akhirnya justru merugikan Zohri sendiri dan publik tanah air.
Biaya Sendiri
Ini adalah informasi ngawur dan 100% hoax. Mohammad Zohri mengkuti turnamen ini secara resmi sebagai perwakilan Indonesia, bahkan Asia, diberangkatkan oleh PB PASI (Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia) dengan disertai beberapa official.
Biaya ditanggung oleh negara (APBN) melalui anggaran KONI (Komite Olahraga Nasional Indonesia), atau dari sponsor dan donatur, bukan dari kantong pribadi Zohri.
Jika kemudian beredar kabar, Zohri dibiayai oleh Bob Hasan, itu wajar karena dia adalah Ketua PB PASI. Bob Hasan yang pernah menjadi Menteri Pertambangan pada masa orde baru megeluarkan dana akomodasi Zohri dalam kapasitas sebagai Ketua PB PASI, bukan atas nama pribadi.
Berangkat Sendiri
Ini juga hoax paling aneh dan dungu. Kejuaraan Dunia Ateltik adalah turnamen resmi dan agenda rutin IAAF (International Association of Athletics Federations), badan olahraga dunia yang menaungi atletik seperti FIFA menaungi sepakbola.
Tidak sembarang orang bisa mengikuti tunamen tersebu, kaya nonton konser musik saja. Zohri tampil di kejuaran junior dunia di Finlandia ini sebagai wakil dari Asia usai meraih juara pada kejuaraan Asia U20, Juni lalu dengan catatan waktu terbaik 10.27 detik yang dipertajam di Jakarta menjadi 10.25.
Zohri sudah dua kali mengikuti ajang internasional. Yakni di Singapura dan Kenya. Namun saat di Singapura tidak turun karena cedera. Setiap berangkat pasti ditemani official dan membawa nama PB PASI. Tidak mungkin nyelonong sendiri trus ndaftar ikut lomba broo...
Sepatu Zohri
Ada juga beredar hoax dengan gambar fokus pada sepatu yang dikenakan Zohri. Disebutkan beli sendiri seharga Rp 75 ribu, dikenakan tanpa kaos kaki, seolah-olah begitu memprihatinkan.
Silakan Anda semua cermati kedua pelari asal Amerika yang berfoto bersama Zohri, mereka mengenakan sepatu yang sama, berwarna biru dengan logo khas Nike. Apa mungkin beli sendiri di Tanah Abang dengan harga dibawah seratus ribu ?!
Zohri tidak mengenakan kaos kaki (atau tidak nampak kaos kakinya), ini juga sama dengan ke 7 pelari yang lain. Mungkin memang tradisi dan petimbangan teknisnya begitu untuk cabang lari, tidak seperti sepak bola, dimana pemainnya memakai kaos kaki sampai lutut.
Bendera
Ini hoax paling sadis yang digoreng dadakan persis tahu bulat dijual lima ratusan. Pertama kita harus tahu bahwa merayakan kemenangan sambil lari-lari bawa bendera, hukumnya tidak wajib dan bukan ritual resmi turnamen. Acara resminya adalah pengibaran bendera dan pemutaran lagu kebangsaaan sang juara pada saat pengalungan medali atau penyerahan piala.
Untuk bendera yang dibawa muter-muter biasanya inisiatif official, penonton pendukung atau wartawan yang meliput disana. Dalam kasus Zohri kemarin, tempat duduk official terlalu jauh dan terhalag barikade sehingga terlambat memberikan bendera Merah Putih.
Sementara tidak ada supporter dan wartawan Indonesia disana yang datang dan bawa bendera. Jadi ini bukan salahnya Imam Nahrowi, Menpora, apalagi Jokowi, Presiden Republik Indonesia. Juga tidak ada kaitannya dengan Pilpres atau Pilkada.
Atletik bukan olahraga yang populer dan banyak digemari di Indonesia, wajar jika selama ini kiprah mereka jarang diliput dan diekspose media, tapi bukan berarti pemerintah tidak memperhatikan. Buktinya ada atlit yang berprestasi, itu artinya ada program dan perencanaan dari PB PASI dan KONI sebagai kepanjangan tangan pemerintah
Masa Menpora dan Presiden harus menemani setiap atlit yang bertanding dalam kejuaraan internasional, yang bener aja brooo ? Trus ntar yang meresmikan proyek infrastruktur dan menggunting pita siapa dong ?
Kalau nanti beredar foto Zohri bersama Pak Imam Nahrowi, itu wajar, karena memang atletik urusannya Menteri Olahraga. Bahkan jika ada foto bersama Bu Puan Maharani, juga boleh saja, karena Kemenpora kan dibawah kordinasi Kementrian Koordinator PMK. Pokowi, itu juga sah-sah saja, Muhammad Zohri kan warga negara Indonesia.
Sebagai informasi tambahan buat para Netizens yang tidak malas membaca, ini saya sajikan sedikit perjalanan prestasi Lalu Muhammad Zohri.
Nama lengkapnya Lalu Muhammad Zohri, media mempopulerkannya dengan nama Lalu, tapi saya lebih suka memanggilnya Muhammad Zohri, atau Zohri saja. Turun di nomor elit 100 meter putra, Muhammad Zohri sukses menjadi yang tercepat di kejuaraan dunia junior atletik yang berlangsung di Tampere, Finlandia, Rabu (11/7) malam waktu setempat.
Pelari yang memiliki julukan Bocah Ajaib dari Lombok ini berada di jalur ke-8 dan bisa menjadi yang tercepat dengan catatan waktu 10.18 detik. Zohri mengalahkan dua pelari U20 terbaik Amerika Serikat Anthony Scwartz dan Eric Harrison yang menduduki peringkat kedua dan ketiga dengan waktu 10.22.
Selain meraih medali emas, Zohri sekaligus juga memecahkan rekor nasional Yunior atas nama dirinya dari 10.25 menjadi 10.18 detik. Bahkan rekor Zohri mendekati rekornas Senior yang masih dipegang oleh Suryo Agung Wibowo dengan waktu 10.17 detik.
Sebelumnya Zohri mampu menyumbangkan medali perak di test event Asian Games 2018 pada bulan Februari lalu di nomor 100 meter putra. Atlit asal Nusa Tenggara Barat ini memang menjadi sensasi sejak mengikuti Kejuaraan Nasional (Kejurnas) U-18 dan U-20 yang berlangsung di Stadion Atletik Rawamangun, Jakarta beberapa waktu lalu.
Dengan prestasinya tersebut kemudian ia sempat dipilih oleh Pengurus Besar (PB) Persatuan Atletik Seluruh Indonsia (PASI) untuk memperkuat Tim Nasional (Timnas) mengikuti Kejuaraan Dunia, Remaja di Neima, Kenya Juli lalu.
Di ajang itu, ia berhasil membuktikan diri mampu bersaing dengan atlet luar negeri. Bagimana tidak catatan prestasi yang telah ditoreh di nomor 200 meter dengan catatan waktu 21.96 detik sekaligus mempersembakan medali emas untuk NTB. Khusus di Finlandia, ia menjadi atlit Indonesia pertama yang sukes meraih medali di ajang kejuaraan dunia junior dalam 32 tahun terakhir.
So, jadilah Netizens cerdas dan bijak. Jangan asal share jangan asal goreng, mentang-mentang bulat main goreng aja, ternyata batu coral, bukan tahu hehe...

Jakarta, 15 Juli 2018
Arief Luqman El Hakiem
Pegiat Media dan Pemerhati Kebijakan Publik
Inisiator Gerakan Anti Hoax (GERAX)




Sabtu, 14 April 2018

Transkrip Lengkap Diskursus Seputar Fiksi oleh Rocky Gerung (ILC tvOne 10 April 2018)


Berikut adalah transkrip pernyataan Prof. Rocky Gerung, Peneliti dari Perhimpunan Pendidikan Demokrasi (P2D) tentang pengertian fiksi yang disampaikan dalam acara Indonesia Lawyers Club (ILC) tvOne, edisi Selasa 10 April 2018. Transkrip ini ditulis secara lengkap, detail kalimat per kalimat dan kata per kata. Semoga menjadi sumbangsih buat masyarakat Indonesia dalam memahami pernyataan Rocky Gerung yang dianggap kontroversial, menghindari pemahaman secara parsial, dan menjadi bahan pertimbangan bagi penyidik kepolisian yang menangani kasus tersebut.


Rocky Gerung (RG) : Okay, ee nggak ada pertanyaan ?
Karni Ilyas (KI) : Nggak ada, terserah Anda.
(sebagian peserta di acara ILC di studio tvOne, tertawa. Suara tertawa Dwi Ria Latifa dari PDIP terdengar terakhir dan paling keras).

RG : Okay, saya mau bicara lebih tajam, karena itu silakan bantah duluan tuh. Nggak ada yang mau bantah duluan yah. 

Okay ee, saudara-saudara ini. Tadi saya buka Twitter, itu semua orang bilang membosankan itu. Karena seolah-olah ada yang diulang dan kita mengalami involusi di dalam memutuskan status dari tema hari ini. Dan ee sangat mungkin kalau ini berlanjut pola ini, maka sebelum 2030 yang bubar tu Indonesia Lawyers Indonesia Club itu.

Saya mulai pelan-pelan ya buat cari cara, ee. Asal usul dari masalah ini adalah soal fiksi atau fakta itu. Dan itu sebetulnya permulaan yang buruk, karena waktu kita sebut fiksi di kepala kita adalah fiktif. Fiction itu kata benda, yaitu literatur. Selalu ada pengertian litery, literatur di dalam kata fiksi. Tapi karena dia diucapkan dalam suatu forum politik, maka dia diangap sebagai buruk. Fiksi itu sangat bagus. Ia adalah energi untuk mengaktifkan imajinasi. Itu fungsi dari fiksi itu.

Dan kita hidup dalam dunia fiksi lebih banyak daripada dalam dunia realitas. Fiksi lawannya realitas, bukan fakta. Jadi kalau Anda bilang itu fiksi, lalu kata itu jadi peyoratif, itu artinya kita menginginkan anak-anak kita tidak lagi membaca fiksi. Karena sudah dua bulan ini, kata fiksi itu menjadi kata yang buruk.

Kitab suci fiksi atau bukan ? (RG jeda, peserta hening).

Siapa yang berani jawab ? (sebagian peserta tertawa kecil. Ada yang nyeletuk, "Itu PKS").

Kalau saya pakai definisi, bahwa fiksi itu mengaktifkan imajinasi, kitab suci itu adalah fiksi, karena belum selesai, belum tiba itu. Babad Tanah Jawa itu fiksi. Anda sebut apa saja itu. Jadi ada fungsi dari fiksi untuk mengaktifkan imajinasi, menuntun kita untuk berfikir lebih imajinatif. Sekarang dia dibunuh kata itu tu, dibunuh oleh politisi. Bayangin..

(Arya Bima dari PDIP menyela).
Arya Bima (AB) : Prof, informatif Prof. Bisa nggak fiksi itu menjadi hal yang, ee untuk tumpuan prediksi Prof ? Informatif aja.

RG : Lebih dari itu, bahkan bukan untuk prediksi, tapi untuk destinasi. Jauh dari itu, bukan sekedar Anda bikin prediksi. Anda percaya pada fiksi, dan Anda dituntun oleh kepercayaan itu. Bisa tiba nggak ? Bisa tiba. Gimana caranya ? Itu fungsi kitab suci. Anda percaya kitab suci ?

Kenapa Anda abaikan sifat fiksional dari kitab suci. Kan itu bukan faktual, belum terjadi. Dan Anda dituntun oleh dalil-dalil dalam kitab suci, bukan sekedar prediksi itu. Nah, saya mau terangkan itu, supaya kita selalu punya semacam stok argumentasi sebelum disesatkan oleh pem-bully-an politik. Dan sekarang kita mesti pastikan bahwa fiksi itu baik, yang buruk itu fiktif. Bisa bedain nggak tu ? Diada-adain, diakal-akalin.

Kalau saya bilang kitab suci itu fiktif, o besok saya dipenjara tu. Tapi kalau saya bilang itu fiksi, saya punya argumen. Karena saya berharap terhadap eskatologi dari kitab suci.

(Dwi Ria Latifa dari PDIP menyela).
Dwi Ria Latifa (DRL) : ee, tunggu Prof. saya.

RG : Ya, silakan.

DRL : eee. Kurang paham saya ini. Kitab suci, sebagai suatu hal yang fiksi itu..., penuh tanda tanya buat saya ini.

RG : Okay, saya jawab sekarang supaya tanda tanya itu hilang.

DRL : Karena jangan sampai ini nanti menjadi suatu hal yang... ee terjadi kesalahpahaman.

RG : Ya saya tahu, saya tahu akibatnya. Karena itu saya terangkan, supaya nggak jadi, dicari-cari jadi delik. Saya ngerti dari awal itu, problem itu.

Kalau saya tanya sekarang, "Kitab suci itu fiksi atau fakta, Anda mau jawab apa ?".
Is it fact too? Enggak. Jadi kesalahan kita, kita memakai kata fiksi itu untuk di-bully sehingga seolah-olah fiksi buruk.

Akbar Faisal (AF) : Pak, pak Rocky, pak Rocky...

DRL : Kalau bicara kitab suci kita bicara keyakinan Prof..

RG : Ya, justru itu.

DRL : Tapi kalau bicara buku, maasalah buku yang fiksi saya mungkin masih bisa memahami. Tapi kalau kita bicara masalah kitab suci, kemudian Prof. katakan ini sesuatu yang fiksi, atau apalah itu yang sifatnya fiktif, saya agak keberatan kalau itu disamakan seperti itu.

RG : Tentu saja Anda keberatan karena keburu pretest Anda tentang fiksi itu berbahaya.

DRL : Tolong bisa diperjelas secara detail supaya jangan terjadi kesalahpahaman lagi nanti Prof.

RG : Coba, jangan tanya dulu, saya terangkan dulu dalam dua menit, supaya potensi Anda bertanya saya selesaikan dulu ya.

Kenapa kata fiksi itu kemudian Anda takut untuk diucapkan terhadap kitab suci ? 
Karena selama ini kata fiksi itu dibebani oleh kebohongan, seolah-olah fiksi itu bohong itu. Tadi saya katakan, bohong itu fiktif dalam bahasa Indonesia. Kita bilang fiktif artinya, itu angka fiktif, bohong. Tapi fiksi, energi untuk tiba ke thelos, yang di depan itu. Kitab suci selalu ingin tiba di thelos, ujung dari kitab suci adalah harapan, janji. Dan itu sifatnya fiksi. Baik atau buruk ? Baik.

Jadi, saya jelaskan itu supaya kita berhenti dengan debat fiksi atau fakta, kalau mau debat itu faktual atau fiktif, bukan fiksi atau fakta. Selama ini Twitter itu, media sosial dibikin, kita dibikin dungu oleh mereka yang tak paham tentang makna dari kata fiksi, fiction itu. Mahabharata itu fiksi bukan fiktif, orang akan marah.

AF : Pak Roy...
RG : Okay, silakan saya jawab.
AF : Saya sebagian memahami argumen Anda tentang fiksi.
(Arya Bima meluruskan panggilan untuk Rocky Gerung dari Akbar Faisal).
AB : Pak Rocky maksudnya...
AF : Pak Rocky, ya pak Rocky..
(Roy Suryo dari Demokrat, nyeletuk)
Roy Suryo (RS) : Kalau, kalau saya, saya jawab wayang lagi nanti...hahahaha

AF : Nggak apa-apa, aa ini bagus saya suka, saya tiba-tiba harus kembali ke kelas-kelas filsafat. Karena beliau adalah... Saya, sebagian pemahaman saya yang sederhana tentang argumen Anda mengatakan kitab suci itu adalah fiksi, pada titik tertentu saya bisa pahami. Tapi saya tidak tahu, argumen tentang ini Anda bangun pada kitab suci yang mana ? Hati-hati ! Tentu saja saya mencoba untuk memahamai apa yang Anda katakan, tapi di dalam agama kami, di Islam, fiksi yang saya katakan tadi sebagian saya pahami, dalam kenyataannya terbukti dalam kehidupan kami sebagai muslim. Jadi dia bukan fiksi lagi, dia sudah menjadi sebuah fakta. Jangan katakan bahwa saya tidak paham yang Anda maksud. Saya paham yang Anda maksud.

RG : Okay, saya paham warna kalimat Anda kemana itu. Dan jangan coba-coba jebak saya dengan itu.
AF : O nggak, sama sekali saya tidak menjebak Anda. Dijawab saja Prof, jangan dibawa kesitu seakan-akan saya akan menjebak Anda dengan sesuatu yang akan menyudutkan Anda. Jangan gitu dong, ini diskusi Prof, ini diskusi.

RG : Saya terangkan dimana jebakannya ya. Anda tadi minta, kitab suci yang mana, saya tidak jawab. Saya bilang kitab suci.
(Terjadi perdebatan antara AF dengan RG, ekspresi dan intonasi AF meninggi dan nampak emosional).
AF : Karena saya tidak mengeri kitab suci yang lain, makanya saya tidak mau menyentuh kitab suci yang lain, yang saya sebutkan adalah kitab suci saya yaitu Islam, yaitu Al Qur'an. Saya tidak akan menyebutkan yang lain. (Peserta bertepuk tangan). Dan Anda mengatakan kitab suci, Anda seakan-akan menyamakan semuanya. Saya tidak sedang menjebak Anda. Tapi saya bertaya, pada bagian mana yang Anda maksud, yang saya pahami ya itu yang saya sampaikan. Saya sekali lagi, saya tidak berada pada wilayah yang Anda sebutkan. Anda keliru sama sekali tentang itu. Kali ini saya debat Anda Prof, ee bukan Prof. Kali ini saya debat Anda, Pak Rocky. Karena banyak pikiran Anda yang saya sukai, tapi kali ini saya debat Anda.

RG : Okay, saya terangkan ya. Waktu saya memilih kata kitab suci, dengan sendirinya saya menghindari menyebut nama kitabnya tu, seharusnya Anda paham itu, Anda tahu, ngapain ditanya.
AB : Ooo..nggak bisa Prof !
AF : Nggak bisa Pak Rocky, lhooo nggak bisa dong ! Karena Anda mencoba memulainya maka kemudian saya mulai juga dengan mengatakan yang saya pahami adalah kitab suci saya.
RG : Ya okay, ya udah nggak apa-apa, you pahami itu.
AF : Tapi kemudian Anda mengatakan, bahwa jangan jebak saya, oo enggak.. Anda berpikir negatif dulu kepada saya !
(AF nampak makin emosional dan ngotot, suasana tidak kondusif, hingga Karni Ilyas menengahi dengan menegur AF).

KI : Saya kira, saya kira pertanyaan Anda (AF) sudah keluar, biar dia (RG) jawab, tapi kalau enggak Anda berdua bersiarat, berciaran bukan bersiaran.

RG : Okay ya, saya lanjutkan ya. Jadi bagi saya, fiksi itu kreatif. Sama seperti orang beragama, kreatif. Dia menunggu eskaton-nya, dia menunggu thelos-nya tu. Anda ucapkan doa, sebetunya Anda masuk dalam energi fiksional. Karena Anda pupuk harapan, bahwa dengan untaian doa itu Anda akan tiba di tempat yang indah, begitu fiksi bekerja. Lalu, bisakah itu disebut sebagai keyakinan ? Bisa. 

Di dalam agama, fiksi itu adalah keyakinan. Di dalam literatur, fiksi adalah energi untuk mengaktifkan imajinasi. Kimianya sama, orang berdoa dan baca novel kimianya sama, di dalam tubuh sama. Jenis hormon yang diproduksi sama. Itu soalnya itu. Jadi, itu pengantar untuk menertibkan kekacauan publik yang diakibatkan oleh politisi tu.

(Selanjutnya, RG masuk pembahasan lain seputar adu meme Jokowi dan Prabowo, kaos berhastag #2019GantiPresiden, data kompilasi dan Power Poin dan seterusnya).

(Di akhir paparannya Rocky Gerung kembali menyinggung tentang fiksi dengan kalimat closing-nya yang menggelitik).

RG : Okay karena udah malam, okay saya cari cara buat nutup ya. Salah satu fiksi yang saya paling suka dan Anda semua yang di sini saya kira masih sempat mengikuti, fiksi yang dibuat oleh Kho Ping Hoo itu. 

Kho Ping Hoo itu nggak pernah pergi ke China, tapi dia bisa menggambarkan antropologi China, landscaping China dan ilmu silat China itu demikian lengkap, demikian sempurna (detail) sehingga kita terbawa di dalam imajinasi itu. Jadi fiksi itu menghidupkan.

Salah satu quotation di dalam Kho Ping Hoo, saya masih ingat sampai sekarang, jadi Anda lihat betapa fiksi itu berbekas. Dalam satu adegan silat, Kho Ping Hoo gambarkan begini. Tokohnya namanya Bu Kek Siansu, masih ingat ya ? (Beberapa peserta menjawab, tahu, tahu). Kho Ping Hoo tulis begini ni,

"Bu Kek Siansu telah menyarungkan pedangnya sebelum tubuh bedebah itu jatuh ke bumi".

Jadi, saya bayangkan, waktu saya masih SMP, secepat apa besutan pedang Bu Kek Siansu sehingga dia sudah menyarngkan pedangnya, baru tubuh bedah itu jatuh ke bumi. Kalau orang bertanya, siapa Bu Kek Siansu, siapa tubuh bedebah itu ?

Tunggu 2019, Terimakasih !!!

Transkrip ditulis oleh : 
Arief Luqman El Hakiem 
(Bhayangkara Indonesia News, Maspolin, Blogger Polri).


Sabtu, 17 Maret 2018

Penanganan Hoax Perspektif Korporasi


Dalam sebuah kasus hoax dan ujaran kebencian di Amerika Serikat tahun 2016, tidak hanya penyebar hoax yang dijadikan sebagai tersangka, namun perusahaan pengelola media sosial juga dijatuhi sanksi. Hal ini disampaikan oleh Agus Sudibyo dalam acara ILC (Indonesia Lawyer Club) edisi 6 Maret 2018, yang dihadiri juga oleh Ketua Satgas Nusantara, Irjen. Pol. Gatot Eddy Pramono.
Dengan konsep three parted, sejatinya ada 3 pihak yang terlibat dalam hoax, yaitu produsen hoax, pembaca hoax, dan media penyebaran hoax. https://www.youtube.com/watch?v=Q9VoatsrJ0Y&t=533s
Pertanyannya, mungkinkah perusahaan pengelola media sosial seperti Facebook, WhatsApp, Twitter dan Instagram tidak tahu adanya postingan hoax dan ujaran kebencian di aplikasi mereka ? Jika tidak tahu dan tidak terdeteksi, berarti mereka tidak dapat mengontrol produknya sendiri.
Namun jika sesungguhnya mereka tahu tapi membiarkan, berarti mereka menikmati atau sengaja mengekapitalisasi perpecahan bangsa ini untuk keuntungan mereka. Tragis bukan ?
Di Jerman, bahkan pemerintah mengeluarkan Undang-Undang yang dikenal dengan sebagai Facebook Law. Dimana perusahaan pengelola Facebook dan media sosial harus membentuk Unit Penanggulangan Hoax yang melakukan patroli selama 24 jam. Unit ini harus ada di Jerman untuk memantau postingan hoax, ujaran kebencian, rasis atau apa saja yang berpotensi mengganggu keamanan.
Unit ini harus melakukan take down maksimal 1X24 jam ketika ada postingan yang berbahaya. Jika sampai lolos lebih dari 24 jam maka pihak pengelola Facebook akan mendapat sanksi denda yang besar, sekitar 50 juta Euro.
Kedua, parlemen Eropa bahkan mewajibkan perusahaan pengelola Facebook dan sejenisya untuk mengalokasikan dana CSR (Corporate Social Responsibility) atas besarnya keuntungan yang diraup selama beroperasi di Eropa untuk mendidik masyarakat, literasi media. Data dari e-marketer tahun 2016, belanja iklan gigital di Indonesia sebesar Rp 13 triliun, 75% ( Rp 8,4 triliun) diambil oleh Google, Facebook dan medsos lainnya.
Bagaimana dengan Indonesia ?
Berani ?
Jangan sampai ada kesan, bahwa peredaran hoax, ujaran kebencian dan perang komentar rasis di medsos justru dikondisikan dan dibiarkan oleh pengelola, karena menaikkan traffic, yah berarti meningkatkan pemasangan iklan. Ujungnya harga saham perusahaan pengelola medsos mengalami kenaikan.
Facebook, Instagram, WhatsApp, Twitter dan YouTube dapat untung.
Pemerintah Indonesia dapat apa ?
Berapa nomimal pajak yang masuk dari para perusahaan pengelola medsos tersebut ?
Bangsa Indonesia dapat apa ?
Jangan sampai bangsa ini diadu domba dan dipecah belah oleh orang2 yang tidak bertanggung jawab, juga dimanfaatkan oleh para pemilik perusahaan media sosial yang menjadi media penyebaran hoax dan ujaran kebencian.
Ayo, dukung pemerintah dan aparat penegak hukum Indonesia untuk berani menekan perusahaan pengelola medsos !!!
Perusahaan pengelola media sosial yang jadi sarana tersebarnya hoax dan ujaran kebencian harus ikut bertanggung jawab atas dampak negatifnya terhadap bangsa ini !!!
War On Hoax
Salam GERAX

Kamis, 31 Agustus 2017

Pelajar Kebumen Deklarasikan Generasi Anti Hoax ( GERAX)

Kebumen - (31/8/2017) Bertempat di Gedung Tribrata Polres Kebumen, ratusan pelajar SMA, MA dan SMK di wilayah Kebumen mendeklarasikan terbentuknya jaringan Generasi Anti Hoax yang disingkat GERAX, Kamis siang ini (31/8).

Acara yang dimotori oleh Polres Kebumen ini menghadirkan perwakilan siswa dari sekolah menengah yang terdiri dari pengurus OSIS dan Dewan Pramuka di sekolah masing-masing, dikemas dalam tajuk Sosialisasi Cerdas Berinternet bagi Kalangan Pelajar dan Remaja.

Kapolres Kebumen, AKBP. Titi Hastuti, S.Sos yang membuka secara langsung sekaligus sebagai Keynote Speaker menjelaskan bahwa fenomena Hoax, ujaran kebencian dan penipuan via media online sudah sangat mengkhawatirkan.

"Perkembangan media sosial, terutama maraknya konten Hoax, ujaran kebencian, hasutan dan penipuan via media online sudah sangat memprihatikan. Kami merasa perlu membentengi generasi muda terutama kaum pelajar dengan bekal cerdas berinternet dan bermedia sosial" terang Kapolres Kebumen, AKBP. Titi Hastuti, S.Sos dalam sambutannya.

"Bapak Presiden Joko Widodo juga Bapak Kapolri, secara jelas memberi perhatian khusus terhadap penanganan ujaran kebencian dan penyebaran Hoax. Untuk itu, kami berinisiatif untuk mengundang dan mengumpulkan para pelajar Kebumen untuk cerdas menyikapi informasi dan melawan setiap upaya provokasi" lanjut Bu Titi penuh semangat.

Panitia menghadirkan narasumber, dari Redaksi Bhayangkara Indonesia News, Arief Luqman El Hakiem, yang sekaligus sebagai Redaktur Pelaksana Maspolin atau Masyarakat Polisi Indonesia.

Dalam paparannya, Arief menjelaskan tentang sejarah medsos, strategi penanganan hoax dan cara jitu menghadapi scammer (penipuan) media online.

"Sekarang medan perang dan aksi kejahatan banyak bergeser dari dunia nyata ke dunia maya. Meski aparat sudah membentuk Pasukan Cyber yang melakukan patroli siber secara intensif, namun pembekalan dan pelibatan masyarakat untuk waspada dalam menggunakan internet, tetap harus dilakukan" terang Arief Luqman.

Kegiatan Sosialisasi Cerdas Berinternet ini berlangsung dari sekira pukul 09.00 WIB hingga pukul 11.00 WIB, dilanjutkan pembacaan ikrar Deklarasi Gerakan Anti Hoax disingkat GERAX. Dengan penuh semangat dan antusias, para peserta menyatakan diri sebagai Generasi Anti Hoax yang siap melawan dan memerangi segala bentuk provokasi, hasutan dan penyebaran Hoax yang mengancam ketentraman juga persatuan.

Pembacaan dan penandatanganan deklarasi juga disaksikan oleh pejabat Forkompinda (Forum Komunikasi Pimpinan Daerah) Kabupaten Kebumen. Nampak hadir Pimpinan DPRD, Wakil Bupati, Komandan Kodim 0709 dan Ketua Pengadilan Negeri Kebumen.

Hadir pula menyaksikan pembacaan ikrar Deklarasi Gerakan Anti Hoax, jajaran pejabat dari Dinas Pendidikan Kabupaten Kebumen, Dinas Kominfo, Komandan Satpol PP, Kepala Kesbangpol Linmas Kebumen dan kalangan pers.

Para pejabat Forkompinda berkesempatan memberikan sambutan dan wejangan kepada para pelajar untuk waspada, semangat dan lebih cerdas dalam menghadapi serangan media sosial.

Tidak lupa, setelah acara ditutup dengan menyanyikan lagu Bagimu Negeri, para peserta berebut berfoto bersama dengan Ibu Kapolres Kebumen dan jajaran pejabat Forkompinda. (Humas Res Kebumen /Bhayangkara Indonesia News).

Rabu, 30 Agustus 2017

Hoax ; Sejarah dan Perkembangannya


Anda mungkin telah mengetahui tentang hoax yang sekarang ini sedang tren dan dianggap sebagai musuh terbesar pengguna internet dan jejaring sosial. Namun apakah Anda mengetahui defenisi hoax yang sebenarnya dan juga sejarahnya hingga sekarang menjadi sangat populer? Berikut pemaparan tentang hoax secara luas untuk Anda ketahui dan mungkin Anda juga berminat untuk menjadi debunker.

Sejarah Hoax

Hoax (dibaca: Hoks) adalah sebuah tipuan dan kebohongan yang menyamar sebagai kebenaran, istilah ini populer di internet dan media sosial karena peredaran hoax memang lebih mudah berkembang di internet dan media sosial.

Kata "hoax" berawal dari "hocus pocus" yang berasal dari bahasa latin "hoc est corpus" yang artinya "ini adalah tubuh". Kata ini awalnya digunakan oleh penyihir untuk mengklaim kebenaran, padahal sebenarnya mereka sedang berdusta.

Hocus digunakan untuk menipu yang digunakan untuk sihir atau mantra para penyihir dan pesulap jaman dahulu. Kata "hoax" sendiri didefinisikan sebagai tipuan berasal dari Thomas Ady dalam bukunya candle in the dark (tahun 1656) atau risalah sifat sihir dan penyihir.

Istilah hoax biasa digunakan untuk berita palsu, legenda urban, rumor, dan kebohongan yang menipu. Pada dasarnya hoax diciptakan untuk menipu banyak orang dengan cara merekayasa sebuah berita agar terkesan menjadi sebuah kebenaran.

Istilah Hoax mulai populer berdasarkan film drama Amerika yang dibintangi oleh Richard Gere "The Hoax". Film itu dirilis tahun 2006 yang disutradarai oleh Lasse Hallstrom, penulis skenario William Wheeler yang berdasarkan dari novel dengan judul yang sama karya Clifford Irving (1981). Dalam film "The Hoax", Irving ikut membantu sebagai penasihat teknis, namun ternyata hasil skenario film sangat jauh berbeda dengan isi novel aslinya.

Banyak kejadian yang diuraikan Irving dalam bukunya telah diubah atau dihilangkan dari film. Dengan alasan tidak suka dengan skenarionya yang melenceng jauh dari novel aslinya, Irving memutuskan mengundurkan diri dan tidak mau terlibat dalam pembuatan film itu dan meminta namanya dihapus dari kredit film tersebut.

"Saya dipekerjakan oleh produser sebagai penasihat teknis film, namun setelah membaca naskah terakhir saya meminta agar nama saya dihapus dari kredit film, itu mungkin disebabkan karena plot naskah tidak sesuai dengan novel aslinya," kata Irving.

Sejak saat itu film "The Hoax" dianggap sebagai film yang banyak mengandung kebohongan. Istilah hoax mulai populer digunakan dikalangan netizen berasal dari film tersebut untuk menggambarkan sebuah kebohongan. Seiring berjalannnya waktu, kata "hoax" mulai ngehits dan gencar digunakan netizen diseluruh dunia termasuk Indonesia untuk menyebut sebuah kebohongan.

Tentang Kebenaran

Subjektivitas adalah kebenaran, dan kebenaran adalah subjektivitas. Makna kebenaran bukan tentang menemukan fakta-fakta objektif secara pribadi dari pengalaman hidup, kebenaran ditemukan dalam bagaimana seseorang berhubungan dengan pengalaman-pengalaman pribadi dan orang lain.

Pada dasarnya, setiap orang tidak akan dapat menemukan kebenaran dengan caranya sendiri, menentukan kebenaran harus mempelajari setiap kebenaran dari berbagai sudut pandang dengan menempatkan diri pada posisi yang berbeda-beda (berhubungan satu sama lain).

Ketika seseorang selalu bertanya kepada mawar, maka mawar akan menjadi bunga yang terindah. Lalu bagaimana dengan bunga lainnya? Kebenaran akan selalu subjektif jika akal dan hati hanya melangkah pada satu arah.

Anda tidak akan menemukan kebenaran tentang 'kegelapan', sampai Anda menjalani hidup dalam kegelapan. Anda tidak akan sepenuhnya mengetahui tentang kegelapan, sebelum merasakan berada di sebuah ruang tanpa cahaya.

Logika bukanlah rumus pasti dalam menemukan kebenaran. Terkadang kita harus menyentuh api untuk dapat mengetahui seberapa panas yang dihasilkan oleh api. Pada hakekatnya kebenaran selalu tersembunyi, jangan pernah berharap menemukan kebenaran dalam teori paradigma. Sejatinya kita tidak akan mungkin mendapatkan jawaban dari pertanyaan, jika pertanyaan enggan untuk hinggap untuk menyapa kebenaran.

Tentang Hoax

Netizen Indonesia pada umumnya hanya sebatas mengenal hoax sebagai 'berita palsu/tipuan'. Banyak orang yg mencoba debunked dan mengklaim mampu menganalisis hoax. Banyak orang yang 'bisa', tapi hanya sekedar bisa. Mayoritas manusia bisa bernyanyi, tapi apakah mereka yang bisa bernyanyi layak disebut penyanyi? Begitupun dengan orang-orang yang bisa membongkar hoax apakah layak disebut debunker?

Jika mendefinisikan hoax hanya sebatas berita palsu, alangkah baiknya Anda mempelajari kembali definisi hoax secara luas. Hoax tidak lepas dari perjalanan sejarah, dalam esensinya sejarah mencatat sebuah tradisi "Satir Art Hoax" (SAH). Apa itu satir art hoax? Satir adalah kritikan, art adalah seni, sedangkan hoax adalah tipuan/manipulasi/mengakali/kebohongan.

Sejarah mencatat SAH dimulai sekitar abad ke-7. SAH digunakan oleh kritikus untuk mengkritik fenomena kehidupan dalam masyarakat. Tradisi SAH dimainkan oleh seorang kritikus dalam mengkritik sebuah karya seni.

Contoh kasuh SAH terjadi pada tahun 1938, seorang petani Perancis menemukan sebuah patung marmer wanita yg terkubur di dalam tanah di ladang miliknya. Para ahli seni memuji penemuan besar itu yang diidentifikasi sebagai karya seni Yunani-Romawi dari abad ke-1 SM. Namun, akhirnya seorang seniman bernama Francesco Cremonese mengakui telah membuat patung itu, dua tahun sebelumnya ia dengan sengaja mengubur patung itu. Cremonese menjelaskan bahwa apa yg dilakukannya semata hanya untuk menunjukan kurangnya pengakuan yg tidak layak atas dirinya sebagai seorang seniman. Dia menganggap karya seni hanya diakui dan dihargai jika itu berasal dari masa lalu.

Satir art hoax juga digunakan kritikus dalam mengkritik para akademisi yang banyak menghabiskan waktunya di dalam rumah untuk selalu belajar, sehingga mereka tidak bisa menikmati kehidupan di luar yang lebih luas dan bebas. Hoax mulai populer pada abad ke-20, melalui perkembangan internet. Pada awalnya Satir Art Hoax, lalu berubah menjadi Satir Hoax, kemudian kian keluar dari jalur menjadi Satir dan/atau Hoax. Jadi, jika merunut pada perjalanan sejarah, definisi hoax tidak sempit hanya berkutat pada masalah " berita palsu". Hoax mencakup suatu perbuatan yang bertujuan untuk menipu/membohongi orang lain dengan cara memanipulasi, mengakali, ataupun menutupi fakta yang sebenarnya.

Menjadi seorang debunker butuh proses panjang untuk mengasah kemampuan, tidak hanya terfokus pada ruang sempit (selalu mengandalkan informasi dari internet dan pada kasus yang mudah). Banyak debunkers terkenal di masa lalu yg belum mengenal internet berhasil memecahkan kasus. Seperti Stephen Barret yg membongkar tentang perdukunan medis, Philip Klass pelopor dalam bidang penyidikan skeptis UFO, dan ada juga Harry Houdinidebunked spiritualis.

Sumber : hoaxes.id

Minggu, 27 Agustus 2017

Meraup Untung Dari Bisnis Hoax

bhayangkaraindonesianews.blogspot.co.id - Pembuatan konten hoax dan penyebaran kebencian berbau suku, agama, ras dan antargolongan (SARA) di dunia maya rupanya telah jadi bisnis besar. Bagaimana tidak, pelaku bisa mendapatkan uang miliaran rupiah dari sana.

Terungkapnya sindikat Saracen telah membuka mata kita bahwa konten hoax dan berbau kebencian SARA yang selama ini menyebar di media sosial sengaja dibuat demi kepentingan bisnis. 

Tapi praktik ini sejatinya bukanlah hal baru, di luar sana banyak orang yang melakukan hal serupa. Puncaknya pada pemilihan presiden (pilpres) Amerika Serikat tahun lalu. 

Salah satu yang cukup sukses adalah pemuda dari Makedonia, sebut saja Victor. Di masa kampanye pilpres itu membuat berita palsu yang menguntungkan Donald Trump, karena menurutnya banyak yang mencari berita pro Trump. Dan di sisi lain, membuat berita hoax atau kebencian yang menyasar sang lawan, Hillary Clinton.

Selama enam bulan beraksi, pendapatan yang dikantonginya tidaklah sedikit. Dalam wawancaranya dengan NBC, pemuda yang berumur 17 tahun itu mampu meraih USD 60 ribu atau sekitar Rp 800 juta.

Tapi apa yang didapat Victor mungkin belum seberapa. Karena berdasarkan penelusuran kantor berita asal Inggris, Mirror, ada pelaku yang menghasilkan pendapatan hingga USD 200 ribu atau sekitar Rp 2 miliar hanya dari menulis berita-berita hoax yang bertebaran di medsos.

Sementara berdasar riset laman Market Place lebih mencengangkan lagi. Mereka menuliskan bahwa sudah begitu besarnya bisnis ini dilihat dari sejumlah laporan yang terungkap, yaitu:

- Berdasarkan laporan LA Times, satu orang profesional di bisnis ini bisa mengelola 120 situs berita palsu. 

- Mengacu pada BuzzFeed, ada 140 situs yang dikelola dari kota kecil Veles, Macedonia. Di sana mereka bisa mengantongi USD 5.000 atau Rp 65 juta per bulan. Tapi bahkan ada yang mendapat USD 3.000 atau sekitar Rp 39 juta per harinya. 

- Paul Horner, penulis berita hoax, kepada Washington Post mengungkap pendapatannya dari Google AdSense mencapai USD 10 ribu atau sekitar Rp 130 juta. Namun ia pernah mendapatkan lebih banyak saat membuat berita hoax seorang artis yang menjadi viral. 

Sumber : detik.com

MEDIA-MEDIA PENYEBAR KEBENCIAN

bhayangkaraindonesianews.blogspot.co.id - Tahun 1994, terjadi genosida suku Tutsi oleh suku Hutu di Rwanda. Korban dalam hitungan bulan mencapai jutaan. Kalau ingin tahu seperti apa situasi itu, coba nonton film "Sometimes in April" atau "Hotel Rwanda".

Apa yang menyebabkan pembantaian antar suku itu? Kebencian.

Kebencian akan peristiwa masa lalu diungkit kembali dan disebar-luaskan oleh media. Bentrokan masa lalu antara suku Hutu dan Tutsi di Rwanda, pertama kali diangkat oleh koran Kangura lewat artikel dan kartun graphis.

Tahun 1993. situasi politik yang memanas karena mendekati pilpres, didirikanlah sebuah stasiun radio baru bernama Radio-Television Libre des Mille Collines atau RTLMC. Ini stasiun radio milik suku Hutu.

Setiap menit, para penyiarnya menyerukan kebencian kepada suku Tutsi. Mereka juga memutar lagu-lagu yang membakar semangat untuk membantai suku Tutsi yang mereka sebut "si kecoak". Karena buat mereka, suku Tutsi ibarat kecoak yang mengganggu dan untuk membunuhnya cukup dengan diinjak saja bisa mati beberapa. Mudah dan murah.

Radio Mille des Collines ini dibiayai oleh kepentingan politik yang ingin menguasai Rwanda dengan memanfaatkan kebencian antar suku.

Para penyiarnya -menurut seorang pelaku- selalu mabuk. Mereka juga menggunakan bahasa prokem dalam siaran dan menyiarkan lagu-lagu hits dengan disc jockey. Ternyata itu semua memang dibangun untuk menarik simpati orang bodoh, pengangguran dan geng preman.

Cukup setahun saja mereka menyiarkan kebencian, dan 1 juta lebih nyawa melayang.

Tertangkapnya kelompok Saracen, yang memproduksi kebencian dan hoax secara massif dengan 80 ribu anggota, membuat kita sadar bahwa media -meski modelnya sudah berbeda zaman- tetaplah efektif untuk mempengaruhi pemikiran seseorang.

Model produksinya sama seperti Radio Mille des Collines itu. Buat konten-konten dengan bahasa awam, biasakan orang membaca tulisan makian dan cacian, lalu propagandakan keresahan bahwa sudah saatnya bergerak untuk perubahan.

Sasaran Saracen sama juga, yaitu orang bodoh yang menggunakan hp pintar, para pengangguran yang resah karena tidak mendapat pekerjaan dan ormas-ormas yang begitu banyak tersebar di Indonesia. Mereka ini "sedang dilatih" untuk menjadi radikal dan garda depan ketika rencana chaos akan dijalankan.

Alasan Saracen dengan Radio kebencian di Rwanda itu juga sama, yaitu Freedom of speech atau kebebasan berbicara.

Grup Saracen hanyalah gunung es. Ia tampak besar tetapi belum keseluruhan. Di bawahnya lagi masih banyak kelompok-kelompok maupun personal yang memanfaatkan kebencian sebagai produk dagangan.

Mereka ada yang memang sadar apa yang dilakukan, dan jauh lebih banyak lagi yang hanya ikut-ikutan.

Tertangkapnya beberapa anak sekolah karena mengirimkan ujaran kebencian lewat media sosial adalah bukti bahwa sudah banyak orang yang menjadi zombie karena terpengaruh propaganda.

Kita tidak bisa hanya berteriak, "manfaatkan media sosial dengan bijak!" karena sejak pilpres 2014 sudah begitu banyak akun-akun bayaran untuk memecah belah. Yang bisa kita lakukan adalah dengan melawan. Propaganda vs Propaganda. Fight fire with fire. Hukum biar urusan pihak keamanan.

Seruput dulu kopinya karena guncangan ini belum akan reda sampai Pilpres berikutnya.

Sumber : Kabid Humas Polda DIY, AKBP Yuli Yanto