Bhayangkara Indonesia News terdaftar pd Departemen Hukum dan HAM RI, Dirjen HAKI No. D. 002016052740. MoU Polri dan Dewan Pers No. 01/dP/MoU/ii/2012, No. 05/ii/2012 tentang Koordinasi dalam Penegakan Hukum dan Kemerdekaan Pers, Pelindung : KaDiv Hukum Polri, Pembina : Kombes. Pol. Drs. Kadarusman, SH, MH, Kombes Pol. (Purn) Drs. Jhon Hendri, SH, MH. Senior Editor : AKBP. Jasa Siagian, SH, MH, AKBP. Bambang Kayun, SH, MH. Pemred : Kasyadi Saputro. Kabid. Brand Image Polri : Arief Luqman El Hakiem
Cari Blog Ini
Minggu, 14 Oktober 2018
BAMBANG WIDJOJANTO, OTAK DIBALIK RILIS INDONESIALEAKS
Ditengah hebohnya isu mengenai dugaan perusakan barang bukti KPK berupa buku merah yang katanya berisi data - data aliran dana korupsi Basuki Hariman ke beberapa tokoh penting, salah satunya Kapolri, Jenderal Polisi Tito Karnavian, tiba - tiba muncul sosok mantan Wakil Ketua KPK, Bambang Widjojanto, yang langsung merespon cepat laporan investigasi tersebut dengan nada cukup tendensius kepada KPK dan Polri.
Anehnya, hanya bermodalkan hasil investigasi IndonesiaLeaks, Bambang dengan berani menuduh Kapolri, Jenderal Polisi Tito Karnavian sebagai orang yang paling banyak menerima uang dari Basuki Hariman.
"Indonesialeaks menyatakan 'Tertulis dalam dokumen itu bahwa nama Tito Karnavian tercatat paling banyak mendapat duit dari Basuki (Hariman, Red), langsung maupun melalui orang lain', baik ketika menjabat sebagai kapolda Metro, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme pada Maret-Juli 2016 maupun ketika sudah dilantik sebagai Kapolri," kata Bambang Widjojanto dalam keterangan tertulis via Gatra.com, Senin (8/10).
Kelihatan sekali, Bambang seakan “mengompori KPK” agar segera memeriksa Kapolri Tito Karnavian.
“Pimpinan KPK tengah diuji publik apakah masih punya nyali untuk membongkar kasus ini hingga tuntas, setidaknya memanggil dan memeriksa Tito Karnavian,” kata Bambang dalam keterangan tertulis, Senin, 8 Oktober 2018.
Selain menyerang sosok Kapolri, Bambang juga dengan tendensiusnya ikut menyerang KPK dan meminta agar KPK mengusut kasus tersebut dengan bermodalkan hasil investigasi IndonesiaLeaks yang jelas - jelas sampai hari ini tidak bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya.
"Yang harus dipersoalkan dalam seluruh kekisruhan ini, dimana posisi hukum dan nurani keadilan dari komisioner KPK yang sekaligus pimpinan KPK," kata Bambang.
"Karena itu, mari kita cari kebenaran dengan menggunakan hasil investigasi dari Indonesialeaks ini," katanya.
Jadi wajar saja, banyak pihak yang mencurigai bahwa Bambang Wijayanto lah sosok dibalik laporan investigasi IndonesiaLeaks tersebut. Apalagi, Bambang dikenal sebagai salah satu senior di YLBHI dan tentu saja memiliki beberapa “junior” di IndonesiaLeaks yang juga diisi oleh orang - orang dari YLBHI.
“Apakah Mas BW juga penanggung jawab atau menjadi bagian dari itu (situs IndonesiaLeaks)," ujar Sekjen PPP Arsul Sani di Ruang Fraksi PPP, Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (11/10).
Asrul menilai, respon berlebihan dan terkesan tendensius yang dilakukan oleh Bambang Wijayanto seakan memberikan sinyal bahwa sosok anonim dibalik laporan IndonesiaLeaks tersebut adalah Bambang itu sendiri. Apalagi, IndonesiaLeaks mengatakan clue bahwa sosok informan mereka adalah orang dalam KPK, dan Bambang sendiri pernah menjadi salah satu komisioner KPK.
Selain didukung clue tersebut, Bambang Widjojanto juga pernah tersangkut kasus dengan pihak kepolisian dengan tuduhan memberikan kesaksian palsu dalam persidangan di Mahkamah Konstitusi atas kasus sidang sengketa pilkada di Kotawaringin Barat pada 2010.
Bambang kemudian ditangkap di kawasan Depok pada pukul 07.30 WIB, setelah itu langsung dibawa ke Bareskrim Polri dan diperiksa sebagai tersangka.
"Setelah melakukan galar perkara beberapa kali, lalu bisa ditingkatkan ke penyidikan. Penyidik sudah dapat alat bukti surat atau dokumen, keterangan para saksi, dan keterangan ahli," Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Ronny Sompie.
Kesaksian palsu Bambang itu mengindikasikan bahwa Bambang memiliki track record buruk dalam menyebarkan berita palsu. Bagi Mahkamah Konstitusi, kesaksian palsu Bambang dalam kasus tersebut sangat berbahaya sekali bagi penegakan hukum di Indonesia.
"Saya menilai itu berbahaya bagi MK. Bisa-bisa semua perkara akan begitu," ujar Ketua Mahkamah Konstitusi kala itu, Mahfud MD usai bertandang ke Gedung KPK, Jakarta, Jumat (6/2/2015).
Setelah tersangkut kasus kesaksian palsu di sidang MK tersebut, Bambang kemudian mengajukan pengunduran dirinya sebagai komisioner KPK. Oleh KPK sendiri, permohonan pengunduran diri tersebut ditolak oleh seluruh pimpinan KPK.
Perlu diteliti kembali apa yang melatarbelakangi Bambang Widjajanto, mundur dari penanganan kasus dana talangan Bank Century.
Apakah karena Bambang menghindari conflict of interest. Karena, sebelumnya komisioner bidang penindakan KPK pernah menjadi pengacara dari Lembaga Penjamin Simpanan (LPS)? apa keterkaitannya?
"Ya karena alasan itu, Pak Bambang memutuskan tidak memberi suara," kata Juru Bicara KPK Johan Budi di kantornya, Jakarta, Senin (27/8/2012) malam.
Sehingga pertanyaannya, apakah ada indikasi Bambang ingin membenturkan Polri dengan KPK? Ataukah ada sakit hati tersendiri dengan dua institusi tersebut?
Sumber Berita:
http://www.tribunnews.com/nasional/2018/10/10/ketua-kpk-penyobekan-barang-bukti-oleh-penyidik-tidak-terlihat-di-cctv
https://m.viva.co.id/amp/berita/nasional/1083032-mahfud-md-anggap-skandal-buku-merah-indonesialeaks-hoax
http://www.tribunnews.com/nasional/2012/08/28/ini-alasan-bambang-widjojanto-mundur-tangani-kasus-century
https://metro.tempo.co/read/1047034/ini-target-ketua-kpk-jakarta-bambang-widjojanto-versi-demokrat
https://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2015/01/150123_bambang_widjojanto
https://tirto.id/jejak-bambang-widjojanto-sebelum-jadi-ketua-pencegahan-korupsi-dki-cCFH
https://m.inilah.com/news/detail/2484684/soal-indoleaks-icw-belum-mau-berkomentar
#SaveKPKPolriDariHoax
Salam Indonesia Raya
Arief Luqman El Hakiem
(Pegiat Media dan Pemerhati Kebijakan Publik)
ANTARA INDONESIALEAKS DAN "BACOT MC-GREGOR"
Dunia masih heboh dengan kejadian hari Minggu (7/10/2018) silam di T-Mobile Arena, Las Vegas, dimana Conor McGregor takluk dalam pertandingan empat ronde dalam pay-per-view Ultimate Fighting Championship (UFC) 229 melawan Khabib Nurmagomedov.
Namun, bukan kekalahan McGregor yang menjadi buah bibir. Melainkan apa yang terjadi setelah laga, ketika Khabib keluar octagon setelah memanjat pagar usai sukses membikin McGregor tap out melalui neck crank submission saat ronde keempat sudah setengah jalan. Setelah keluar arena, Khabib menghajar tim petarung berjuluk The Notorious itu seorang diri.
Di saat bersamaan, ada seorang dari tim Khabib yang menyelinap masuk untuk menghajar McGregor yang sudah sempoyongan karena terus menerima pukulan dan kuncian. Dasar dari tindakan Khabib dan tim ini adalah api yang ditebar McGregor sebelum laga.
Untuk memahami kelakuan McGregor yang liar dan ugal-ugalan, terutama menjelang pertarungan melawan dengan Khabib, kita perlu melihat perilaku ini dengan kacamata berbeda. Percuma bicara moral dengan McGregor, karena bisnis adalah dasar tindakannya selama ini di UFC.
McGregor adalah seorang yang tahu bagaimana menciptakan uang melalui tindak-tanduk dan perkataannya. Dengan kontroversi, publik akan memutuskan untuk membayar demi menonton pertandingan UFC, entah secara langsung atau via livestreaming, inilah alasannya kenapa disebut pay-per-view.
Ini belum menghitung pemasukan lain seperti iklan ekslusif untuk McGregor. Inilah sebab, McGregor tak pernah mendapatkan hukuman dengan tujuan memberikan efek jera dari UFC meski bacotnya ugal-ugalan.
Hasil pertandingan, bahkan kekalahan sekalipun bukan masalah besar bagi McGregor, yang sudah meraih segalanya di UFC. Karena kekalahan dari lawan memberikan kesempatan untuk mendulang uang lebih banyak melalui pertandingan ulang. McGregor mengklaim sudah mendapatkan 50 juta dollar pada wawancara sebelum laga UFC 229 melawan Khabib.
Singkat cerita, jika Anda marah melihat kelakuan McGregor, selamat, Anda selama ini sudah sukses dikadalin. Karena di akhir cerita, petarung kelahiran Dublin itu selalu mendapatkan potongan kue yang paling enak dari setiap laga yang dia jalani.
Nah, di tanah air saat ini sedang heboh soal Buku Merah yang dirilis oleh Indonesialeaks, sebuah platform yang diinisiasi oleh Free Press Unlimited (FPU), Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, Tempo Institute dan Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara (PPMN).
Indonesialeaks dirancang sebagai platform bersama untuk menghubungkan pembocor informasi/whistle blower dengan media. Indonesialeaks tidak lebih dari tempat sampah yang memungut dokumen-dokumen surat kaleng, kemudian diolah sedemikian rupa dan dianggap sebagai produk investigasi.
Alur kerja dari Indonesialeaks ini kurang lebih mengadopsi alur kerja dari pembuatan Panama Papers dan Wikileaks (yang sekarang). Publik dapat mengirimkan dokumen rahasia ke platform ini yang dilindungi dengan fitur enkripisi sehingga kerahasiaan identitas pelapor terjamin. Kemudian, dokumen tersebut dibagikan ke media kolaborator untuk diolah, dimasak, digoreng dalam kemasan kerja jurnalistik.
Tahun 2010, dunia dihebohkan oleh Wikileaks yang menguak ratusan ribu dokumen rahasia dari kabel diplomatik Amerika Serikat bekerja sama dengan lima outlet berita dunia: Le Monde, El Pais, Der Spiegel, The Guardian dan The New York Times.
Tahun 2016, dunia diguncang lagi oleh skandal Panama Papers yang diklaim sebagai pembocoran data terbesar di sejarah pembocoran dokumen rahasia di dunia. Sekitar 11,5 Juta dokumen dengan total ukuran data sebesar 2,6 TB dari perusahaan Monssac Fonseca yang berisi tentang informasi rinci mengenai lebih dari 214.000 perusahaan luar negeri, termasuk identitas pemegang saham dan direkturnya.
Dari aspek opini dan media, rilis dari Indonesialeaks atau yang semacamnya bernilai tinggi, karena berhasil membuat heboh dunia dan menaikkan rating atau traffic. Bahkan memiliki dampak terhadap peta politik dan hubungan diplomatik.
Namun secara hukum, produk Indonesialeaks tak lebih dari sampah yang coba didaur ulang agar laku jual. Pertama, karena cara perolehan dokumen tidak legal dan tidak bisa dipertanggungjawabkan. Kedua, produk Indonesialeaks tidak bisa dijadikan barang bukti apalagi alat bukti, bahkan cenderung fitnah atau informasi seperti surat kaleng.
Namun bagi Indonesialeaks dan kompradornya, benar salah tidak penting, yang penting dunia heboh, dan tiras naik. Sama persis seperti logika berpikir McGregor dengan perilaku ugal-ugalannya.
Semua memang tentang bisnis dan uang. Gonggongan Indonesialeaks tidak ada bedanya dengan bacot McGregor. Jauh dari sebutan bermoral dan beretika.
Salam Indonesia Raya
Arief Luqman El Hakiem
(Pegiat Media dan Pemerhati Kebijakan Publik)
Kamis, 04 Oktober 2018
HOAKS DI SEKITAR ISTANA, SEJAK ERA SOEKARNO HINGGA SBY
1. Raja Idrus dan Ratu Markonah (Era Soekarno)
2. Janin Bisa Bicara (Era Soeharto)
3. Berita Tambang Emas di Busang (Era Soeharto)
4. Soewondo membobol uang Rp 35 miliar (Era Gus Dur)
5. Kabar Harta Karun Batutulis (Era Megawati)
6. Banyu Geni "Blue Energy" (Era SBY)
Jumat, 28 September 2018
SOCIAL CLIMBER, SI MELARAT BERLAGAK KONGLOMERAT
Kamu punya teman yang hobinya pamer foto dengan orang hebat, bisa pejabat, jenderal atau perwira TNI dan POLRI, artis atau publik figur lainnya ?
Dia juga suka pamerin barang-barang berharganya di media sosial?
Saat beli tas baru dia langsung pamer, Hp baru langsung pamer, sepatu baru pamer, atau saat berada di suatu tempat mewah dia langsung pamer juga.
Makan di restoran mahal pamer, nonton di bioskop film terbaru pamer, bahkan sampai ke toilet Mall saja dia pamer dengan mengunggah foto di depan cermin.
Lebih parahnya lagi, keadaan yang sebenarnya tidak berbanding lurus dengan apa yang ia pamerin di media sosial. Jika di media sosial ia memamerkan barang mewah dan kehidupan glamour, namun kenyataannya dia bukanlah seorang yang kaya. Bahkan cenderung dari golongan menengah ke bawah.
Untuk perliaku demikian biasa disebut dengan istilah Social Climbing atau Social Climber.
Apa itu penyakit jiwa social climber?
Dalam ilmu sosiologi, social climbing dimasukan ke dalam kategori mobilitas sosial, tepatnya ialah mobilitas vertikal. Pada ilmu tersebut, social climbing diartikan sebagai pergeseran atau perubahan yang terlihat meninigkat pada status maupun kedudukan. Status peningkatan strata ini bisa mencakup perorangan, dan bisa juga sekelompok orang.
Beda halnya jika kita mengartikannya dalam ranah sosial media di internet. Social climbing diartikan sebagai suatu bentuk cara dan upaya untuk memasuki kelas sosial yang lebih tinggi hanya demi pengakuan akan status sosialnya. Mereka akan menggunakan berbagai cara untuk selalu terlihat hebat di mata orang lain. Orang yang melakukan social climbing disebut juga dengan istilah social climber.
Berkembangnya suatu zaman, pastinya orang-orang akan mengikuti arus modernisasi. namun yang dilakukan oleh para social climber bikin kita geleng-geleng kepala. Mereka tak lagi mengukur kemampuan perekonomiannya, tak segan-segan mereka akan menunjukan dirinya melalui jejaring sosial diluar batas kemampuan aslinya. Tujuan utama mereka ialah hanya sekedar mencari pengakuan dan pujian, hanya itu saja.
Social climber pada dasarnya merupakan perilaku seseorang yang dilakukan untuk meningkatkan status sosialnya. Ia melakukan segala hal agar mendapat pengakuan status sosial lebih tinggi dari status yang sebenarnya.
Biasanya orang yang mengidap perilaku social climber gaya hidupnya cenderung lebih glamour dan selalu ingin terlihat mewah. Sebab dengan gaya hidup seperti itu, ia ingin mendapat pengakuan jika dia termasuk orang kaya, meskipun kondisi yang sebenarnya tidak seperti yang ia pamerkan di media sosial.
Sebenarnya tidak ada yang salah jika ingin dianggap menjadi orang kaya, namun bagi para social climber, melakukan hal tersebut dengan segala cara. Para social climber ingin terlihat kaya dengan tidak melalui sebuah proses terlebih dahulu untuk benar-benar menjadi orang kaya. Ia bahkan bisa melakukan apa saja agar mendapatkan kelas sosialnya.
Biasanya para pelaku social climber akan merasa tidak nyaman, tidak percaya diri, dan khawatir tidak diterima di lingkungannya apabila tidak tampil glamour. Akibatnya sebisa mungkin dengan berbagai cara ia lakukan agar tampil mewah.
Selalu merasa khawatir, dan tidak percaya diri saat tidak menggunakan barang-barang dengan brand ternama, merupakan gejala yang dimiliki para social climber. Inilah yang kemudian social climber bisa disebut “penyakit kejiwaan”. Ia akan merasa gelisah dan takut jika terlihat miskin, merasa minder, tidak bisa menerima kondisi dirinya pada keadaan yang sebenarnya.
Social climber berbeda dengan orang kaya yang sebenarnya, orang kaya yang melalui proses panjang penuh perjuangan, akan lebih kalem dan lebih sederhana meskipun ia memiliki uang yang lebih banyak dari para social climber. Lihat saja penampilan pemuda terkaya saat ini, Mark Zuckerberg, dia tampil sangat sederhana. Bahkan secara penampilan mungkin ia kalah mewah dari karyawan di Indonesia yang gajinya tidak lebih dari 5 juta.
Apakah penyakit social climber berbahaya?
Tentu! Social climber merupakan benih penyakit kejiwaan yang sangat berbahaya. Kita ingat kembali pembahasan diatas, para social climber bisa melakukan apa saja agar hidupnya terlihat memiliki status sosial yang tinggi dengan hal yang praktis dan tidak melalui proses.
Dari point tersebutlah para penderita social climber bisa melakukan hal-hal negatif sekalipun agar ia bisa tampil mewah. Semisal saja, pegawai negeri golongan I menginginkan hidup dengan rumah megah, mobil mewah, barang-barang keseharian yang berharga puluhan sampai ratusan juta, tentu gaji dari menjadi PNS tidak bisa mencukupi, dan jalan pintasnya kemungkinan korupsi.
Akibat dari dampak social climber, mereka tidak sedikit yang sampai melakukan penipuan untuk hidup mewah. Kita mungkin masih ingat dengan kasus beberapa waktu lalu dimana ada seorang yang membeli mobil mewah dan smartphone mahal dari uang hasil donasi yang ia kumpulkan, padahal tentu uang tersebut bukanlah haknya. Mungkin kejadian tersebut akibat social climber tadi.
Menjadi orang kaya memang tidak ada salahnya, namun harus melalui proses dan perjuangan terlebih dahulu. Selain itu meskipun uang berlimpah bukankah dengan hidup sederhana dan apa adanya keadaanmu akan membuat hidup lebih tenang?
Tampillah apa adanya, tidak perlu membohongi diri sendiri. Syukuri apa yang kamu miliki saat ini, sebab dengan bersyukur kita akan merasa cukup dan puas dengan apa yang ada di hidupmu selama ini.
Penulis : AW dari inovasee.com
Selasa, 24 Juli 2018
TERUNGKAP !!! CARA KERJA BUZZER SEBAR HOAX DAN PERANG MEDSOS (Investigasi The Guardian)
Keberadaan pasukan buzzer di dunia maya selama kontestasi politik di Indonesia menjadi perhatian media Inggris, The Guardian. Media ini pun lantas menurunkan tulisan menyoroti keberdaan tim Buzzer yang menjadi bagian dari politik yang sedang berkembang di Indonesia, membantu memecah belah agama dan ras.
Dalam tulisannya, The Guardian mewawancarai seorang anggota tim buzzer dari mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok saat bertarung dalam Pilkada DKI Jakarta 2017 lalu. Sumber yang mengaku bernama Alex itu mengatakan ia adalah salah satu dari 20 orang dalam pasukan maya rahasia yang menyebarkan pesan dari akun media palsu untuk mendukung Ahok.
"Mereka mengatakan kepada kami bahwa Anda harus memiliki lima akun Facebook, lima akun Twitter dan satu Instagram," katanya seperti dikutip dari The Guardian, Selasa (24/7/2018).
"Dan mereka mengatakan kepada kami untuk merahasiakannya. Mereka mengatakan itu adalah 'waktunya berperang' dan kami harus menjaga medan perang dan tidak memberi tahu siapa pun tentang kami bekerja," imbuhnya.
"Ketika Anda sedang berperang, Anda menggunakan apa pun yang tersedian untuk menyerang lawan. Tetapi kadang-kadang saya merasa jijik dengan diri saya sendiri," ucapnya.
Alex mengatakan timnya dipekerjakan untuk melawan banjir sentimen anti Ahok, termasuk hashtag yang mengkritik kandidat oposisi, atau menertawakan koalisi kelompok Islam.
Tim Alex, yang terdiri dari pendukung Ahok dan mahasiswa, memperoleh bayaran Rp4 juta. Mereka diduga bekerja di sebuah rumah mewah kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Masing-masing dari mereka diberitahu untuk mengirim 60 hingga 120 kali cuitan sehari di akun Twitter palsu dan beberapa kali postingan setiap hari di Facebook.
Alex mengatakan timnya terdiri dari 20 orang, masing-masing dengan 11 akun media sosial, akan menghasilkan hingga 2.400 postingan di Twitter sehari.
Operasi ini dikoordinasikan melalui grup WhatsApp bernama Special Force, atau Pasukan Khusus, yang Alex perkirakan terdiri dari sekitar 80 anggota. Tim itu memberi makan konten dan hashtag harian untuk diposting.
"Mereka tidak ingin akun tersebut menjadi anonim sehingga mereka meminta kami untuk mengambil foto untuk profil tersebut, jadi kami mengambilnya dari Google, atau terkadang kami menggunakan gambar dari teman-teman kami, atau foto dari grup Facebook atau WhatsApp," jelas Alex.
"Mereka juga mendorong kami untuk menggunakan akun wanita cantik untuk menarik perhatian pada materi; banyak akun yang seperti itu," sambungnya.
Di Facebook, mereka bahkan membuat beberapa akun menggunakan foto profil aktris asing yang terkenal, yang entah bagaimana tampak seperti penggemar Ahok. Tim siber itu diduga mengatakan "aman" untuk memposting dari markas mereka di Menteng, di mana mereka beroperasi dari beberapa kamar.
"Ruang pertama untuk konten positif, di mana mereka menyebarkan konten positif tentang Ahok. Ruang kedua adalah untuk konten negatif, menyebarkan konten negatif dan pidato kebencian tentang oposisi," rinci Alex. Alex sendiri memilih untuk berada di kamar positif.
Banyak dari akun tersebut hanya memiliki beberapa ratus pengikut, tetapi dengan mendapatkan tren hashtag mereka, setiap hari, mereka secara artifisial meningkatkan visibilitas di platform. Dengan memanipulasi Twitter, mereka memengaruhi pengguna dan media Indonesia, yang sering mengacu pada hashtag yang sedang tren sebagai barometer suasana nasional.
Mengingat bahwa Ahok kalah dalam pemilihan, dan berakhir di penjara, Alex mengatakan dia tidak dapat memastikan seberapa efektif timnya.
Ulin Yusron, juru bicara tim kampanye Ahok menolak mengomentari tuduhan tertentu tetapi mengatakan kampanye itu sangat sulit.
"Penggunaan fitnah, kebencian dan tipuan (berita palsu) sangat besar," katanya kepada Guardian.
“Secara alami, tim membentengi diri dengan pasukan pendukung, termasuk di media sosial. Itu bukan sesuatu yang baru dalam politik,” imbuhnya.
sumber : internasional.sindonews.com
Minggu, 15 Juli 2018
ZOHRI, HOAX dan EUFORIA MEDIA
![]() |
| Muhammad Zohri sujud syukur usai jadi juara |
Zohri, pemuda asal Lombok, NTB (Nusa Tenggara Barat) ini mendadak tenar dan menjadi tranding topik media dan jagat maya, tidak hanya media lokal, bahkan dunia internasional. Hampir semua orang latah, termasuk para politisi hingga pejabat negara berlomba-lomba nebeng popularitasnya.
Selasa, 10 Juli 2018
Atasi Begal dan Premanisme, Takdir Mattanete Bentuk TEKAP
Banyaknya aksi kejahatan jalanan yang meresahkan masyarakat, bahkan ada yang meninggal menjadi perhatian Polri, dan utamanya Polres Banjar. Walau di Kabupaten Banjar tergolong aman, Polres Banjar tak ingin kecolongan.
Kapolres Banjar, AKBP Takdir Mattanete mengatakan, Polres Banjar membentuk Tim Anti Fremanisme (Tekap) yang akan menghandle wilayah hukum Polres Banjar. Pihaknya lebih baik mencegah dan selama ini aman tetapi mencegah lebih bagus
“Tim ini siang malam mobile melakukan penindakan sesuai arahan pimpinan dan keinganan masyarakat tentunya rasa aman dan nyaman dari aksi fremanisme,” katanya.
Dia menjelaskan, tim dibentuk khusus ada 13 diluar Kanit dan Kasat ada personel yang dipersenjantai lengkap. Tim ini memberantas aksi fremanisme.
Dengan masa kerja yang setiap bulannya dievaluasi. Mengingat masih ada beberapa bentuk aksi fremanisme di Kabupaten Banjar yang harus diberantas seperti pencurian kecil, penjambretan, terutama daerah yang menjadi perhatian sepanjang Jalan A Yani sampai Kabupaten Tapin dan arah Pelaihari.
Takdir tidak main-main bahkan memerintahkan anggotanya untuk tembak ditempat pelaku jika membahayakan nyawa anggota dan masyarakat. Tentunya tindakan tegas yang dilakukan haruslah terukur dan tidak arogan.
Adapun rekapitulasi tahunan 2017 Satuan Reskrim dan Polsek-Polsek Polres Banjar, untuk jenis kasus pencurian dengan pemberatan ada 53 kasus, pencurian dengan kekerasan ada empat kasus, pencurian biasa 53 kasus, curanmor ada 47 kasus, percobaan pencurian ada dua kasus.
Penganiayaan ada 34 kasus, pengeroyokan ada tujuh kasus, pembunuhan dua kasus, pengancaman ada dua kasus, pemerasan satu kasus, perjudian ada 21 kasus, senjata tajam ada 36 kasus, serta meninggal dunia karena minuman keras ada satu kasus.
Kasat Reskrim Polres Banjar, AKP Sofyan didampingi Ketua Tim Tekap yang juga Kepala Unit Resmob, IPDA Nur Arifin menambahkan, disamping melaksanakan tugas dan jabatan sehari-hari juga melaksanakan tugas sebagai anggota Satgas Pemberantasan Kejahatan Jalanan untuk mengantisipasi segala bentuk kejahatan jalanan.
Tim Tekap difasilitasi lengkap dan begitu pula persenjataannya. Selain kendaraan roda dua dan roda empat, dari segi persenjataan ada laras panjang, revolver yang dimiliki semua anggota, dilengkapi pula bodyface, dan helm serta pakaian tactical.
“Anggotanya ada 12 orang dan penanggungjawab Tim Tekap langsung oleh Kapolres Banjar. Begitu dibentuk langsung bergerak,” kata Sofyan.
Nur Arifin menambahkan, berdasarkan data rekapitulasi mingguan untuk kejahatan jalanan di wilayah hukum Polsek Gambut ada empat orang, Polsek Martapura Kota ada lima orang, Polsek Mataraman satu orang, Polsek Pengaron ada dua orang. Selain disidik total ada 17 orang yang dibina.
Kepalda Desa Indrasari, A Yani secara pribadi tentunya mendukung seratus persen atas langkah Polres Banjar membentuk Tim Anti Fremanisme (Tekap). Secara tidak langsung walau tingkat kriminalitas di desa Indrasari ini tidaklah mengkhawatirkan.
Adanya Tim Tekap setidaknya bagi yang ada niat melakukan kriminalitas jalanan berpikir dua kali. Karena Tekap ini selain standbye 24 jam juga rutin patroli di wilayah hukum Polres Banjar.
“Desa Indrasari ada 1.800 kepala keluarga atau berpenduduk 6.000 lebih. Kami menyambut baik adanya Tekap ini,” katanya.
Menjadi harapannya, dengan adanya Tim Anti Fremanisme ini tentunya bisa menekan angka kriminalitas di Kabupaten Banjar. Dengan demikian warga merasa aman dan nyaman dalam beraktifitas.
Warga Martapura, Hamidah mengatakan, mendengar nama singkatannya memang masih terasa asing, tetapi tidaklah mengapa terpenting sudah ada usaha menekan kriminalitas jalanan di wilayah hukum Polres Banjar. Bagi ibu-ibu seperti dirinya tentunya menyambut bagus.
“Saya dengar ada patroli rutin juga dan ini tentunya bagus. Bagi perempuan seperti saya tidak merasa takut lagi, tetapi tetap waspada,” katanya.
Tentunya juga bisa mencegah generasi muda mengonsumsi obat-obatan terlarang seperti Zenith yang marak akhir-akhir ini".
(Arief Luqman El Hakiem / Bhayangkara Indonesia News)












