Cari Blog Ini

Minggu, 14 Oktober 2018

BAMBANG WIDJOJANTO, OTAK DIBALIK RILIS INDONESIALEAKS



Ditengah hebohnya isu mengenai dugaan perusakan barang bukti KPK berupa buku merah yang katanya berisi data - data aliran dana korupsi Basuki Hariman ke beberapa tokoh penting, salah satunya Kapolri, Jenderal Polisi Tito Karnavian, tiba - tiba muncul sosok mantan Wakil Ketua KPK, Bambang Widjojanto, yang langsung merespon cepat laporan investigasi tersebut dengan nada cukup tendensius kepada KPK dan Polri.

Anehnya, hanya bermodalkan hasil investigasi IndonesiaLeaks, Bambang dengan berani menuduh Kapolri, Jenderal Polisi Tito Karnavian sebagai orang yang paling banyak menerima uang dari Basuki Hariman.

"Indonesialeaks menyatakan 'Tertulis dalam dokumen itu bahwa nama Tito Karnavian tercatat paling banyak mendapat duit dari Basuki (Hariman, Red), langsung maupun melalui orang lain', baik ketika menjabat sebagai kapolda Metro, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme pada Maret-Juli 2016 maupun ketika sudah dilantik sebagai Kapolri," kata Bambang Widjojanto dalam keterangan tertulis via Gatra.com, Senin (8/10).

Kelihatan sekali, Bambang seakan “mengompori KPK” agar segera memeriksa Kapolri Tito Karnavian.

“Pimpinan KPK tengah diuji publik apakah masih punya nyali untuk membongkar kasus ini hingga tuntas, setidaknya memanggil dan memeriksa Tito Karnavian,” kata Bambang dalam keterangan tertulis, Senin, 8 Oktober 2018.

Selain menyerang sosok Kapolri, Bambang juga dengan tendensiusnya ikut menyerang KPK dan meminta agar KPK mengusut kasus tersebut dengan bermodalkan hasil investigasi IndonesiaLeaks yang jelas - jelas sampai hari ini tidak bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya.

"Yang harus dipersoalkan dalam seluruh kekisruhan ini, dimana posisi hukum dan nurani keadilan dari komisioner KPK yang sekaligus pimpinan KPK," kata Bambang.
"Karena itu, mari kita cari kebenaran dengan menggunakan hasil investigasi dari Indonesialeaks ini," katanya.

Jadi wajar saja, banyak pihak yang mencurigai bahwa Bambang Wijayanto lah sosok dibalik laporan investigasi IndonesiaLeaks tersebut. Apalagi, Bambang dikenal sebagai salah satu senior di YLBHI dan tentu saja memiliki beberapa “junior” di IndonesiaLeaks yang juga diisi oleh orang - orang dari YLBHI.

“Apakah Mas BW juga penanggung jawab atau menjadi bagian dari itu (situs IndonesiaLeaks)," ujar Sekjen PPP Arsul Sani di Ruang Fraksi PPP, Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (11/10).

Asrul menilai, respon berlebihan dan terkesan tendensius yang dilakukan oleh Bambang Wijayanto seakan memberikan sinyal bahwa sosok anonim dibalik laporan IndonesiaLeaks tersebut adalah Bambang itu sendiri. Apalagi, IndonesiaLeaks mengatakan clue bahwa sosok informan mereka adalah orang dalam KPK, dan Bambang sendiri pernah menjadi salah satu komisioner KPK.

Selain didukung clue tersebut, Bambang Widjojanto juga pernah tersangkut kasus dengan pihak kepolisian dengan tuduhan memberikan kesaksian palsu dalam persidangan di Mahkamah Konstitusi atas kasus sidang sengketa pilkada di Kotawaringin Barat pada 2010.

Bambang kemudian ditangkap di kawasan Depok pada pukul 07.30 WIB, setelah itu langsung dibawa ke Bareskrim Polri dan diperiksa sebagai tersangka.

"Setelah melakukan galar perkara beberapa kali, lalu bisa ditingkatkan ke penyidikan. Penyidik sudah dapat alat bukti surat atau dokumen, keterangan para saksi, dan keterangan ahli," Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Ronny Sompie.

Kesaksian palsu Bambang itu mengindikasikan bahwa Bambang memiliki track record buruk dalam menyebarkan berita palsu. Bagi Mahkamah Konstitusi, kesaksian palsu Bambang dalam kasus tersebut sangat berbahaya sekali bagi penegakan hukum di Indonesia.

"Saya menilai itu berbahaya bagi MK. Bisa-bisa semua perkara akan begitu," ujar Ketua Mahkamah Konstitusi kala itu, Mahfud MD usai bertandang ke Gedung KPK, Jakarta, Jumat (6/2/2015).

Setelah tersangkut kasus kesaksian palsu di sidang MK tersebut, Bambang kemudian mengajukan pengunduran dirinya sebagai komisioner KPK. Oleh KPK sendiri, permohonan pengunduran diri tersebut ditolak oleh seluruh pimpinan KPK.

Perlu diteliti kembali apa yang melatarbelakangi Bambang Widjajanto, mundur dari penanganan kasus dana talangan Bank Century.

Apakah karena Bambang menghindari conflict of interest. Karena, sebelumnya komisioner bidang penindakan KPK pernah menjadi pengacara dari Lembaga Penjamin Simpanan (LPS)? apa keterkaitannya?

"Ya karena alasan itu, Pak Bambang memutuskan tidak memberi suara," kata Juru Bicara KPK Johan Budi di kantornya, Jakarta, Senin (27/8/2012) malam.

Sehingga pertanyaannya, apakah ada indikasi Bambang ingin membenturkan Polri dengan KPK? Ataukah ada sakit hati tersendiri dengan dua institusi tersebut?

Sumber Berita:

http://www.tribunnews.com/nasional/2018/10/10/ketua-kpk-penyobekan-barang-bukti-oleh-penyidik-tidak-terlihat-di-cctv

https://m.viva.co.id/amp/berita/nasional/1083032-mahfud-md-anggap-skandal-buku-merah-indonesialeaks-hoax

http://www.tribunnews.com/nasional/2012/08/28/ini-alasan-bambang-widjojanto-mundur-tangani-kasus-century

https://metro.tempo.co/read/1047034/ini-target-ketua-kpk-jakarta-bambang-widjojanto-versi-demokrat

https://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2015/01/150123_bambang_widjojanto

https://tirto.id/jejak-bambang-widjojanto-sebelum-jadi-ketua-pencegahan-korupsi-dki-cCFH

https://m.inilah.com/news/detail/2484684/soal-indoleaks-icw-belum-mau-berkomentar
#SaveKPKPolriDariHoax

Salam Indonesia Raya

Arief Luqman El Hakiem

(Pegiat Media dan Pemerhati Kebijakan Publik)


ANTARA INDONESIALEAKS DAN "BACOT MC-GREGOR"


Dunia masih heboh dengan kejadian hari Minggu (7/10/2018) silam di T-Mobile Arena, Las Vegas, dimana Conor McGregor takluk dalam pertandingan empat ronde dalam pay-per-view Ultimate Fighting Championship (UFC) 229 melawan Khabib Nurmagomedov.

Namun, bukan kekalahan McGregor yang menjadi buah bibir. Melainkan apa yang terjadi setelah laga, ketika Khabib keluar octagon setelah memanjat pagar usai sukses membikin McGregor tap out melalui neck crank submission saat ronde keempat sudah setengah jalan. Setelah keluar arena, Khabib menghajar tim petarung berjuluk The Notorious itu seorang diri.

Di saat bersamaan, ada seorang dari tim Khabib yang menyelinap masuk untuk menghajar McGregor yang sudah sempoyongan karena terus menerima pukulan dan kuncian. Dasar dari tindakan Khabib dan tim ini adalah api yang ditebar McGregor sebelum laga.

Untuk memahami kelakuan McGregor yang liar dan ugal-ugalan, terutama menjelang pertarungan melawan dengan Khabib, kita perlu melihat perilaku ini dengan kacamata berbeda. Percuma bicara moral dengan McGregor, karena bisnis adalah dasar tindakannya selama ini di UFC.

McGregor adalah seorang yang tahu bagaimana menciptakan uang melalui tindak-tanduk dan perkataannya. Dengan kontroversi, publik akan memutuskan untuk membayar demi menonton pertandingan UFC, entah secara langsung atau via livestreaming, inilah alasannya kenapa disebut pay-per-view.

Ini belum menghitung pemasukan lain seperti iklan ekslusif untuk McGregor. Inilah sebab, McGregor tak pernah mendapatkan hukuman dengan tujuan memberikan efek jera dari UFC meski bacotnya ugal-ugalan.

Hasil pertandingan, bahkan kekalahan sekalipun bukan masalah besar bagi McGregor, yang sudah meraih segalanya di UFC. Karena kekalahan dari lawan memberikan kesempatan untuk mendulang uang lebih banyak melalui pertandingan ulang. McGregor mengklaim sudah mendapatkan 50 juta dollar pada wawancara sebelum laga UFC 229 melawan Khabib.

Singkat cerita, jika Anda marah melihat kelakuan McGregor, selamat, Anda selama ini sudah sukses dikadalin. Karena di akhir cerita, petarung kelahiran Dublin itu selalu mendapatkan potongan kue yang paling enak dari setiap laga yang dia jalani.

Nah, di tanah air saat ini sedang heboh soal Buku Merah yang dirilis oleh Indonesialeaks, sebuah platform yang diinisiasi oleh Free Press Unlimited (FPU), Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, Tempo Institute dan Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara (PPMN).

Indonesialeaks dirancang sebagai platform bersama untuk menghubungkan pembocor informasi/whistle blower dengan media. Indonesialeaks tidak lebih dari tempat sampah yang memungut dokumen-dokumen surat kaleng, kemudian diolah sedemikian rupa dan dianggap sebagai produk investigasi.

Alur kerja dari Indonesialeaks ini kurang lebih mengadopsi alur kerja dari pembuatan Panama Papers dan Wikileaks (yang sekarang). Publik dapat mengirimkan dokumen rahasia ke platform ini yang dilindungi dengan fitur enkripisi sehingga kerahasiaan identitas pelapor terjamin. Kemudian, dokumen tersebut dibagikan ke media kolaborator untuk diolah, dimasak, digoreng dalam kemasan kerja jurnalistik.

Tahun 2010, dunia dihebohkan oleh Wikileaks yang menguak ratusan ribu dokumen rahasia dari kabel diplomatik Amerika Serikat bekerja sama dengan lima outlet berita dunia: Le Monde, El Pais, Der Spiegel, The Guardian dan The New York Times.

Tahun 2016, dunia diguncang lagi oleh skandal Panama Papers yang diklaim sebagai pembocoran data terbesar di sejarah pembocoran dokumen rahasia di dunia. Sekitar 11,5 Juta dokumen dengan total ukuran data sebesar 2,6 TB dari perusahaan Monssac Fonseca yang berisi tentang informasi rinci mengenai lebih dari 214.000 perusahaan luar negeri, termasuk identitas pemegang saham dan direkturnya.

Dari aspek opini dan media, rilis dari Indonesialeaks atau yang semacamnya bernilai tinggi, karena berhasil membuat heboh dunia dan menaikkan rating atau traffic. Bahkan memiliki dampak terhadap peta politik dan hubungan diplomatik.

Namun secara hukum, produk Indonesialeaks tak lebih dari sampah yang coba didaur ulang agar laku jual. Pertama, karena cara perolehan dokumen tidak legal dan tidak bisa dipertanggungjawabkan. Kedua, produk Indonesialeaks tidak bisa dijadikan barang bukti apalagi alat bukti, bahkan cenderung fitnah atau informasi seperti surat kaleng.

Namun bagi Indonesialeaks dan kompradornya, benar salah tidak penting, yang penting dunia heboh, dan tiras naik. Sama persis seperti logika berpikir McGregor dengan perilaku ugal-ugalannya.

Semua memang tentang bisnis dan uang. Gonggongan Indonesialeaks tidak ada bedanya dengan bacot McGregor. Jauh dari sebutan bermoral dan beretika.

Salam Indonesia Raya

Arief Luqman El Hakiem
(Pegiat Media dan Pemerhati Kebijakan Publik)

Kamis, 04 Oktober 2018

HOAKS DI SEKITAR ISTANA, SEJAK ERA SOEKARNO HINGGA SBY


Bicara mengenai hoaks seakan tak ada habisnya. Kabar bohong ini dapat memanipulasi kabar/cerita yang bisa menipu kelompok atau masyarakat.

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika telah mengimbau masyarakat untuk berhati-hati menerima kabar sebelum diberikan kepada orang lain.

Sepanjang Republik Indonesia diproklamasikan, tak hanya masyarakat, bahkan Presiden RI juga pernah menerima berita hoaks. Pemberitaan hoaks kepada Presiden ini jelas untuk kepentingan dan motif tertentu.

Berikut adalah berita hoaks di Indonesia dari Presiden Soekarno sampai SBY :

1. Raja Idrus dan Ratu Markonah (Era Soekarno)


Berita ini muncul di era pemerintahan Presiden Soekarno. Mereka berdua mengaku merupakan pemimpin suku Anak Dalam yang mempunyai kekuatan yang mumpuni.

Cerita berawal setelah Indonesia merdeka, saat konflik mengenai Papua Barat belum selesai. Pihak Belanda masih menginginkan untuk menguasai wilayah tersebut.

Presiden Soekarno kemudian dibohongi Ratu Markonah dan Raja Idrus yang  mengaku mau menyumbang harta benda untuk merebut Irian Barat dari tangan Belanda.

Saat itu, Raja Idrus dan Ratu Markonah tentunya mendapat liputan media massa besar-besaran.

Soekarno sempat menerima mereka di Istana Kepresidenan dan disambut dengan berbagai pelayanan yang luar biasa.

Namun, ternyata mereka berdua ketahuan berbohong. Keduanya diketahui sering melakukan aksi pemerasan dan penipuan.

Harian Kompas edisi Agustus 1968 memberitakan, "Raja" Idrus ditangkap warga di Kotabumi, Lampung Utara.

Sebab, dia mengaku sebagai anggota Intel Kodam V Jaya dan jadi anak buah Mayor Simbolon. Idrus memeras sejumlah pengusaha di Lampung untuk mendapatkan sejumlah uang sebelum akhirnya dibekuk aparat.

Beberapa hari kemudian, "Ratu" Markonah juga tertangkap oleh petugas.

Menurut Harian Kompas edisi 21 Agustus 1968, Markonah menjalani hukuman penjara tiga bulan karena terlibat prostitusi di Kota Pekalongan, Jateng.

Markonah diberitakan beroperasi di Semarang, Pekalongan, dan Tegal selepas keluar dari bui di Jakarta akibat aksi penipuan.

2. Janin Bisa Bicara (Era Soeharto)

Ilustrasi
Di era Presiden Soeharto, juga terdapat peristiwa penipuan dan hoaks fenomenal, yakni kasus janin berbicara di dalam kandungan.

Dilansir dari harian Kompas 26 Februari 2017, pada akhir 1970-an, Indonesia dihebohkan dengan bayi ajaib di dalam kandungan yang bisa diajak berbicara dan bahkan mengaji di perut Cut Zahara Fona (26), wanita asal Sigli, Kabupaten Pidie, Aceh.

Wakil Presiden Adam Malik dan Presiden Soeharto sempat tertarik dengan fenomena itu. Bahkan, Menteri Agama saat itu juga memberikan komentar di media massa.
Akhirnya, Tim Medis RSPAD, Ikatan Dokter Indonesia, Kejaksaan Agung, dan Polri turun tangan.

Saat hendak diperiksa Tim Ikatan Dokter Indonesia di RSPAD Gatot Subroto tanggal 13 Oktober 1970, Cut Zahara Fona mengatakan bayinya menolak.

Namun, ia diperiksa di RSPAD sepekan kemudian. Tim dokter RSCM juga memeriksa Cut Zahara dan menyatakan tak ada janin di rahim perempuan itu.

Kasus itu tak hanya diliput media dalam negeri. Media asing seperti BBC pun ramai memberitakannya. Aktivitas bayi ajaib terhenti setelah tape recorder yang dipasang di dalam pakaian Cut Zahara ditemukan Polisi Komdak XIII Kalimantan Selatan yang memburunya di Kampung Gambut, 14 kilometer dari Kota Banjarmasin.

Polisi menyita tape recorder EL 3302/OOG berikut kaset rekaman suara tangisan bayi dan bacaan ayat-ayat suci Al Quran.

3. Berita Tambang Emas di Busang (Era Soeharto)


Penipuan dan hoaks kembali terjadi tahun 1990-an yang sampai pada lingkaran Istana Kepresidenan.
Kali ini skandal tambang emas terbesar di dunia di Busang yang konsesinya dimiliki perusahaan kecil dari Kanada, Bre-X.
Kisah bermula saat geolog Filipina yang baru menjelajahi hutan Kalimantan mengaku menemukan jutaan ton emas siap ditambang. Dia pun berupaya mencari investor. Salah satu yang tertarik adalah pengusaha Kanada David Walsh yang juga CEO Bre-X Gold Minerals.

Kehebohan penemuan emas di Busang membuat harga saham Bre-X di Kanada meroket dari 1,90 dollar Kanada per lembar saham pada akhir 1994 menjadi 24,8 dollar Kanada per lembar saham pada Juli 1996.

Soeharto kemudian berupaya mencegah agar emas di Busang dikuasai oleh Bre-X. Izin eksplorasi diubah. Bre-X pun hanya dibatasi pengelolaan sebanyak 45 persen.

Namun, emas tak juga ditemukan. Pada Maret 1997, Michael de Guzman "jatuh" dari helikopter saat terbang dari Samarinda ke Busang. Ada dugaan bahwa de-Guzman bunuh diri.

Ternyata pertambangan emas di Busang hanya tipu daya belaka, miliaran dollar kerugian investor pun menimpa pemodal di bursa saham Kanada dan Amerika Serikat.

4. Soewondo membobol uang Rp 35 miliar (Era Gus Dur)

Abdurrahman Wahid
Berita bohong juga pernah terjadi pada masa Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Saat itu, terdapat seorang bernama Soewondo yang membobol uang Yayasan Dana Kesejahteraan Karyawan (Yanatera) Badan Urusan Logistik (Bulog) senilai Rp 35 miliar.

Soewondo leluasa beraksi karena berprofesi sebagai tukang urut Presiden. Ini menyebabkan dia memiliki akses kekuasaan, serta "menjual" nama para petinggi negara. Saat aksinya ketahuan, Soewondo kemudian melarikan diri.

Harian Kompas edisi 6 Juni 2000 menulis, Reserse Kepolisian Daerah (Polda) Metro Jaya terus melacak persembunyian Soewondo.

Diduga, Soewondo tahu banyak soal dana Rp 35 miliar dari Yayasan Bina Sejahtera (Yanatera) Badan Urusan Logistik (Bulog).
Polisi pun sudah mendatangi beberapa kota yang diperkirakan menjadi tempat pelarian Soewondo, seperti Surabaya, Batam, Magetan, dan beberapa lokasi di Jakarta.

Dia kemudian ditangkap setelah ditemukan di salah satu tempat di kawasan Puncak, Jawa Barat. Soewondo kemudian divonis dengan hukuman 3,5 tahun.

5. Kabar Harta Karun Batutulis (Era Megawati)


Pada masa Megawati digegerkan dengan kabar adanya harta karun di pelataran Istana Batutulis, Bogor. Saat itu ada kabar mengenai timbunan harta peninggalan Prabu Siliwangi.
Harian Kompas edisi 19 Agustus 2002 memberitakan, Menteri Agama Said Agil Al-Munawar bersikeras melanjutkan penggalian di Situs Batutulis.

Penggalian situs prasasti Batutulis telah mendatangkan protes dari berbagai kalangan, khususnya Kepala Kantor Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Endjat Djaenuderajat.

Sejumlah warga Bogor dari berbagai kalangan juga mengecam penggalian lokasi prasasti Batutulis peninggalan Surawisesa (putra Prabu Siliwangi) tahun 1533.

Kekelompok warga menempelkan pamflet bertuliskan, "Mbah Dukun, Tolong Sembur Said Agil, Biar Sadar" dan "Kami Warga Batutulis Tetap Akan Mempertahankan Prasasti Ini. Barangsiapa Berani Melanjutkan Penggalian, Kami Akan Bertindak Brutal".

Hingga kini, harta karun Batutulis tak terbukti kebenarannya.

6. Banyu Geni "Blue Energy" (Era SBY)


Pada zaman Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, terdapat skandal banyu geni atau dugaan penipuan penggunaan air sebagai bahan bakar.

Dilansir dari harian Kompas 3 Juli 2008, "proyek banyugeni", bermula saat ada penelitian  untuk memanfaatkan air sebagai bahan bakar. Konon, proyek ini direstui Presiden Yudhoyono (SBY). Proyek itu juga dikenal dengan sebutan "blue energy".

Dasar pemikirannya adalah, hidrogen yang merupakan unsur dalam air memang bahan bakar. Namun, harus dilakukan disosiasi pada air guna memisahkan hidrogen agar dapat dipakai langsung, atau disenyawakan dulu dengan karbon, atau dengan karbon dan oksigen.

Namun, kemudian instalasi "proyek banyugeni" di Universitas Muhamadiyah Yogyakarta dibongkar. Ternyata cuma berupa kotak berisi kabel besar dan variac (ototrafo yang tegangan keluarannya dapat 

Lagi-lagi isu menghebohkan itu tidak terbukti. Bahkan, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta memperkarakan Joko Suprapto yang merupakan pelopor riset itu.

Sumber : kompas.com

Jumat, 28 September 2018

SOCIAL CLIMBER, SI MELARAT BERLAGAK KONGLOMERAT


Kamu punya teman yang hobinya pamer foto dengan orang hebat, bisa pejabat, jenderal atau perwira TNI dan POLRI, artis atau publik figur lainnya ?

Dia juga suka pamerin barang-barang berharganya di media sosial?

 Saat beli tas baru dia langsung pamer, Hp baru langsung pamer, sepatu baru pamer, atau saat berada di suatu tempat mewah dia langsung pamer juga.

Makan di restoran mahal pamer, nonton di bioskop film terbaru pamer, bahkan sampai ke toilet Mall saja dia pamer dengan mengunggah foto di depan cermin.

Lebih parahnya lagi, keadaan yang sebenarnya tidak berbanding lurus dengan apa yang ia pamerin di media sosial. Jika di media sosial ia memamerkan barang mewah dan kehidupan glamour, namun kenyataannya dia bukanlah seorang yang kaya. Bahkan cenderung dari golongan menengah ke bawah.

Untuk perliaku demikian biasa disebut dengan istilah Social Climbing atau Social Climber.

Apa itu penyakit jiwa social climber?

Dalam ilmu sosiologi, social climbing dimasukan ke dalam kategori mobilitas sosial, tepatnya ialah mobilitas vertikal. Pada ilmu tersebut, social climbing diartikan sebagai pergeseran atau perubahan yang terlihat meninigkat pada status maupun kedudukan. Status peningkatan strata ini bisa mencakup  perorangan, dan bisa juga sekelompok orang.

Beda halnya jika kita mengartikannya dalam ranah sosial media di internet. Social climbing diartikan sebagai suatu bentuk cara dan upaya untuk memasuki kelas sosial yang lebih tinggi hanya demi pengakuan akan status sosialnya. Mereka akan menggunakan berbagai cara untuk selalu terlihat hebat di mata orang lain. Orang yang melakukan social climbing disebut juga dengan istilah social climber.

Berkembangnya suatu zaman, pastinya orang-orang akan mengikuti arus modernisasi. namun yang dilakukan oleh para social climber bikin kita geleng-geleng kepala. Mereka tak lagi mengukur kemampuan perekonomiannya, tak segan-segan mereka akan menunjukan dirinya melalui jejaring sosial diluar batas kemampuan aslinya. Tujuan utama mereka ialah hanya sekedar mencari pengakuan dan pujian, hanya itu saja.

Social climber pada dasarnya merupakan perilaku seseorang yang dilakukan untuk meningkatkan status sosialnya. Ia melakukan segala hal agar mendapat pengakuan status sosial lebih tinggi dari status yang sebenarnya.

Biasanya orang yang mengidap perilaku social climber gaya hidupnya cenderung lebih glamour dan selalu ingin terlihat mewah. Sebab dengan gaya hidup seperti itu, ia ingin mendapat pengakuan jika dia termasuk orang kaya, meskipun kondisi yang sebenarnya tidak seperti yang ia pamerkan di media sosial.

Sebenarnya tidak ada yang salah jika ingin dianggap menjadi orang kaya, namun bagi para social climber, melakukan hal tersebut dengan segala cara. Para social climber ingin terlihat kaya dengan tidak melalui sebuah proses terlebih dahulu untuk benar-benar menjadi orang kaya. Ia bahkan bisa melakukan apa saja agar mendapatkan kelas sosialnya.

Biasanya para pelaku social climber akan merasa tidak nyaman, tidak percaya diri, dan khawatir tidak diterima di lingkungannya apabila tidak tampil glamour. Akibatnya sebisa mungkin dengan berbagai cara ia lakukan agar tampil mewah.

Selalu merasa khawatir, dan tidak percaya diri saat tidak menggunakan barang-barang dengan brand ternama, merupakan gejala yang dimiliki para social climber. Inilah yang kemudian social climber bisa disebut “penyakit kejiwaan”. Ia akan merasa gelisah dan takut jika terlihat miskin, merasa minder, tidak bisa menerima kondisi dirinya pada keadaan yang sebenarnya.

Social climber berbeda dengan orang kaya yang sebenarnya, orang kaya yang melalui proses panjang penuh perjuangan, akan lebih kalem dan lebih sederhana meskipun ia memiliki uang yang lebih banyak dari para social climber. Lihat saja penampilan pemuda terkaya saat ini, Mark Zuckerberg, dia tampil sangat sederhana. Bahkan secara penampilan mungkin ia kalah mewah dari karyawan di Indonesia yang gajinya tidak lebih dari 5 juta.

Apakah penyakit social climber berbahaya?

Tentu! Social climber merupakan benih penyakit kejiwaan yang sangat berbahaya. Kita ingat kembali pembahasan diatas, para social climber bisa melakukan apa saja agar hidupnya terlihat memiliki status sosial yang tinggi dengan hal yang praktis dan tidak melalui proses.

Dari point tersebutlah para penderita social climber bisa melakukan hal-hal negatif sekalipun agar ia bisa tampil mewah. Semisal saja, pegawai negeri golongan I menginginkan hidup dengan rumah megah, mobil mewah, barang-barang keseharian yang berharga puluhan sampai ratusan juta, tentu gaji dari menjadi PNS tidak bisa mencukupi, dan jalan pintasnya kemungkinan korupsi.

Akibat dari dampak social climber, mereka tidak sedikit yang sampai melakukan penipuan untuk hidup mewah. Kita mungkin masih ingat dengan kasus beberapa waktu lalu dimana ada seorang yang membeli mobil mewah dan smartphone mahal dari uang hasil donasi yang ia kumpulkan, padahal tentu uang tersebut bukanlah haknya. Mungkin kejadian tersebut akibat social climber tadi.

Menjadi orang kaya memang tidak ada salahnya, namun harus melalui proses dan perjuangan terlebih dahulu. Selain itu meskipun uang berlimpah bukankah dengan hidup sederhana dan apa adanya keadaanmu akan membuat hidup lebih tenang?

Tampillah apa adanya, tidak perlu membohongi diri sendiri. Syukuri apa yang kamu miliki saat ini, sebab dengan bersyukur kita akan merasa cukup dan puas dengan apa yang ada di hidupmu selama ini.

Penulis : AW dari inovasee.com



Selasa, 24 Juli 2018

TERUNGKAP !!! CARA KERJA BUZZER SEBAR HOAX DAN PERANG MEDSOS (Investigasi The Guardian)


Keberadaan pasukan buzzer di dunia maya selama kontestasi politik di Indonesia menjadi perhatian media Inggris, The Guardian. Media ini pun lantas menurunkan tulisan menyoroti keberdaan tim Buzzer yang menjadi bagian dari politik yang sedang berkembang di Indonesia, membantu memecah belah agama dan ras.

Dalam tulisannya, The Guardian mewawancarai seorang anggota tim buzzer dari mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok saat bertarung dalam Pilkada DKI Jakarta 2017 lalu. Sumber yang mengaku bernama Alex itu mengatakan ia adalah salah satu dari 20 orang dalam pasukan maya rahasia yang menyebarkan pesan dari akun media palsu untuk mendukung Ahok.

"Mereka mengatakan kepada kami bahwa Anda harus memiliki lima akun Facebook, lima akun Twitter dan satu Instagram," katanya seperti dikutip dari The Guardian, Selasa (24/7/2018).

"Dan mereka mengatakan kepada kami untuk merahasiakannya. Mereka mengatakan itu adalah 'waktunya berperang' dan kami harus menjaga medan perang dan tidak memberi tahu siapa pun tentang kami bekerja," imbuhnya.

"Ketika Anda sedang berperang, Anda menggunakan apa pun yang tersedian untuk menyerang lawan. Tetapi kadang-kadang saya merasa jijik dengan diri saya sendiri," ucapnya.

Alex mengatakan timnya dipekerjakan untuk melawan banjir sentimen anti Ahok, termasuk hashtag yang mengkritik kandidat oposisi, atau menertawakan koalisi kelompok Islam.

Tim Alex, yang terdiri dari pendukung Ahok dan mahasiswa, memperoleh bayaran Rp4 juta. Mereka diduga bekerja di sebuah rumah mewah kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Masing-masing dari mereka diberitahu untuk mengirim 60 hingga 120 kali cuitan sehari di akun Twitter palsu dan beberapa kali postingan setiap hari di Facebook.

Alex mengatakan timnya terdiri dari 20 orang, masing-masing dengan 11 akun media sosial, akan menghasilkan hingga 2.400 postingan di Twitter sehari. 

Operasi ini dikoordinasikan melalui grup WhatsApp bernama Special Force, atau Pasukan Khusus, yang Alex perkirakan terdiri dari sekitar 80 anggota. Tim itu memberi makan konten dan hashtag harian untuk diposting.

"Mereka tidak ingin akun tersebut menjadi anonim sehingga mereka meminta kami untuk mengambil foto untuk profil tersebut, jadi kami mengambilnya dari Google, atau terkadang kami menggunakan gambar dari teman-teman kami, atau foto dari grup Facebook atau WhatsApp," jelas Alex.

"Mereka juga mendorong kami untuk menggunakan akun wanita cantik untuk menarik perhatian pada materi; banyak akun yang seperti itu," sambungnya.

Di Facebook, mereka bahkan membuat beberapa akun menggunakan foto profil aktris asing yang terkenal, yang entah bagaimana tampak seperti penggemar Ahok. Tim siber itu diduga mengatakan "aman" untuk memposting dari markas mereka di Menteng, di mana mereka beroperasi dari beberapa kamar.

"Ruang pertama untuk konten positif, di mana mereka menyebarkan konten positif tentang Ahok. Ruang kedua adalah untuk konten negatif, menyebarkan konten negatif dan pidato kebencian tentang oposisi," rinci Alex. Alex sendiri memilih untuk berada di kamar positif.

Banyak dari akun tersebut hanya memiliki beberapa ratus pengikut, tetapi dengan mendapatkan tren hashtag mereka, setiap hari, mereka secara artifisial meningkatkan visibilitas di platform. Dengan memanipulasi Twitter, mereka memengaruhi pengguna dan media Indonesia, yang sering mengacu pada hashtag yang sedang tren sebagai barometer suasana nasional.

Mengingat bahwa Ahok kalah dalam pemilihan, dan berakhir di penjara, Alex mengatakan dia tidak dapat memastikan seberapa efektif timnya.

Ulin Yusron, juru bicara tim kampanye Ahok menolak mengomentari tuduhan tertentu tetapi mengatakan kampanye itu sangat sulit.

"Penggunaan fitnah, kebencian dan tipuan (berita palsu) sangat besar," katanya kepada Guardian. 

“Secara alami, tim membentengi diri dengan pasukan pendukung, termasuk di media sosial. Itu bukan sesuatu yang baru dalam politik,” imbuhnya.


sumber : internasional.sindonews.com 

Minggu, 15 Juli 2018

ZOHRI, HOAX dan EUFORIA MEDIA

Muhammad Zohri sujud syukur usai jadi juara

Zohri, pemuda asal Lombok, NTB (Nusa Tenggara Barat) ini mendadak tenar dan menjadi tranding topik media dan jagat maya, tidak hanya media lokal, bahkan dunia internasional. Hampir semua orang latah, termasuk para politisi hingga pejabat negara berlomba-lomba nebeng popularitasnya.
Berbagai informasi Hoax dan Gorengan Politik serta euforia media turut mengiringi pemberitaan seputar Zohri. Mulai dari biaya keberangkatan, sepatu yang dikenakan hingga bendera.
Sebagai pegiat media dan inisiator Gerakan Anti Hoax (GERAX), saya merasa terpanggil untuk meluruskan pemelintiran berita dan mengantisipasi agar opini tidak berkembang liar, yang akhirnya justru merugikan Zohri sendiri dan publik tanah air.
Biaya Sendiri
Ini adalah informasi ngawur dan 100% hoax. Mohammad Zohri mengkuti turnamen ini secara resmi sebagai perwakilan Indonesia, bahkan Asia, diberangkatkan oleh PB PASI (Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia) dengan disertai beberapa official.
Biaya ditanggung oleh negara (APBN) melalui anggaran KONI (Komite Olahraga Nasional Indonesia), atau dari sponsor dan donatur, bukan dari kantong pribadi Zohri.
Jika kemudian beredar kabar, Zohri dibiayai oleh Bob Hasan, itu wajar karena dia adalah Ketua PB PASI. Bob Hasan yang pernah menjadi Menteri Pertambangan pada masa orde baru megeluarkan dana akomodasi Zohri dalam kapasitas sebagai Ketua PB PASI, bukan atas nama pribadi.
Berangkat Sendiri
Ini juga hoax paling aneh dan dungu. Kejuaraan Dunia Ateltik adalah turnamen resmi dan agenda rutin IAAF (International Association of Athletics Federations), badan olahraga dunia yang menaungi atletik seperti FIFA menaungi sepakbola.
Tidak sembarang orang bisa mengikuti tunamen tersebu, kaya nonton konser musik saja. Zohri tampil di kejuaran junior dunia di Finlandia ini sebagai wakil dari Asia usai meraih juara pada kejuaraan Asia U20, Juni lalu dengan catatan waktu terbaik 10.27 detik yang dipertajam di Jakarta menjadi 10.25.
Zohri sudah dua kali mengikuti ajang internasional. Yakni di Singapura dan Kenya. Namun saat di Singapura tidak turun karena cedera. Setiap berangkat pasti ditemani official dan membawa nama PB PASI. Tidak mungkin nyelonong sendiri trus ndaftar ikut lomba broo...
Sepatu Zohri
Ada juga beredar hoax dengan gambar fokus pada sepatu yang dikenakan Zohri. Disebutkan beli sendiri seharga Rp 75 ribu, dikenakan tanpa kaos kaki, seolah-olah begitu memprihatinkan.
Silakan Anda semua cermati kedua pelari asal Amerika yang berfoto bersama Zohri, mereka mengenakan sepatu yang sama, berwarna biru dengan logo khas Nike. Apa mungkin beli sendiri di Tanah Abang dengan harga dibawah seratus ribu ?!
Zohri tidak mengenakan kaos kaki (atau tidak nampak kaos kakinya), ini juga sama dengan ke 7 pelari yang lain. Mungkin memang tradisi dan petimbangan teknisnya begitu untuk cabang lari, tidak seperti sepak bola, dimana pemainnya memakai kaos kaki sampai lutut.
Bendera
Ini hoax paling sadis yang digoreng dadakan persis tahu bulat dijual lima ratusan. Pertama kita harus tahu bahwa merayakan kemenangan sambil lari-lari bawa bendera, hukumnya tidak wajib dan bukan ritual resmi turnamen. Acara resminya adalah pengibaran bendera dan pemutaran lagu kebangsaaan sang juara pada saat pengalungan medali atau penyerahan piala.
Untuk bendera yang dibawa muter-muter biasanya inisiatif official, penonton pendukung atau wartawan yang meliput disana. Dalam kasus Zohri kemarin, tempat duduk official terlalu jauh dan terhalag barikade sehingga terlambat memberikan bendera Merah Putih.
Sementara tidak ada supporter dan wartawan Indonesia disana yang datang dan bawa bendera. Jadi ini bukan salahnya Imam Nahrowi, Menpora, apalagi Jokowi, Presiden Republik Indonesia. Juga tidak ada kaitannya dengan Pilpres atau Pilkada.
Atletik bukan olahraga yang populer dan banyak digemari di Indonesia, wajar jika selama ini kiprah mereka jarang diliput dan diekspose media, tapi bukan berarti pemerintah tidak memperhatikan. Buktinya ada atlit yang berprestasi, itu artinya ada program dan perencanaan dari PB PASI dan KONI sebagai kepanjangan tangan pemerintah
Masa Menpora dan Presiden harus menemani setiap atlit yang bertanding dalam kejuaraan internasional, yang bener aja brooo ? Trus ntar yang meresmikan proyek infrastruktur dan menggunting pita siapa dong ?
Kalau nanti beredar foto Zohri bersama Pak Imam Nahrowi, itu wajar, karena memang atletik urusannya Menteri Olahraga. Bahkan jika ada foto bersama Bu Puan Maharani, juga boleh saja, karena Kemenpora kan dibawah kordinasi Kementrian Koordinator PMK. Pokowi, itu juga sah-sah saja, Muhammad Zohri kan warga negara Indonesia.
Sebagai informasi tambahan buat para Netizens yang tidak malas membaca, ini saya sajikan sedikit perjalanan prestasi Lalu Muhammad Zohri.
Nama lengkapnya Lalu Muhammad Zohri, media mempopulerkannya dengan nama Lalu, tapi saya lebih suka memanggilnya Muhammad Zohri, atau Zohri saja. Turun di nomor elit 100 meter putra, Muhammad Zohri sukses menjadi yang tercepat di kejuaraan dunia junior atletik yang berlangsung di Tampere, Finlandia, Rabu (11/7) malam waktu setempat.
Pelari yang memiliki julukan Bocah Ajaib dari Lombok ini berada di jalur ke-8 dan bisa menjadi yang tercepat dengan catatan waktu 10.18 detik. Zohri mengalahkan dua pelari U20 terbaik Amerika Serikat Anthony Scwartz dan Eric Harrison yang menduduki peringkat kedua dan ketiga dengan waktu 10.22.
Selain meraih medali emas, Zohri sekaligus juga memecahkan rekor nasional Yunior atas nama dirinya dari 10.25 menjadi 10.18 detik. Bahkan rekor Zohri mendekati rekornas Senior yang masih dipegang oleh Suryo Agung Wibowo dengan waktu 10.17 detik.
Sebelumnya Zohri mampu menyumbangkan medali perak di test event Asian Games 2018 pada bulan Februari lalu di nomor 100 meter putra. Atlit asal Nusa Tenggara Barat ini memang menjadi sensasi sejak mengikuti Kejuaraan Nasional (Kejurnas) U-18 dan U-20 yang berlangsung di Stadion Atletik Rawamangun, Jakarta beberapa waktu lalu.
Dengan prestasinya tersebut kemudian ia sempat dipilih oleh Pengurus Besar (PB) Persatuan Atletik Seluruh Indonsia (PASI) untuk memperkuat Tim Nasional (Timnas) mengikuti Kejuaraan Dunia, Remaja di Neima, Kenya Juli lalu.
Di ajang itu, ia berhasil membuktikan diri mampu bersaing dengan atlet luar negeri. Bagimana tidak catatan prestasi yang telah ditoreh di nomor 200 meter dengan catatan waktu 21.96 detik sekaligus mempersembakan medali emas untuk NTB. Khusus di Finlandia, ia menjadi atlit Indonesia pertama yang sukes meraih medali di ajang kejuaraan dunia junior dalam 32 tahun terakhir.
So, jadilah Netizens cerdas dan bijak. Jangan asal share jangan asal goreng, mentang-mentang bulat main goreng aja, ternyata batu coral, bukan tahu hehe...

Jakarta, 15 Juli 2018
Arief Luqman El Hakiem
Pegiat Media dan Pemerhati Kebijakan Publik
Inisiator Gerakan Anti Hoax (GERAX)




Selasa, 10 Juli 2018

Atasi Begal dan Premanisme, Takdir Mattanete Bentuk TEKAP

Banyaknya aksi kejahatan jalanan yang meresahkan masyarakat, bahkan ada yang meninggal menjadi perhatian Polri, dan utamanya Polres Banjar. Walau di Kabupaten Banjar tergolong aman, Polres Banjar tak ingin kecolongan.

Kapolres Banjar, AKBP Takdir Mattanete mengatakan, Polres Banjar membentuk Tim Anti Fremanisme (Tekap) yang akan menghandle wilayah hukum Polres Banjar. Pihaknya lebih baik mencegah dan selama ini aman tetapi mencegah lebih bagus

“Tim ini siang malam mobile melakukan penindakan sesuai arahan pimpinan dan keinganan masyarakat tentunya rasa aman dan nyaman dari aksi fremanisme,” katanya.

Dia menjelaskan, tim dibentuk khusus ada 13 diluar Kanit dan Kasat ada personel yang dipersenjantai lengkap. Tim ini memberantas aksi fremanisme.

Dengan masa kerja yang setiap bulannya dievaluasi. Mengingat masih ada beberapa bentuk aksi fremanisme di Kabupaten Banjar yang harus diberantas seperti pencurian kecil, penjambretan, terutama daerah yang menjadi perhatian sepanjang Jalan A Yani sampai Kabupaten Tapin dan arah Pelaihari.

Takdir tidak main-main bahkan memerintahkan anggotanya untuk tembak ditempat pelaku jika membahayakan nyawa anggota dan masyarakat. Tentunya tindakan tegas yang dilakukan haruslah terukur dan tidak arogan.

Adapun rekapitulasi tahunan 2017 Satuan Reskrim dan Polsek-Polsek Polres Banjar, untuk jenis kasus pencurian dengan pemberatan ada 53 kasus, pencurian dengan kekerasan ada empat kasus, pencurian biasa 53 kasus, curanmor ada 47 kasus, percobaan pencurian ada dua kasus.

Penganiayaan ada 34 kasus, pengeroyokan ada tujuh kasus, pembunuhan dua kasus, pengancaman ada dua kasus, pemerasan satu kasus, perjudian ada 21 kasus, senjata tajam ada 36 kasus, serta meninggal dunia karena minuman keras ada satu kasus.

Kasat Reskrim Polres Banjar, AKP Sofyan didampingi Ketua Tim Tekap yang juga Kepala Unit Resmob, IPDA Nur Arifin menambahkan, disamping melaksanakan tugas dan jabatan sehari-hari juga melaksanakan tugas sebagai anggota Satgas Pemberantasan Kejahatan Jalanan untuk mengantisipasi segala bentuk kejahatan jalanan.

Tim Tekap difasilitasi lengkap dan begitu pula persenjataannya. Selain kendaraan roda dua dan roda empat, dari segi persenjataan ada laras panjang, revolver yang dimiliki semua anggota, dilengkapi pula bodyface, dan helm serta pakaian tactical.

“Anggotanya ada 12 orang dan penanggungjawab Tim Tekap langsung oleh Kapolres Banjar. Begitu dibentuk langsung bergerak,” kata Sofyan.

Nur Arifin menambahkan, berdasarkan data rekapitulasi mingguan untuk kejahatan jalanan di wilayah hukum Polsek Gambut ada empat orang, Polsek Martapura Kota ada lima orang, Polsek Mataraman satu orang, Polsek Pengaron ada dua orang. Selain disidik total ada 17 orang yang dibina.

Kepalda Desa Indrasari, A Yani secara pribadi tentunya mendukung seratus persen atas langkah Polres Banjar membentuk Tim Anti Fremanisme (Tekap). Secara tidak langsung walau tingkat kriminalitas di desa Indrasari ini tidaklah mengkhawatirkan.

Adanya Tim Tekap setidaknya bagi yang ada niat melakukan kriminalitas jalanan berpikir dua kali. Karena Tekap ini selain standbye 24 jam juga rutin patroli di wilayah hukum Polres Banjar.

“Desa Indrasari ada 1.800 kepala keluarga atau berpenduduk 6.000 lebih. Kami menyambut baik adanya Tekap ini,” katanya.

Menjadi harapannya, dengan adanya Tim Anti Fremanisme ini tentunya bisa menekan angka kriminalitas di Kabupaten Banjar. Dengan demikian warga merasa aman dan nyaman dalam beraktifitas.

Warga Martapura, Hamidah mengatakan, mendengar nama singkatannya memang masih terasa asing, tetapi tidaklah mengapa terpenting sudah ada usaha menekan kriminalitas jalanan di wilayah hukum Polres Banjar. Bagi ibu-ibu seperti dirinya tentunya menyambut bagus.

“Saya dengar ada patroli rutin juga dan ini tentunya bagus. Bagi perempuan seperti saya tidak merasa takut lagi, tetapi tetap waspada,” katanya.

Tentunya juga bisa mencegah generasi muda mengonsumsi obat-obatan terlarang seperti Zenith yang marak akhir-akhir ini".

(Arief Luqman El Hakiem / Bhayangkara Indonesia News)